<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
            xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
            xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
            xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
            xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
            xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"><channel>
                <title>TujuhPagi - Berita Jawa Timur Terkini</title>
                <atom:link href="https://tujuhpagi.co/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
                <link>https://tujuhpagi.co/</link>
                <description>Berita terbaru dan terpercaya seputar Jawa Timur di Tujuh Pagi. Update cepat, akurat, dan mendalam tentang politik, ekonomi, budaya, serta peristiwa terkini</description>
                <lastBuildDate>Tue, 15 Sep 2026 11:23:00 +0700</lastBuildDate>
                <language>id-ID</language>
                <generator>https://tujuhpagi.co/</generator>
                <image>
                    <url>https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/logo/logo-kotak-tujuh-pagi.png</url>
                    <title>TujuhPagi - Berita Jawa Timur Terkini</title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/</link>
                </image><item>
                    <title><![CDATA[Ludruk yang Tak Mau Tua: Dendam Tuyul Pesugihan]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-149-ludruk-yang-tak-mau-tua-dendam-tuyul-pesugihan</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-149-ludruk-yang-tak-mau-tua-dendam-tuyul-pesugihan</guid>
                    <pubDate>Tue, 15 Sep 2026 11:23:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[TUJUHPAGI -  Banyak orang berjarak dengan ludruk. Itu kenapa, ludruk keliling seakan menjadi jalan lain untuk mendekat pada masyarakat.  Malam itu, ludruk d]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #843fa1;">TUJUHPAGI -&nbsp; </span></strong>Banyak orang berjarak dengan ludruk. Itu kenapa, ludruk keliling seakan menjadi jalan lain untuk mendekat pada masyarakat. &nbsp;Malam itu, ludruk datang ke Bhaskara Mulyosari tanpa tiket dan tanpa gedung pertunjukan. Cukup panggung, gamelan, pemain, dan warga yang bersedia berhenti sejenak dari kesibukan malam.&nbsp;</p>
<p>Gamelan ditabuh. Tari Remo membuka acara. Kidungan jula-juli mengalun. Setelah itu, cerita utama dimulai. Luntas datang dengan lakon Dendam Tuyul Pesugihan. <img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/photo-2026-09-14-15-09-03-3.jpg" alt="Persiapan para pemeran ludruk sebelum pentas.  Patrik Cahyo Lumintu/Tujuh Pagi" width="100%" height="auto" /></p>
<p>Robet Bayoned, nama panggung dari Erland Setiawan, pendiri Luntas, menjelaskan bahwa cerita malam itu sengaja diangkat dari kehidupan masyarakat bawah. Ludruk, katanya, selalu punya ruang untuk membicarakan persoalan yang dekat dengan orang banyak. Salah satunya pesugihan.</p>
<p>&ldquo;Ludruk itu kan selalu mengangkat cerita persoalan-persoalan masyarakat bawah. Salah satunya pesugihan. Itu tidak asing lagi, bahkan banyak dilakoni masyarakat sendiri. Makanya kita angkat sebagai pesan atau peringatan,&rdquo; ujar Robet, Minggu 13 September 2026.</p>
<p><span style="color: #236fa1;">Lakon Dendam Tuyul Pesugihan bercerita tentang Hasan,</span> seorang lelaki yang lelah menjadi orang melarat. Ia lalu mengambil jalan pintas: pesugihan tuyul. Dari yang tak punya, Hasan berubah jadi kaya. Uangnya banyak. Ia pun merasa tak lagi membutuhkan tuyul. Namun pesugihan menuntut tumbal. Selama ini, tumbalnya adalah darah perawan.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/photo-2026-09-14-15-09-04-3.jpg" alt="Pentas ludruk yang digelar gratis keliling kampung oleh LUNTAS merupakan titik ke 10 atau lokasi terakhir dalam rangkaian Ludruk Merdeka volume 5 itu bertujuan untuk melestarikan kesenian ludruk kepada generasi muda di tengah maraknya era digitalisasi. Patrik Cahyo Lumintu/Tujuh Pagi" width="100%" height="auto" /></p>
<p>Pada suatu ketika, Hasan mendapat calon tumbal seorang gadis. Karena kecantikan gadis itu, Hasan jatuh cinta. Niat semula menjadikannya tumbal pun batal. Hasan berpikir, ia sudah kaya dan tak butuh tuyul lagi. Tetapi risiko tak bisa ditawar. Dukun dan tuyulnya ngamuk. Anak Hasan akhirnya meninggal, diambil tuyul itu.</p>
<p>&ldquo;Dari situ menjadi pelajaran bagi masyarakat. Kalau ingin kaya, ya bekerja. Jalan pintas itu selalu ada risiko-risiko,&rdquo; kata Robet</p>
<p>Pesannya sederhana. Tetapi justru karena sederhana, ia mudah sampai. Ludruk memang tidak hanya menghadirkan tawa. Ia juga membawa persoalan sehari-hari ke panggung: kemiskinan, keserakahan, godaan kekayaan, dan harga yang harus dibayar ketika seseorang memilih jalan yang keliru.</p>
<h2>Ludruk yang Berkeliling Kampung</h2>
<p>Setiap tahun, Luntas mendatangi 10 kampung di Surabaya dan Sidoarjo. Sejak 2022 hingga 2026, sudah lima volume digelar. Artinya, 50 kampung pernah menjadi tuan rumah.</p>
<p>&ldquo;Ludruk Merdeka memang momentum keliling kampung. Kami mulai sekitar 16 atau 17 Agustus untuk memperingati Hari Kemerdekaan. Karena itu namanya Ludruk Merdeka,&rdquo; kata Robet.</p>
<p>Luntas berdiri pada 2016 di Kampung Seni THR. Tempat itu kini sudah tidak ada. Namun kegelisahan yang melahirkan Luntas masih ada: penonton ludruk semakin berkurang. Luntas lalu mencoba membuat ludruk dengan kemasan baru. Namanya diambil dari daun beluntas.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/photo-2026-09-14-15-09-03-4.jpg" alt="Pentas ludruk yang digelar gratis keliling kampung oleh LUNTAS merupakan titik ke 10 atau lokasi terakhir dalam rangkaian Ludruk Merdeka volume 5 itu bertujuan untuk melestarikan kesenian ludruk kepada generasi muda di tengah maraknya era digitalisasi. Patrik Cahyo Lumintu/Tujuh Pagi" width="100%" height="auto" /></p>
<p>&ldquo;Daun beluntas itu tanaman semak yang manfaatnya banyak. Bisa menjadi obat, termasuk untuk mengurangi bau badan. Kami berharap Luntas menjadi obat kerinduan bagi penggemar ludruk,&rdquo; ujar Robet.</p>
<p><span style="color: #236fa1;">Beluntas juga kerap ditanam sebagai pagar rumah. Dari situlah muncul harapan lain: Luntas bisa menjadi pagar bagi kesenian ludruk agar tidak hilang.</span></p>
<p>Daun beluntas dapat dimakan sebagai lalapan atau diolah menjadi botok. Bisa dikonsumsi siapa saja. Begitu pula Luntas. Mereka tidak ingin menjadi ludruk untuk orang tua saja. Anak-anak dan generasi muda juga harus bisa menikmatinya. Materi pertunjukannya dibuat lebih edukatif.</p>
<p>&ldquo;Lawan kami bukan ludruk konvensional yang mengandalkan hal porno, jorok-jorokan, atau saling menyakiti. Kami memilih materi yang edukatif,&rdquo; kata Robet.</p>
<p>Namun kemasan baru tidak berarti meninggalkan pakem lama. Gamelan tetap dimainkan. Tari Remo tetap menjadi pembuka. Kidungan jula-juli tetap hadir sebelum cerita utama. Yang berubah adalah cara menyampaikannya.</p>
<p>Ada komedi yang lebih segar. Ada<em> black comedy</em>. Ada efek suara. Ada pula berbagai sentuhan panggung yang lebih dekat dengan selera penonton hari ini.</p>
<p>&ldquo;Tampilannya harus segar. Materi guyonannya juga harus segar. Kami menggunakan komedi modern, tetapi pakem tetap dipertahankan. Gamelan tetap menjadi pakem,&rdquo; ujarnya.</p>
<h2>Belajar dari Gen Z</h2>
<p>Muhammad Dipanegara Surya Wijaya termasuk penonton yang baru pertama kali melihat ludruk di Perumahan Bhaskara. Ia datang sebagai bagian dari generasi Z. Pulang dengan pengalaman baru.</p>
