TUJUHPAGI – Di tengah kesibukan anak muda mengejar deadline, scroll TikTok, dan kerja remote, kadang urusan orang tua di rumah suka terlewat. Nah, tiga mahasiswa Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (ISTTS) punya ide yang cukup mengena di hati, yaitu membuat aplikasi buat membantu keluarga tetap terhubung sama orang tua yang sudah sepuh.
Namanya “Teman Keluarga”. Aplikasi ini bukan cuma unggul secara ide, tapi juga memenangkan kompetisi. “Teman Keluarga” sukses meraih Juara 2 di ajang Flutter Fusion Competition 2026, lomba pengembangan aplikasi tingkat nasional yang diadakan GDG Surabaya, Flutter Surabaya, dan AI/ML Surabaya.
Tim pembuatnya terdiri dari Alexander Erick, Kevin Jonathan Halim, dan Jenny Elizabeth Alim. Mereka berangkat dari keresahan sederhana, bagaimana caranya tetap bisa mengawasi kesehatan orang tua tanpa harus 24 jam di rumah.
“Teman Keluarga” akhirnya lahir sebagai aplikasi yang mencampurkan teknologi, empati, dan sedikit sentuhan AI biar tidak terlalu kaku. Fitur yang tidak sekadar canggih. Fitur-fiturnya lumayan lengkap dan terasa “manusiawi”.
Ada Medication Reminder biar orang tua tidak lupa minum obat, SOS Button buat panggilan darurat, dan Friend with AI yang bisa menemani ngobrol biar nggak kesepian.
Selain itu, ada juga Family Chat Room buat ngobrol bareng keluarga, Gamifikasi Aktivitas Harian supaya lansia tetap aktif, dan Memory Book buat menyimpan kenangan digital keluarga.
“Kami pengin bikin aplikasi yang nggak cuma fungsional, tapi juga bikin keluarga tetap dekat meski jarak jauh,” kata Alexander Erick, mewakili timnya.
Lomba yang tidak sekedar soal UI Flutter Fusion Competition ini bukan lomba biasa. Para jurinya sudah kelas internasional: Sidiq Permana (GDE Android) dan Joshua de Guzman (Flutter GDE Filipina). Mereka menilai dari inovasi, fungsi, teknologi, sampai dampak sosial.
Kompetisi ini menekankan integrasi antara Flutter (frontend), cloud computing (infrastruktur), dan kecerdasan buatan (AI). Jadi, bukan cuma soal tampilan, tapi juga soal otak di baliknya.
Dapat Dukungan dari Kampus
Prof. Dr. Ir. Esther Irawati, penasehat tim sekaligus Lead Organiser GDG Surabaya, ikut bangga. “Cara mereka menggabungkan efisiensi Flutter dengan skalabilitas cloud dan kecerdasan AI menunjukkan potensi besar generasi muda di bidang teknologi,” ujarnya.
Yanti, Humas ISTTS, juga menambahkan kalau prestasi ini bukti bahwa mahasiswa Surabaya punya daya saing tinggi di dunia pengembangan aplikasi. Bukan sekadar aplikasi, tapi gerakan kecil yang hangat dengan jumlah penduduk lansia Indonesia yang diprediksi mencapai 28 juta jiwa pada 2035, “Teman Keluarga” terasa relevan banget.
Aplikasi ini bisa jadi jembatan antara generasi yang sibuk dengan generasi yang butuh perhatian. Karena, kalau teknologi bisa bikin kita makin dekat dengan orang tua, kenapa nggak?
Editor : Ardhia Tap