TUJUHPAGI - Fenomena dopamin crash kian populer di media sosial untuk menggambarkan perasaan berdebar dan euforia saat menyukai seseorang. Istilah ini memang bukan istilah medis resmi, namun berkaitan dengan proses biologis di otak yang memicu rasa senang, antisipasi, dan dorongan emosional ketika seseorang mengalami ketertarikan romantis.
Apa Itu Dopamin Crash?
Secara sederhana, dopamin crash merujuk pada lonjakan hormon dopamin di otak saat seseorang menaruh rasa suka. Kondisi ini kerap muncul ketika menunggu balasan pesan, melihat nama orang yang disukai muncul di layar ponsel, atau menerima perhatian darinya.
Dopamin merupakan neurotransmitter yang berperan dalam sistem penghargaan (reward system) otak. Zat kimia ini tidak hanya aktif saat seseorang merasa senang, tetapi justru meningkat ketika ada antisipasi terhadap sesuatu yang menyenangkan.
Bagaimana Mekanismenya di Otak?
Dalam prosesnya, beberapa area otak seperti ventral tegmental area (VTA) dan nucleus accumbens terlibat dalam menghasilkan sensasi euforia dan dorongan untuk mengulangi pengalaman menyenangkan tersebut.
Lonjakan dopamin inilah yang membuat fase awal ketertarikan terasa intens. Seseorang bisa mengalami peningkatan energi, fokus yang menyempit pada satu sosok, hingga perasaan seolah “melayang”.
Mengapa Terasa Seperti Ketagihan?
Fenomena ini semakin kuat ketika respons dari orang yang disukai tidak menentu. Balasan pesan yang kadang cepat, kadang lambat, justru memicu rasa penasaran lebih besar.
Ketidakpastian tersebut memperkuat kerja sistem penghargaan di otak. Akibatnya, pikiran sulit lepas dari sosok tersebut, suasana hati bergantung pada responsnya, dan kecemasan muncul saat tidak ada kabar.
Secara psikologis, pola ini serupa dengan mekanisme penghargaan yang membuat seseorang terdorong untuk terus mengulang perilaku tertentu.
Perbedaan dengan Cinta yang Lebih Stabil
Pada tahap awal hubungan, dopamin cenderung dominan sehingga emosi terasa menggebu dan penuh antisipasi. Namun, ketika hubungan berkembang lebih jauh, hormon seperti oksitosin dan vasopresin berperan membangun rasa aman dan keterikatan jangka panjang.
Jika dopamin crash identik dengan gejolak dan intensitas tinggi, cinta yang matang cenderung lebih stabil, tenang, dan realistis.
Cara Menyikapi Agar Tetap Sehat
Perasaan suka merupakan hal yang wajar. Namun, jika perhatian dan emosi sepenuhnya terpusat pada satu orang hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, diperlukan pengelolaan yang bijak.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain mengurangi frekuensi mengecek media sosial, mengalihkan perhatian pada aktivitas produktif seperti olahraga atau hobi, serta membedakan antara fantasi dan kenyataan.
Menjaga rutinitas dan identitas diri di luar hubungan juga menjadi kunci agar perasaan tetap seimbang.
Fenomena dopamin crash menunjukkan bahwa rasa suka tidak hanya melibatkan emosi, tetapi juga proses kimiawi di otak. Memahami mekanismenya membantu seseorang menikmati fase ketertarikan secara wajar tanpa kehilangan kendali. Dalam keseimbangan yang tepat, perasaan tersebut dapat menjadi bagian alami dari dinamika hubungan manusia.
*Ditulis oleh Sekar Arum
Editor : Ardhia Tap