<p>&ldquo;Warga senang sekali. Banyak yang terhibur. Ini pertama kalinya Bhaskara menjadi tuan rumah teman-teman Luntas,&rdquo; kata Dipanegara.</p>
<p>Menurut dia, ludruk mampu membawa persoalan masyarakat ke atas panggung tanpa terasa menggurui. Cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari disampaikan melalui tawa.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/efde2271-8e54-41c3-b59e-aa38deddaffc.jpg" alt="LUNTAS menggelar pertunjukan tersebut untuk merawat kesenian ludruk dan mengenalkannya kepada generasi muda di tengah derasnya era digitalisasi. Patrik Cahyo Lumintu/Tujuh Pagi" width="100%" height="auto" /></p>
<p>&ldquo;Pesannya, kekayaan terbaik adalah ketika kita berusaha hingga sukses dengan mengandalkan Tuhan. Kalau melakukan hal yang dilarang Tuhan, seperti pesugihan, pasti ada akibatnya,&rdquo; ujarnya.</p>
<p>Pesan lain, katanya, adalah agar manusia tidak berhenti berusaha, bekerja, dan berikhtiar. Di situlah ludruk menemukan kekuatannya. Ia bisa menyampaikan nasihat tanpa harus berdiri sebagai guru. Cukup melalui tokoh yang salah langkah. Cukup melalui cerita yang membuat penonton tertawa. Lalu, perlahan, penonton diajak berpikir.</p>
<h2>Tidak Mau Ketinggalan Zaman</h2>
<p>Robet memahami bahwa ludruk tidak bisa terus-menerus menunggu penonton datang. Ludruk harus mendatangi penonton. Ia juga tidak bisa hanya mengandalkan cara lama. Dunia sudah berubah. Anak-anak muda mengenal cerita melalui gawai, video pendek, dan berbagai platform digital.</p>
<p>Karena itu, ludruk perlu ikut bergerak.</p>
<p>&ldquo;Kami hanya berupaya mengenalkan kembali ludruk kepada generasi Z yang sudah tertinggal pengetahuannya tentang seni budaya, khususnya ludruk,&rdquo; ujar Robet.</p>
<p>Malam di Bhaskara Mulyosari akhirnya selesai. Gamelan berhenti. Lampu panggung meredup. Para pemain kembali membereskan perlengkapan. Namun cerita tentang Hasan, tuyul, pesugihan, dan jalan pintas belum benar-benar selesai. Ia pulang bersama penonton.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/photo-2026-09-14-15-09-03-2.jpg" alt="" width="100%" height="auto" /></p>
<p>Ludruk tidak mati. Ia hanya perlu menemukan cara baru untuk bertemu dengan penontonnya. Di titik terakhir Ludruk Merdeka Volume 5, Luntas menunjukkan satu hal: tawa dan nasihat masih bisa duduk berdampingan di panggung yang sama.</p>
<p>Seperti sepenggal puisi berjudul bersiap menonton ludruk, karya Dadang Ari Murtono :</p>
<p style="text-align: center;"><em>"bersiap menonton ludruk adalah bersiap bersedih sebab malam mempunyai bujukannya sendiri dalam kantuk, nyamuk, hantu perokok tanpa kepala, dan ancaman pencopet yang keras kepala dan hanya dia yang memiliki hati teguh akan bersungguh tetap duduk berkenun saung di depan panggung&rdquo;</em></p>
<p>Bahkan mungkin, itulah cara ludruk tetap muda. (Pat)</p>
<p>&nbsp;</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/photo-2026-09-14-15-09-04-2.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Seniman dari Ludrukan Nom-noman Tjap Arek Soeroboio (LUNTAS) mementaskan ludruk berlakon &quot;Dendam Tuyul Pesugihan&quot; di Perumahan Bhaskara Mulyosari, Surabaya. 
Foto: Patrik Cahyo Lumintu/Tujuh Pagi]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Ardhia Tap]]></dc:creator><category><![CDATA[Liputan]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[216 Tahun Gereja Kepanjen Surabaya, Pamerkan Benda Liturgi untuk Publik]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-148-216-tahun-gereja-kepanjen-surabaya-pamerkan-benda-liturgi-untuk-publik</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-148-216-tahun-gereja-kepanjen-surabaya-pamerkan-benda-liturgi-untuk-publik</guid>
                    <pubDate>Sat, 12 Sep 2026 07:00:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Pameran terbuka pertama Galeri Kelsapa menghadirkan batu bata 1899 hingga monstrans, mengajak umat dan publik mengenang perjalanan gereja tertua di Surabaya.]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #236fa1;">TUJUHPAGI </span></strong>&nbsp;&mdash; Sore di kawasan Kepanjen tidak hanya menyisakan jejak sejarah pada dinding bangunan tua. Di salah satu sudut ruang, deretan benda liturgi tertata rapi di balik lembaran kaca.</p>
<p>Ada batu bata sisa pembangunan gereja tahun 1899&ndash;1900, guci liturgi, kasula, wadah minyak suci, monstrans, kempo, lenthera, perlengkapan meja altar, hingga tempat lilin altar.</p>
<p>Semuanya bukan sekadar artefak. <span style="color: #b96ad9;">Benda-benda itu</span> pernah hidup dalam doa, misa, dan perjalanan iman sebuah komunitas yang kini <span style="color: #b96ad9;">berusia 216 tahun.</span></p>
<p><span style="color: #b96ad9;"><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/405e74de-868c-4e69-9ff3-6cf141c96459.jpeg" alt="Pameran terbuka pertama Galeri Kelsapa menghadirkan batu bata 1899 hingga monstrans, mengajak umat dan publik mengenang perjalanan gereja tertua di Surabaya. (Sumber Foto: Patrick L)" width="100%" height="auto" /></span></p>
<p>Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria Surabaya&mdash;yang dikenal sebagai Kelsapa atau Gereja Kepanjen&mdash;tengah merayakan ulang tahunnya.</p>
<p>Misa syukur telah digelar pada 8 September 2026, bertepatan dengan hari kelahiran Santa Perawan Maria. Perayaan itu menjadi momen syukur atas perjalanan panjang gereja yang disebut-sebut sebagai gereja paling tertua di Surabaya.</p>
<p>&ldquo;Kita bersyukur bahwa gereja ini sudah berjalan, dari yang belum ada menjadi berproses menjadi ada, sehingga bisa berjalan dan bertahan usianya 216 tahun,&rdquo; ujar Emanuel Kristjanto, Sekretaris Dewan Pastoral Paroki dan Badan Gereja Katolik Paroki Kelsapa.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/bfa14518-c145-4bd0-937e-78ccb6b6cef7.jpeg" alt="Bukan hanya sejarah, pameran ini juga tentang rahmat yang diwariskan dari generasi ke generasi. (Sumber Foto: Patrick L)" width="100%" height="auto" /></p>
<p>Emanuel menuturkan, perjalanan gereja ini tidak lepas dari peran para pendahulu: para imam dan misionaris yang datang pada 1800-an dan 1900-an.</p>
<p>Dari tangan mereka, umat awal dibaptis dan komunitas iman tumbuh. Awalnya bukan dari pribumi, melainkan dari keluarga para imam dan utusan yang tinggal di Surabaya pada masa kolonial Belanda. Dari situ, jemaat berkembang hingga seperti sekarang.</p>
<p>Perayaan 216 tahun tidak berhenti pada misa syukur. Pada Sabtu, 12 September 2026, pukul 18.00, Gereja Kelsapa akan menggelar perayaan bersama umat dan perwakilan Kevikepan Surabaya Utara. Acara itu akan diisi talenta anak muda, tarian, hiburan, dan makan bersama.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/cff00259-0603-495e-b870-fc1408357c1d.jpegS" alt="Setiap koleksi punya cerita, ada yang selamat dari kebakaran, tapi tetap kembali menjadi bagian dari misa. (Sumber Foto: Patrick L)" width="100%" height="auto" /></p>
<p>Namun, salah satu yang paling menyita perhatian adalah pameran museum atau Galeri Kelsapa. Untuk pertama kalinya, benda-benda liturgi dan sarana prasarana yang dulu dipakai para misionaris dipamerkan secara terbuka.</p>
<p>Sebelumnya, koleksi itu tersimpan di museum dalam Balai Paroki. Kini, benda-benda tersebut &ldquo;dikeluarkan&rdquo; dari ruang terbatas agar bisa dilihat lebih banyak orang.</p>
<p>&ldquo;Ini baru pertama kali dalam bentuk pameran terbuka seperti ini,&rdquo; kata Emanuel.</p>
<p>Pameran bertema Gratia&mdash;<span style="color: #b96ad9;">yang berarti rahmat</span>&mdash;berlangsung 8 hingga 20 September 2026. Emanuel menjelaskan, tujuan pameran bukan hanya untuk umat Katolik atau Kristen, tetapi terbuka untuk umum.</p>
<p>Publik diajak mengenal benda liturgi yang biasa dipakai dalam ibadat dan misa, sekaligus menghargai perjuangan para pendahulu.</p>
<p>&ldquo;Karena kita harus menghargai, menghormati para pendahulu. Bagaimana mereka berproses, berdinamika, bertemu dengan sesama iman, bertemu dengan lintas agama. Itu sebuah perjuangan,&rdquo; tuturnya.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/5bd79a30-cb7e-4599-9bee-28a39c0639ef.jpeg" alt="Surabaya, Kepanjen : 8 hingga 20 September 2026, tempat benda tua bertemu doa yang baru." width="100%" height="auto" /></p>
<p>Di ruang pamer, nuansa Jawa sengaja dihadirkan. Ada topi, simbol-simbol budaya, dan alunan musik yang menyertai. Pameran ini tidak dibangun seperti museum yang kaku, melainkan seperti ruang yang hangat: tempat benda-benda tua bercerita, dan tempat orang-orang muda menuliskan harapan.</p>
<p>Salah satu bagian pameran adalah pohon anggur. Cabang-cabangnya menjadi tempat umat menggantungkan untaian doa dan ekspektasi. Isinya bebas: harapan untuk gereja 10&ndash;15 tahun ke depan, doa untuk keluarga, kelancaran studi, hingga permohonan bagi orang tua.</p>
<p>&ldquo;Kebaikan tidak kita miliki sendiri, syukur kita tidak miliki sendiri, tetapi bagaimana itu juga dirasakan dan dimiliki sesama kita yang lain,&rdquo; ujar Emanuel.</p>
<p>Bagi Fransiska Sindi Num, pengunjung dari SMP Stella Maris Surabaya, pameran ini menyentuh karena memperlihatkan perjalanan panjang yang tidak sederhana.</p>
<p>Ia mengaku terkesan pada benda-benda liturgi yang usianya sudah puluhan tahun, bahkan ada yang pernah selamat dari kebakaran.</p>
<p>&ldquo;Bagiku ini sangat berkesan karena ada perjalanannya. Ini sudah lama banget. Ada yang habis kebakaran juga masih ada di sini. Ini suatu hal yang harus kita kenang karena punya cerita tersendiri,&rdquo; kata Fransiska.</p>
<p>Ia menyebut monstrans&mdash;benda yang biasa digunakan dalam adorasi, tirakatan, dan Kamis Putih&mdash;sebagai salah satu koleksi yang paling membekas. Ia berharap generasi muda tidak melupakan warisan gereja ini.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/ff68c85d-08f6-4be4-9c78-3cda8d7c41c3.jpeg" alt="Gratia 216 tahun gereja Kepanjen Surabaya, benda liturgi yang dulu berdoa, kini bercerita melalui pameran terbuka, (Sumber Foto: Patrick L)" width="100%" height="auto" /></p>
<p>&ldquo;Semoga kalian bisa memajukan, melestarikan Gereja Katolik ini yang sudah berdiri 216 tahun. Semoga bangga, karena aku juga dari kecil di sini,&rdquo; ujarnya.</p>
<p>Gereja Kepanjen memang bukan hanya tempat ibadah. Ia telah menjadi cagar budaya dan salah satu ikon wisata Kota Surabaya. Banyak wisatawan lokal dan mancanegara datang mengunjunginya.</p>
<p>Lewat pameran Gratia, gereja tertua di Surabaya itu membuka pintu lebih lebar: bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi juga merawat harapan yang digantungkan di dahan-dahan pohon anggur.</p>
<p>Di usia 216 tahun, Kelsapa masih berdiri. Dan benda-benda liturgi yang dipamerkan itu seolah berkata: iman tidak hanya diwarisi, tetapi juga dirawat dari generasi ke generasi. (Pat)</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/58294fb9-5695-4c4e-b911-660c1eb68efa.jpeg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Pameran terbuka pertama Galeri Kelsapa menghadirkan batu bata 1899 hingga monstrans, mengajak umat dan publik mengenang perjalanan gereja tertua di Surabaya. (Sumber Foto : Patrick L)]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Ardhia Tap]]></dc:creator><category><![CDATA[Liputan]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Posyandu dan MBG: Ketika Kacang Hijau Mengajari Negara Mengurus Gizi]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-147-posyandu-dan-mbg-ketika-kacang-hijau-mengajari-negara-mengurus-gizi</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-147-posyandu-dan-mbg-ketika-kacang-hijau-mengajari-negara-mengurus-gizi</guid>
                    <pubDate>Wed, 09 Sep 2026 14:19:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[TUJUHPAGI - Mari kita sepakati satu hal: kenangan masa kecil kita soal gizi dari negara tidak pernah jauh-jauh dari mangkuk plastik berisi bubur kacang hijau ]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #236fa1;">TUJUHPAGI -&nbsp;</span></strong>Mari kita sepakati satu hal: kenangan masa kecil kita soal gizi dari negara tidak pernah jauh-jauh dari mangkuk plastik berisi bubur kacang hijau di Posyandu. Aromanya khas, perpaduan antara pandan, santan, dan aroma minyak kayu putih dari ibu-ibu PKK yang sibuk menimbang balita di dacin.</p>
<p>Sekarang, anak-anak kita berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih kolosal: program Makan Bergizi Gratis (MBG). Anggarannya puluhan triliun. Rapatnya sampai ke tingkat menteri. Kalau kacang hijau Posyandu itu ibarat film Warkop DKI yang sederhana tapi selalu sukses bikin bahagia, MBG ini ibarat film Hollywood: budget raksasa, kru di mana-mana, tapi kita sebagai penonton masih was-was apakah ending-nya bakal memuaskan atau malah flop.</p>
<p>Membandingkan keduanya memang agak kurang apple to apple. Lebih mirip membandingkan buah apel dengan, apelan malam minggu ke rumah mertua. Sama-sama bikin deg-degan, beda di ongkosnya (maaf, jokes bapak-bapak tahun 90-an harus keluar sedikit biar kita tidak terlalu tegang memikirkan APBN).</p>
<p>Tapi esensinya sama: negara ingin warganya bergizi. Dulu, balita dicekoki kacang hijau agar tidak kurang gizi dan berat badannya ideal. Sekarang, anak sekolah dikasih makan siang agar otaknya siap menyerap pelajaran, bukan cuma menyerap memori buruk di sekolah. Semangatnya amat sangat mulia.</p>
<p>Lalu, di mana letak kerumitannya? Jelas di skala dan logistik.</p>
<p>Waktu zaman Posyandu, rantai pasoknya sangat pendek. Ibu RT belanja ke pasar pagi-pagi, dimasak bareng ibu-ibu tetangga, menjelang siang langsung dibagikan. Kalau buburnya keenceran karena santannya kurang, atau kacang hijaunya masih 'keras kepala', belum empuk, sanksi sosialnya langsung turun hari itu juga. Ibu RT bisa jadi bahan pergunjingan satu kelurahan sampai bulan depan.</p>
<p>Sadar atau tidak, ini adalah sistem pengawasan antikorupsi paling mutakhir dan real-time yang pernah diciptakan peradaban manusia: mulut emak-emak.</p>
<p>Nah, MBG tidak sesederhana itu. Ini menyangkut puluhan juta mulut, setiap hari. Di Jawa Timur saja, bayangkan alur distribusinya dari sekolah di tengah kota yang panasnya minta ampun, sampai ke madrasah-madrasah di lereng pegunungan. Ada proses pengadaan, ada tender katering, ada vendor beras, vendor telur, sampai vendor kotak makan.</p>
<p>Di sinilah hukum fisika birokrasi kita kerap berlaku: semakin panjang meja birokrasinya, semakin banyak 'gizi' anggaran yang menguap sebelum jadi nasi. Ibarat menu ayam goreng, dari atas ukurannya paha utuh, turun ke provinsi jadi sayap, turun ke kabupaten jadi ceker, sampai di meja anak sekolah tinggal remah-remah kremesan.</p>
<p>Pertanyaannya, kenapa ayam menyeberang jalan? Ya karena di seberang ada tender katering. (Oke, ini jokes receh kedua, saya janji ini yang terakhir).</p>
<p>Titik rawan korupsinya justru ada di sentralisasi dan proses penunjukan pihak ketiga berskala besar. Kalau MBG diserahkan pada korporasi besar yang menang tender, orientasinya murni margin keuntungan.</p>
<p>Lalu bagaimana solusinya? Ya kembali saja ke "Khittah Posyandu".</p>
<p>Kuncinya adalah desentralisasi ekstrem. Jangan biarkan MBG dimonopoli oleh perusahaan katering besar tingkat provinsi atau kabupaten. Pecah anggarannya langsung ke titik-titik terkecil. Berdayakan warung-warung lokal, komite sekolah, atau bahkan kelompok PKK di sekitar sekolah. Peternak telur dan petani sayur lokal di desa tersebut langsung dijadikan penyuplai utama.</p>
<p>Ketika yang memasak adalah warga sekitar, dan yang makan adalah anak-anak dari tetangga mereka sendiri, ada tanggung jawab moral yang mengikat. Kalau telur dadarnya bau tengik atau nasinya keras, yang protes langsung orang tua murid ke tetangganya. Social control-nya hidup. Uang negara pun berputar tepat di warung dan pasar sebelah sekolah, bukan lari ke ibu kota.</p>
<p>Dengan mengadopsi mekanisme organik dan transparan ala kacang hijau Posyandu, program MBG bisa selamat dari penyakit kronis proyek pemerintah: kebocoran. Biarlah yang bocor cukup ban motor kita saja saat berangkat kerja, jangan sampai gizi anak bangsa ikut-ikutan bocor di tengah jalan. (Kur)</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/img8779.jpeg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Sumber gambar : suasana Posyandu tahun 1990 an, ilustrasi buatan AI.]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Opini]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Wajah Baru Warung Kopi Masa Kini di Surabaya]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-146-wajah-baru-warung-kopi-masa-kini-di-surabaya</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-146-wajah-baru-warung-kopi-masa-kini-di-surabaya</guid>
                    <pubDate>Mon, 07 Sep 2026 07:00:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[TUJUHPAGI - “Ngobrol di warung kopi, nyentil sana dan sini. Sekadar suara rakyat kecil, bukannya mau usil. Sambil minum kopi, ngobrol sana-sini. Sambil n]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #236fa1;"><strong>TUJUHPAGI</strong></span> - <span style="font-size: 1.1rem;">&ldquo;<span style="color: #b96ad9;"><em>Ngobrol di warung kopi, nyentil sana dan sini. Sekadar suara rakyat kecil, bukannya mau usil. Sambil minum kopi, ngobrol sana-sini. Sambil ngaduk-aduk kopi, jangan bawa ke hati.&rdquo;</em></span></span></p>
<p>Lirik lagu Dono Kasino Indro itu seperti merekam wajah warung kopi pada satu masa. Warkop adalah tempat orang duduk santai, menyeruput kopi, lalu membicarakan apa saja. Dari harga kebutuhan pokok sampai politik. Dari urusan kantor sampai kisah tetangga.</p>
<p>Obrolannya bisa serius. Bisa juga sekenanya. Kadang menyentil. Kadang menyindir. Tetapi semuanya selesai di meja kopi. Tidak perlu dibawa pulang. Apalagi dibawa ke hati.</p>
<p>Kini, suasana warung kopi mulai berubah. Orang tetap datang untuk minum kopi, tetapi tidak selalu untuk mengobrol. Sebagian datang membawa ponsel, memasang earphone, lalu masuk ke arena permainan digital.</p>
<p>Mereka menyebutnya mabar&mdash;main bareng.</p>
<p><span style="font-size: 1.1rem;">Di satu meja, beberapa anak muda duduk berdekatan. Namun mata mereka tertuju pada layar masing-masing. Jari-jari bergerak cepat. Sesekali terdengar suara pendek.</span></p>
<p>&ldquo;Serang!&rdquo;</p>
<p>&ldquo;Tunggu!&rdquo;</p>
<p>Percakapan di antara mereka memang tetap ada. Hanya saja, bahasanya bukan lagi soal kabar kampung atau politik kantor. Bahasa itu menjadi bahasa permainan: strategi, skor, lawan, dan kemenangan.</p>
<p>Adji, salah satu pelanggan yang biasa nongkrong di warung kopi, melihat perubahan itu sebagai sesuatu yang wajar.</p>
<p>&ldquo;Dulu ke warkop memang lebih banyak ngobrol. Sekarang orang datang bisa untuk mabar, kerja, atau sekadar buka media sosial. Tapi intinya tetap sama mas, ingin berkumpul atau ketemu teman,&rdquo; kata Adji.</p>
<p>Menurut Adji, mabar juga tidak selalu membuat orang benar-benar diam. Di sela permainan, obrolan tetap muncul. Bahkan, dari permainan itu sering lahir pertemanan baru.</p>
<p>Adji mengaku tidak ikutan mabar. Di usianya yang tidak lagi muda, warung kopi baginya masih&nbsp;</p>
<p>&nbsp;yang sama. Tempat bertemu teman dengan percakapan percakapan ringan setiap hari.&nbsp;</p>
<h2>Warkop yang Berubah, Kebiasaan yang Bergeser</h2>
<p>Dulu, warung kopi menjadi ruang untuk bertukar cerita. Orang datang dengan persoalan masing-masing, lalu membaginya di meja yang sama.</p>
<p><span style="font-size: 1.1rem;">Tidak ada layar yang memisahkan. Tidak ada koneksi internet yang harus dicari. Yang ada hanya kopi, rokok, kursi panjang, dan percakapan yang mengalir tanpa agenda.</span></p>
<p>Sekarang, warkop menjadi ruang yang lebih beragam. Ada yang datang untuk ngobrol. Ada yang bekerja dengan laptop. Ada yang rapat melalui panggilan video. Ada pula yang sengaja mencari tempat untuk mabar.</p>
<p>Warkop tidak lagi hanya menjual kopi. Ia menjual waktu dan suasana.</p>
<p>Karena itu, colokan listrik dan jaringan Wi-Fi mulai menjadi fasilitas yang sama pentingnya dengan gula dan sendok. Pelanggan bisa duduk berjam-jam dengan secangkir kopi di samping ponsel.</p>
<p>Pemilik warkop tentu menghitung perubahan ini. Pelanggan yang tinggal lama berarti ruang yang terpakai lebih panjang. Namun, mereka juga berpotensi memesan lebih banyak makanan dan minuman.</p>
<p>Di sinilah warkop beradaptasi. Ia harus menerima bahwa pelanggan datang dengan kebiasaan yang berbeda-beda.</p>
<h2>Dari Obrolan ke Layar</h2>
<p>Pergeseran dari ngobrol ke mabar bukan berarti budaya berkumpul telah hilang. Yang berubah adalah cara orang berinteraksi.</p>
<p>Generasi sebelumnya membangun kedekatan melalui percakapan langsung. Generasi sekarang bisa memulainya melalui permainan digital.</p>
<p>Dulu, seseorang mungkin dikenal karena sering duduk di meja yang sama. Kini, seseorang bisa dikenal lebih dulu melalui nama pengguna di dalam gim.</p>
<p>Namun, ada yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh layar: ekspresi wajah, tawa spontan, dan keheningan ketika seseorang sedang mendengarkan cerita orang lain.</p>
<p>Karena itu, warkop tetap memiliki pekerjaan rumah. Ia perlu menjadi tempat yang nyaman bagi pelanggan yang datang untuk mabar, tetapi tidak kehilangan fungsi sebagai ruang percakapan.</p>
<p>Adji berharap warkop tidak sepenuhnya berubah menjadi ruang digital.</p>
<p>&ldquo;Kalau bisa, tetap ada tempat untuk ngobrol langsung. Mabar boleh, main HP boleh, tapi sesekali ya ngobrol juga. Bagaimanapun, kita datang ke warkop bukan cuma untuk kopinya,&rdquo; katanya.</p>
<p>Warung kopi memang terus berubah. Dulu orang membawa koran. Kemudian membawa ponsel. Sekarang membawa gim dan koneksi internet.</p>
<p>Tetapi alasan orang datang sebenarnya masih sama: ingin bertemu, ingin ditemani, dan ingin merasa tidak sendirian.</p>
<p>Dono, Kasino, Indro menyanyikan lirik tentang warung kopi sebagai tempat untuk ngobrol dan menyampaikan suara rakyat kecil. Hari ini, suara itu mungkin bercampur dengan bunyi notifikasi dan seruan dari permainan.</p>
<p>Kopinya tetap diaduk. Obrolannya berganti bentuk. Dan seperti pesan dalam lagu itu, apa pun yang dibicarakan di warkop, jangan dibawa ke hati. (Kur)</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/img8732.jpeg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Suasana salah satu warung kopi di Surabaya. (Sumber Foto: Atap)]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Liputan]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Tari dan Dansa, Jejak Budaya Nusantara dan Eropa]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-145-tari-dan-dansa-jejak-budaya-nusantara-dan-eropa</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-145-tari-dan-dansa-jejak-budaya-nusantara-dan-eropa</guid>
                    <pubDate>Thu, 03 Sep 2026 15:34:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[TUJUHPAGI - Kita sering mencampuradukkan tari  dan dance. Tari modern disebut dance. Sanggar tari disebut dance studio. Tidak ada yang merasa sedang melakukan ]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #843fa1;">TUJUHPAGI - </span></strong>Kita sering mencampuradukkan <em>tari</em>&nbsp; dan <em>dance. </em>Tari modern disebut dance. Sanggar tari disebut dance studio. Tidak ada yang merasa sedang melakukan kesalahan. Bahasa memang selalu bergerak. Ia mengikuti zaman, seperti tubuh mengikuti irama.</p>
<p>Namun, ada satu hal yang menarik jika kita menengok ke masa kolonial Hindia Belanda: bangsa Eropa datang membawa banyak hal&mdash;bahasa, pakaian, tata ruang, gaya hidup, juga kebiasaan berdansa. Tetapi seni gerak tubuh Nusantara tidak ikut berganti nama.</p>
<p><span style="color: #236fa1;">Ia tetap disebut tari, bukan dansa.</span></p>
<p>Di situlah sejarah kecil ini menjadi menarik. Sebab bertahannya kata tari bukan semata-mata urusan kosakata. Di baliknya ada jarak sosial, perbedaan pandangan tentang tubuh, serta kemampuan kebudayaan lokal untuk menerima pengaruh asing tanpa kehilangan namanya sendiri.</p>
<h3>Dansa di Balik Pintu Societeit</h3>
<p>Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, dansa hidup di ruang-ruang yang tidak terbuka untuk semua orang.</p>
<p>Di Batavia, ada Societeit de Harmonie. Di Surabaya, ada Societeit Simpang. Dalam Jurnal Laras Aulia Mukti dan Wisnu dari Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang berjudul Komunitas Elite Eropa Di Surabaya Tahun 1870-1942, Societeit (atau sering disebut soos) adalah perkumpulan sosial serta bangunan tempat berkumpulnya kalangan elite pada masa kolonial Belanda.&nbsp;</p>
<p>Gedung-gedung itu bukan sekadar tempat orang menari. Ia adalah ruang pergaulan kaum Eropa, tempat orang bertemu, berbincang, membangun jaringan, bahkan melakukan lobi politik.</p>
<p>Di bawah lampu kristal dan diiringi musik dari negeri jauh, dansa menjadi tanda kelas sosial.</p>
<p>Siapa yang boleh masuk ke dalamnya? Bukan sembarang orang. Kaum bumiputra umumnya berada di luar pagar. Hanya sebagian kecil elite priyayi yang memperoleh kesempatan untuk bergaul dalam lingkungan Eropa.</p>
<p>Kolonialisme memang menciptakan pertemuan. Tetapi pertemuan itu tidak selalu berarti percampuran.</p>
<p>Ada tembok yang membatasi. Ada aturan yang tidak tertulis. Ada ruang untuk penguasa dan ruang untuk yang dikuasai.</p>
<p>Akibatnya, dansa tumbuh sebagai kebudayaan kaum elite kolonial. Sementara itu, tari, joget, tandak, dan berbagai kesenian gerak Nusantara terus hidup di alun-alun, balai desa, pelataran keraton, dan ruang-ruang komunal milik masyarakat.</p>
<p><span style="color: #236fa1;">Dansa berada di balik pintu Societeit. Tari tetap berjalan di tengah rakyat.</span></p>
<h3>Tubuh yang Berbeda Cara Berbicara</h3>
<p>Perbedaannya bukan hanya pada tempat. Tari Nusantara dan dansa Eropa juga lahir dari cara pandang yang berbeda terhadap tubuh, ruang, dan hubungan manusia dengan alam.</p>
<p>Prof. R.M. Soedarsono menjelaskan bahwa tari tradisional Indonesia memiliki beragam fungsi: ritual keagamaan, hiburan masyarakat, dan pertunjukan estetis di lingkungan istana.</p>
<p>Dalam banyak tradisi Nusantara, tubuh tidak sekadar dipakai untuk menghasilkan gerakan yang indah. Tubuh menjadi bagian dari hubungan yang lebih besar&mdash;hubungan manusia dengan leluhur, alam, masyarakat, dan kekuatan yang dipercaya berada di luar dirinya.</p>
<p>Gerak menunduk dapat berarti penghormatan. Langkah yang perlahan dapat berarti pengendalian diri. Posisi tubuh yang merendah dapat menunjukkan bahwa manusia bukan pusat dari seluruh semesta.</p>
<p>Dalam kebudayaan Jawa, misalnya, kehalusan gerak bukan berarti kelemahan. Ia adalah disiplin. Ia adalah cara tubuh berbicara tanpa suara.</p>
<p><span style="color: #236fa1;">Dansa Eropa membawa tata pergaulan yang lain. Ia berkembang sebagai tari sosial: dilakukan berpasangan, mengikuti irama musik, dan dalam banyak bentuk melibatkan kedekatan fisik antara laki-laki dan perempuan.</span></p>
<p>Di ruang dansa, tubuh bergerak dalam hubungan yang lebih personal. Di banyak ruang tari Nusantara, tubuh bergerak sebagai bagian dari upacara, cerita, kelompok, atau tatanan simbolik.</p>
<p>Tentu saja, perbedaan itu tidak bisa dibuat terlalu sederhana. Tari Eropa juga memiliki tradisi ritual dan pertunjukan. Tari Nusantara pun memiliki bentuk hiburan dan pergaulan. Tetapi pada masa kolonial, dansa dan tari hadir dalam lingkungan sosial yang berbeda. Masing-masing membawa aturan tubuhnya sendiri.</p>
<p>Karena itu, masyarakat Nusantara tidak merasa perlu mengganti semua tari dengan istilah dansa. Namanya tetap tari karena dunia maknanya memang berbeda.</p>
<h3>Ketika Bahasa Memilih, Bukan Sekadar Menerima</h3>
<p>Bahasa Melayu, yang kelak berkembang menjadi bahasa Indonesia, tidak sepenuhnya menolak istilah asing.</p>
<p>Kata <em>dansen </em>masuk dan berubah bunyi menjadi <span style="color: #236fa1;">dansa</span>. Namun, maknanya tidak dibiarkan melebar ke mana-mana. Dalam bahasa Indonesia, <span style="color: #236fa1;">dansa</span> lebih sering merujuk pada tari pergaulan gaya Barat yang dilakukan berpasangan.</p>
<p>Sementara itu, <span style="color: #236fa1;">tari</span> tetap menjadi kata yang lebih luas. Ia mencakup tari tradisional, tari klasik, tari kreasi baru, tari modern, hingga berbagai bentuk seni gerak yang tumbuh dari pengalaman masyarakat Indonesia.</p>
<p>Di sini terlihat bahwa bahasa tidak bekerja seperti kain yang hanya menyerap semua warna dari luar. Bahasa juga bisa memilih. Ia menerima satu unsur, tetapi menempatkannya di rak yang berbeda.</p>
<p>Dansa diterima. Tetapi tidak diberi kuasa untuk menggantikan tari.</p>
<h3>Nusantara Bukan Ruang Kosong</h3>
<p>Kajian Edi Sedyawati tentang seni pertunjukan Nusantara menunjukkan bahwa masyarakat lokal bukanlah penonton pasif dalam sejarah kebudayaan.</p>
<p>Nusantara telah memiliki tradisi seni yang panjang sebelum kedatangan bangsa Eropa. Relief candi, naskah kuno, pertunjukan rakyat, tradisi keraton, dan upacara adat menunjukkan bahwa masyarakat kepulauan ini telah mengenal berbagai bentuk musik, gerak, drama, dan ritual.</p>
<p>Karena itu, ketika unsur asing datang, yang terjadi bukan selalu penaklukan.</p>
<p>Sering kali yang terjadi adalah penyaringan.</p>
<p>Ada yang diterima karena dianggap sesuai. Ada yang diubah agar dapat hidup di lingkungan baru. Ada pula yang dibiarkan tetap menjadi milik pendatang.</p>
<p>Itulah yang dalam kajian kebudayaan sering disebut sebagai <em>local genius</em>: kemampuan suatu masyarakat untuk mengolah pengaruh luar tanpa kehilangan pusat kepribadiannya.</p>
<p>Kata <span style="color: #236fa1;">dansa</span> adalah salah satu contoh kecilnya. Ia masuk ke dalam bahasa kita, tetapi tetap membawa alamat asalnya. Sedangkan <span style="color: #236fa1;">tari</span> tetap tinggal sebagai rumah besar bagi seni gerak Nusantara.</p>
<h3>Kata yang Menyimpan Kedaulatan</h3>
<p>Pada akhirnya, kisah tari dan dansa bukanlah cerita tentang kata mana yang lebih baik. Ini adalah cerita tentang bagaimana kebudayaan mempertahankan batasnya.</p>
<p>Kolonialisme dapat menguasai pemerintahan. Dapat mengatur perdagangan. Dapat membentuk sekolah, jalan, kantor, dan tata kota. Tetapi pengaruh budaya tidak selalu berjalan lurus dari penguasa kepada yang dikuasai.</p>
<p>Ada hal-hal yang diterima. Ada yang diubah. Ada pula yang tetap dipertahankan. Kata <span style="color: #236fa1;">tari</span> adalah salah satunya.</p>
<p>Ia bertahan bukan karena Nusantara menutup diri dari dunia luar. Justru karena Nusantara cukup percaya diri untuk berhubungan dengan dunia luar tanpa harus menanggalkan seluruh identitasnya.</p>
<p>Dansa boleh datang membawa musik dan tata pergaulan Eropa.</p>
<p>Tetapi tari Nusantara tetap berpijak pada tanahnya sendiri.</p>
<p>Sebab sebuah bangsa tidak selalu menunjukkan kedaulatannya melalui perlawanan besar. Kadang-kadang, kedaulatan itu bertahan dalam kata yang terus dipakai sehari-hari.</p>
<p>Satu kata. Tari.</p>
<p>Dan dari kata itulah, kita tahu: tidak semua yang datang bersama penjajahan berhasil mengambil alih cara sebuah bangsa menggerakkan tubuh, mengingat sejarah, dan menyebut dirinya sendiri. (Kur)</p>
<p>&nbsp;</p>
<h6><em>*Diolah dari berbagai sumber</em></h6>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/imageeec1719d.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Seni Berdampingan: Ilustrasi arsip foto masa kolonial yang menggambarkan dialog budaya antara seni tari Jawa dan dansa Eropa di Hindia Belanda. (Foto: Ilustrasi AI)]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category><category><![CDATA[Musik]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Dari Kalender Lokal ke Masehi: Sejarah Penyeragaman Waktu di Indonesia]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-144--dari-kalender-lokal-ke-masehi-sejarah-penyeragaman-waktu-di-indonesia</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-144--dari-kalender-lokal-ke-masehi-sejarah-penyeragaman-waktu-di-indonesia</guid>
                    <pubDate>Mon, 31 Aug 2026 23:11:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[TUJUHPAGI -  Sebelum kalender Masehi digunakan secara luas, masyarakat Nusantara telah mengenal beragam sistem penanggalan, seperti kalender Saka, Jawa, Sunda, ]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #236fa1;">TUJUHPAGI - </span></strong>&nbsp;Sebelum kalender Masehi digunakan secara luas, masyarakat Nusantara telah mengenal beragam sistem penanggalan, seperti kalender Saka, Jawa, Sunda, Hijriah, hingga penanda musim tradisional seperti pranata mangsa.&nbsp;</p>
<p>Bayangkan suasana di pesisir pelabuhan Batavia atau pelabuhan-pelabuhan ramai di pesisir utara Jawa pada kisaran abad ke-17. Di pasar-pasar tradisional yang riuh, para pedagang lokal bertransaksi mengandalkan ritme pasang surut air laut dan penanggalan berbasis fase Bulan. Di sudut kraton, para pujangga dan astrolog menghitung hari berdasarkan perpaduan rumit siklus pekan pasaran dan kalender Hijriah yang dilebur oleh Sultan Agung menjadi Kalender Jawa Saka-Islam.</p>
<p>Namun, di benteng-benteng beton beratap genteng merah milik VOC, detak waktu dihitung dengan cara yang sama sekali berbeda. Suara dentang lonceng kapal Barat menandai hari demi hari yang dipatok mati oleh barisan angka di lembaran Kalender Gregorian. Dari benturan dua kesadaran waktu itulah, benih integrasi kalender Masehi di Nusantara mulai tertanam.</p>
<p>Proses mengadopsi penanggalan Masehi di Indonesia tidak terjadi dalam semalam melalui satu keputusan hukum yang dramatis. Proses ini adalah buah dari penetrasi kolonialisme yang perlahan tapi pasti meretas tatanan lokal. Seperti yang digambarkan oleh sejarawan <span style="color: #236fa1;"><em>Bernard Cohn</em></span> dalam pemikirannya tentang colonial knowledge, kekuasaan kolonial tidak hanya menaklukkan wilayah secara fisik, tetapi juga memetakan dan menyeragamkan konsep-konsep dasar kehidupan&mdash;termasuk cara manusia menghitung waktu.</p>
<p><span style="color: #236fa1;">Sebelum kedatangan bangsa Eropa, masyarakat di berbagai belahan Nusantara telah memiliki kecerdasan astronomi lokal yang sangat kaya. </span>Sunda memiliki kalender Pratala atau Saka Sunda, masyarakat Jawa hidup dalam keselarasan siklus Pranata Mangsa untuk bercocok tanam dan Wuku-Pasaran, sementara masyarakat Melayu dan daerah-daerah pesisir yang telah tersentuh dakwah Islam dengan erat memegang kalender Hijriah.</p>
<p>Penanggalan-penanggalan ini sangat fleksibel dan berorientasi pada alam: siklus hujan, pola bintang di langit malam, hingga pasang surut air laut. <span style="color: #236fa1;">Kalender lokal adalah sarana untuk menyelaraskan hidup manusia dengan kosmos.</span></p>
<p><span style="color: #843fa1;"><span style="color: #000000;">Namun</span>, </span>ketika pemerintah Hindia Belanda mulai mengokohkan birokrasinya pada abad ke-19, logika waktu alami ini dianggap tidak efisien. Bangsa Eropa membutuhkan waktu yang dapat diprediksi secara mekanis untuk kepentingan pemungutan pajak, jadwal pelayaran kapal dagang <em>Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), </em>tenggat pembayaran tanam paksa <em>(Cultuurstelsel),</em> hingga urusan gaji para pegawai administrasi kolonial. <span style="color: #236fa1;">Kalender Masehi (<em>Gregorian</em>), yang berbasis pada peredaran matahari dan bersifat konstan tanpa peduli fase Bulan atau pergantian musim lokal, menjadi alat kontrol administrasi yang sangat ampuh.</span></p>
<p><span style="color: #236fa1;">Sartono Kartodirdjo, guru besar sejarah Indonesia, </span>dalam berbagai karyanya mengenai sejarah sosial dan birokrasi kolonial, sering menyoroti bagaimana modernisasi birokrasi Barat secara perlahan menggeser struktur tradisional. Ketika elite pribumi (para bupati dan Pribumi Bestuur) diintegrasikan ke dalam hirarki pemerintahan Hindia Belanda, mereka diwajibkan mengikuti sistem penanggalan resmi pemerintah pusat di Batavia.</p>
<p>Laporan-laporan dinas, surat keputusan, hingga kalender kerja formal semuanya ditulis menggunakan angka-angka Masehi. Di sinilah terjadi dualisme: di dalam kantor dinas mereka menggunakan kalender Masehi, sementara di ruang domestik dan ritual adat mereka tetap memegang teguh kalender Jawa, Sunda, atau Hijriah.</p>
<p><span style="color: #236fa1;">Pergeseran paling krusial terjadi pada paruh pertama abad ke-20,</span> <span style="color: #236fa1;">ketika gelombang pergerakan nasionalisme Indonesia mulai bangkit. </span>Para<em> founding fathers</em> dan aktivis pergerakan seperti Soekarno, Hatta, hingga para cendekiawan muda yang terdidik secara Barat menyadari satu hal penting: untuk membangun sebuah bangsa baru yang melintasi ribuan pulau dan ratusan suku, mereka <span style="color: #236fa1;">membutuhkan "bahasa bersama"&mdash;bukan hanya dalam bentuk bahasa lisan (Bahasa Indonesia), tetapi juga "bahasa waktu".</span></p>
<p>Masing-masing suku di Nusantara memiliki kalendernya sendiri yang unik. Jika Indonesia modern berdiri di atas asas-asas penanggalan lokal yang berbeda-beda, koordinasi nasional akan lumpuh. Kalender Masehi akhirnya dipeluk bukan lagi sebagai simbol tunduk pada penjajah, melainkan sebagai keputusan pragmatis untuk menjadi bagian dari peradaban global dan instrumen pemersatu bangsa.</p>
<p><span style="color: #236fa1;">Dalam buku Imagined Communities karya Benedict Anderson,</span> <span style="color: #236fa1;">dijelaskan bahwa salah satu syarat terbentuknya kesadaran berbangsa adalah adanya kesadaran akan "waktu yang serempak" (<em>homogeneous, empty time</em>). <span style="color: #000000;">Kalender Masehi dan koran harian memungkinkan seorang pemuda di Medan dan seorang pemuda di Ambon untuk menyadari bahwa mereka sedang melangkah pada hari, tanggal, dan tahun yang persis sama.</span></span></p>
<p>Ketika Indonesia akhirnya memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, naskah proklamasi tersebut secara unik mencantumkan tahun "05" (singkatan dari tahun 2605 Kōki, kalender Kekaisaran Jepang yang berlaku saat pendudukan). Namun, saat Republik Indonesia secara resmi menjalankan roda pemerintahannya, sistem Masehi ditetapkan sebagai standar penanggalan nasional dalam urusan kenegaraan, hukum, dan pendidikan.</p>
<p><span style="color: #236fa1;">Mengadopsinya kalender Masehi tidak lantas memusnahkan kalender-kalender leluhur.</span> Indonesia hingga hari ini justru memperlihatkan kemampuan adaptasi budaya yang sangat elastis. <span style="color: #236fa1;">Kalender Masehi berfungsi sebagai jangkar utama dalam kehidupan publik, ekonomi global, dan sains. </span>Namun di balik itu, <span style="color: #236fa1;">k<span style="color: #000000;">alender Hijriah tetap memandu kehidupan spiritual jutaan umat Muslim, sementara kalender Jawa, Bali, dan Sunda masih menjadi panduan utama dalam merawat tradisi, menentukan hari baik pernikahan, hingga ritual-ritual kebudayaan.</span></span> Pengadopsian kalender Masehi di Indonesia pada akhirnya bukanlah kisah tentang kekalahan identitas lokal, melainkan cerita tentang bagaimana sebuah bangsa memilih untuk terhubung dengan dunia tanpa benar-benar mencabut akarnya sendiri. (Kur)</p>
<h6>&nbsp;</h6>
<h6><em>*Diolah dari berbagai sumber</em></h6>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202608/tangkapan-layar-2026-08-31-pukul-233847.png" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Kalender Masehi kemudian semakin dominan melalui pengaruh perdagangan, pemerintahan kolonial, pendidikan, dan hubungan internasional. (Ilustrasi AI)]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Opini]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Parfum Bukan Sekadar Wangi: Seni dan Sains Menemukan Signature Scent yang Tepat]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-143-parfum-bukan-sekadar-wangi-seni-dan-sains-menemukan-signature-scent-yang-tepat</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-143-parfum-bukan-sekadar-wangi-seni-dan-sains-menemukan-signature-scent-yang-tepat</guid>
                    <pubDate>Mon, 31 Aug 2026 10:40:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[TUJUHPAGI -  Bagi banyak orang, menyemprotkan parfum adalah rutinitas pagi yang dilakukan secara berulang. Beberapa semprotan ke udara, atau semprotan cepat di ]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #843fa1;"><span style="color: #236fa1;">TUJUHPAGI</span> - &nbsp;</span></strong>Bagi banyak orang, menyemprotkan parfum adalah rutinitas pagi yang dilakukan secara berulang. Beberapa semprotan ke udara, atau semprotan cepat di pergelangan tangan sebelum berkegiatan di luar rumah.</p>
<p><span style="color: #843fa1;">Parfum kerap dipilih secara cepat, sekadar merespons kesan pertama dari sebotol sampel di meja pajangan mal. Padahal, sejatinya, cara kerja wewangian tidak pernah sesederhana itu.</span></p>
<p>Aroma tidak hadir sekaligus, meronta minta diperhatikan dalam satu tarikan napas. Melainkan berkembang secara bertahap, berinteraksi dengan suhu kulit, dan sangat dipengaruhi oleh kondisi biologis tubuh pemakainya. Karena itu, memahami struktur dasar, hierarki konsentrasi, hingga karakter parfum akan sangat membantu kita menghindari kesalahan besar saat memilih <span style="color: #000000;">parfum.</span></p>
<h2>Anatomi Sebuah Aroma: Kisah Tiga Babak</h2>
<p><span style="color: #843fa1;">Mengenakan parfum pada dasarnya sama dengan membaca sebuah cerita yang membuka diri perlahan. Wewangian yang diracik dengan baik memiliki tiga lapisan struktural yang di dunia perfumeri dikenal sebagai piramida parfum.</span> Jika kita bagi dalam bentuk babak, maka akan ada tiga babak dalam pengenalan aroma parfum.</p>
<p>Babak pertama adalah<em> top notes</em>. Ini adalah impresi awal yang menyapa hidung Anda pada detik-detik pertama penyemprotan. Sifatnya sangat ringan, segar, dan sayangnya, paling cepat menguap. Aroma citrus seperti bergamot atau buah-buahan ringan biasanya mendominasi fase ini, bertahan hanya sekitar 15 hingga 30 menit.</p>
<p>Setelah top notes mereda, tirai terbuka untuk babak kedua: <em>middle notes</em> atau sering disebut <em>heart notes.</em> Inilah inti sesungguhnya dari wewangian tersebut. Pada tahap ini, karakter utama parfum mulai terasa kuat. Aroma bunga, rempah, atau dedaunan hijau sering kali mengambil alih, menjembatani transisi yang mulus sebelum menuju akhir cerita.</p>
<p>Pada tahap pungkasan, <em>base notes</em> muncul sebagai fondasi aroma dasar yang paling lama bertahan di kulit, bahkan bisa menetap di serat pakaian Anda selama berhari-hari. Aroma seperti musk, vanilla, patchouli, atau kayu-kayuan (woody) mendominasi fase ini, memberikan kedalaman dan jejak memori. Memahami struktur tiga babak ini adalah kunci untuk menyadari satu aturan penting:<span style="color: #843fa1;"> sebuah parfum tidak bisa dan tidak boleh dinilai hanya dari satu kali ciuman di menit pertama.</span></p>
<h2>Hierarki Konsentrasi: Bukan Soal Gengsi, Melainkan Kebutuhan</h2>
<p>Selain struktur aroma, daya tahan parfum juga ditentukan oleh konsentrasi minyak wanginya. Semakin tinggi rasio minyak esensial terhadap alkohol dan pelarutnya, semakin lama pula wangi tersebut bertahan. Di puncak hierarki terdapat extrait de parfum atau parfum murni.</p>
<p>Dengan konsentrasi paling tinggi (bisa mencapai 20-30%), aromanya sangat pekat, intim, dan mampu bertahan paling lama sepanjang hari. Di bawahnya, eau de parfum (EDP) menjadi pilihan terpopuler karena menawarkan keseimbangan yang pas antara kekuatan proyeksi dan ketahanan wangi.</p>
<p><span style="color: #843fa1;">Bagi Anda yang menginginkan sesuatu yang lebih sopan di hidung untuk kegiatan siang hari, eau de toilette (EDT) cenderung lebih ringan dengan daya tahan menengah. Bergeser lebih ke bawah, eau de cologne (EDC) diformulasikan jauh lebih ringan, ideal untuk kesegaran instan sehabis mandi, namun cepat menguap. Pada tingkat paling dasar, body mist hanya memberikan wangi singkat yang menyegarkan.</span></p>
<p>Pemahaman akan konsentrasi ini mengikis mitos bahwa semakin mahal dan pekat sebuah parfum, maka semakin baik. Kenyataannya, pemilihan parfum bukanlah soal adu gengsi, melainkan menyesuaikan dengan kebutuhan penggunaan, iklim, dan aktivitas sehari-hari.</p>
<h2>Karakter Aroma dan Keunikan Reaksi Kulit</h2>
<p>Setiap botol parfum menyimpan semesta karakternya sendiri. Di pasaran, wewangian dikelompokkan dalam keluarga penciuman (<span style="color: #b96ad9;"><em>olfactory families</em></span>). Kelompok floral menghadirkan kesan feminin, lembut, dan romantis. Sementara itu, fruity terasa segar, ceria, dan penuh energi. Bagi mereka yang ingin menampilkan nuansa hangat, mapan, dan tegas, kelompok woody adalah jawabannya.</p>
<p>Di sisi lain, citrus menawarkan kesegaran yang menusuk dan membangkitkan semangat. Ada pula oriental atau amber yang cenderung pekat, sensual, dan misterius. Untuk nuansa kasual, aquatic terasa bersih dan modern bak udara laut, sedangkan gourmand belakangan kian populer karena identik dengan aroma manis yang menyerupai makanan, seperti karamel atau cokelat.</p>
<p>Namun, bagian paling menarik dari parfum adalah betapa personalnya ia. A<span style="color: #843fa1;">roma yang sama bisa memancarkan wangi yang jauh berbeda ketika disemprotkan pada dua orang yang berbeda. </span>Hal ini terjadi karena molekul parfum bereaksi terhadap suhu tubuh, tingkat keasaman (pH) kulit, keringat, bahkan pola makan pemakainya. Kulit Anda adalah "katalis" terakhir yang menentukan bagaimana sebuah wewangian akan mekar.</p>
<h2>Dengarkan Sinyal Tubuh Anda</h2>
<p>Dalam proses berburu parfum, kenyamanan hidung dan tubuh Anda adalah faktor yang paling krusial. Amanda, seorang educator di Sandika Natural Class, menyebut bahwa ia sangat mengandalkan respons indera penciuman pribadinya ketimbang tren semata.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202608/lihat-foto-terbaru-3.png" alt="Amanda, educator Sandika Natural Class." width="100%" height="auto" /></p>
<p>&ldquo;Kalau aku nyaman di hidung sama aromanya, rapi,&rdquo; ujarnya sederhana namun tepat sasaran. Kata "rapi" di sini merujuk pada racikan aroma yang harmonis dan tidak saling bertabrakan.</p>
<p>Senada dengan itu, <span style="color: #843fa1;">Rosanna Sari dari Uccanica menekankan pentingnya insting tubuh dalam mengenali kualitas bahan. Ia sangat menyarankan agar konsumen menghindari parfum dengan jejak bau alkohol yang terlalu tajam menyengat atau aroma tengik di latar belakangnya.</span></p>
<p>Lebih lanjut, ia memperingatkan untuk tidak melanjutkan penggunaan jika sebuah aroma justru memicu pusing atau mual. Kedua pandangan praktisi ini menggarisbawahi satu hal mutlak: tubuh kita sejatinya memiliki alarm alami untuk memberi sinyal wewangian mana yang menjadi 'jodoh' kita dan mana yang bukan.</p>
<h2>Menghindari Jebakan Kesalahan Berbelanja</h2>
<p>Sayangnya, pesan dari tubuh ini kerap terabaikan karena kesalahan umum: proses memilih yang terlalu tergesa-gesa. Banyak orang datang ke gerai parfum, mencium lima hingga sepuluh kertas blotter secara beruntun, lalu langsung memutuskan membeli.</p>
<p>Mencoba terlalu banyak aroma dalam satu waktu hanya akan membuat indera penciuman mengalami kelelahan atau kehilangan kepekaan (olfactory fatigue). Akibatnya, kesan pertama yang terasa sangat meyakinkan di toko justru berujung pada penyesalan ketika dipakai di rumah. Parfum membutuhkan waktu dan ruang untuk bernapas. <span style="color: #843fa1;">Cara terbaik adalah menyemprotkannya ke kulit, tinggalkan toko, berjalan-jalanlah selama beberapa jam, dan lihat bagaimana aroma tersebut berevolusi di tubuh Anda.</span> Jangan ambil keputusan dalam hitungan detik untuk sesuatu yang akan melekat seharian pada Anda.</p>
<h2>Ritual Aplikasi dan Seni Merawat Parfum</h2>
<p>Setelah menemukan wewangian yang tepat, seni selanjutnya adalah bagaimana cara memakainya. Agar wangi parfum bertahan lebih lama dan proyeksinya optimal, <span style="color: #843fa1;">aplikasikan</span> pada titik-titik nadi, <span style="color: #843fa1;">seperti pergelangan tangan bagian dalam, leher, belakang telinga, hingga lipatan siku. </span>Area-area ini menghasilkan panas tubuh yang lebih tinggi, yang secara alami akan membantu menyebarkan dan memancarkan aroma ke udara.</p>
<p>Satu kebiasaan yang harus segera ditinggalkan adalah menggosok pergelangan tangan setelah menyemprotkan parfum. Gesekan yang tercipta akan menghasilkan panas berlebih yang dapat merusak dan memecah struktur molekul top notes, membuat aroma parfum menjadi datar dan cepat hilang. Cukup semprotkan dan biarkan mengering dengan sendirinya.</p>
<p>Waktu aplikasi juga menentukan. <span style="color: #843fa1;">Penggunaan parfum sesaat setelah mandi dan mengaplikasikan pelembap tanpa pewangi akan membuat minyak parfum lebih mudah melekat pada kulit yang terhidrasi dengan baik</span>.</p>
<p>Selain itu, perhatikan pula cara penyimpanannya. Menyimpan botol parfum di kamar mandi yang lembap dan hangat adalah sebuah kesalahan besar. <span style="color: #843fa1;">Simpanlah di tempat yang sejuk, kering, dan terhindar dari paparan sinar matahari langsung untuk menjaga integritas bahan-bahannya.</span></p>
<p>Pada akhirnya, parfum bukan sekadar cairan wewangian yang dikemas dalam botol kaca mewah. Ia adalah bagian tak terpisahkan dari ekspresi diri, sebuah identitas yang tertinggal di udara bahkan ketika Anda sudah meninggalkan ruangan.</p>
<p>Ia tidak selalu bisa dipahami dalam sekali coba, melainkan membutuhkan waktu, kesabaran, dan keterbukaan untuk benar-benar dikenali.</p>
<p><span style="color: #843fa1;">Pada akhirnya, Pilihan terbaik bukanlah botol dengan merek paling tenar, <span style="font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen, Ubuntu, Cantarell, 'Open Sans', 'Helvetica Neue', sans-serif;">melainkan aroma yang ketika menyentuh kulit, terasa seperti versi terbaik dari diri Anda sendiri</span><span style="font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen, Ubuntu, Cantarell, 'Open Sans', 'Helvetica Neue', sans-serif;">. </span><span style="font-size: 1.1rem; font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen, Ubuntu, Cantarell, 'Open Sans', 'Helvetica Neue', sans-serif;">(Nik)</span></span></p>
<h5>&nbsp;</h5>
<h5><em>*Diolah dari berbagai sumber</em></h5>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202608/img8571.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Sumber Foto : ilustrasi Ai]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Isu KUR Jember, Ibrahim: Jangan Langsung Salahkan Bank BUMN Penyalur]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-142-isu-kur-jember-ibrahim-jangan-langsung-salahkan-bank-bumn-penyalur</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-142-isu-kur-jember-ibrahim-jangan-langsung-salahkan-bank-bumn-penyalur</guid>
                    <pubDate>Tue, 14 Jul 2026 13:24:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[TUJUHPAGI - KUR itu niat baik. Ia lahir untuk rakyat kecil. Misalnya untuk petani, nelayan atau pedagang kecil yang butuh napas tambahan. Agar tidak jatuh ke]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #236fa1;">TUJUHPAGI - </span></strong>KUR itu niat baik. Ia lahir untuk rakyat kecil. Misalnya untuk petani, nelayan atau pedagang kecil yang butuh napas tambahan. Agar tidak jatuh ke tangan rentenir. Agar tidak lagi bergantung pada ijon. Tapi niat baik selalu punya musuh lama: celah.</p>
<p>Di Jember, celah itu kembali terlihat. Kasus dugaan korupsi KUR Mikro pada salah satu bank nasional menyeret tiga tersangka. Nilainya tidak kecil: Rp41,4 miliar.</p>
<p>Pengamat ekonomi dan perbankan Ibrahim Assuaibi melihat persoalan ini tidak sesederhana menyalahkan bank penyalur. Menurutnya, bank bekerja dari dokumen. Dari berkas. Dari data yang diajukan. Masalahnya ada sebelum meja bank yaitu saat di lapangan.</p>
<p>Di titik ketika KTP dikumpulkan. Ketika nama-nama rakyat kecil dicatat. Ketika kelompok tani atau kelompok usaha diajukan. Ketika collection agent atau CA menjadi jembatan antara masyarakat dan bank. Jembatan itu seharusnya menolong. Tapi kalau jembatan itu rusak, yang jatuh tetap rakyat kecil.</p>
<p>&ldquo;Jangan langsung menyalahkan bank penyalur. Bank bekerja berdasarkan dokumen, kelengkapan administrasi dan proses persetujuan kredit. Persoalan utamanya perlu dilihat pada pihak yang mengumpulkan data serta menguasai pencairan dana,&rdquo; kata Ibrahim saat ditemui di Jakarta Selatan, Sabtu, 11 Juli 2026.</p>
<p>Ia menjelaskan, KUR pada mulanya dirancang untuk mendukung akses pembiayaan kelompok usaha produktif, termasuk petani, nelayan, dan pelaku usaha mikro. Dalam praktiknya, pengajuan kerap dilakukan melalui pengumpulan dokumen identitas anggota kelompok yang kemudian diproses oleh CA sebelum masuk ke bank penyalur.</p>
<p>Peran CA sebenarnya penting. Mereka yang paling dekat dengan lapangan. Mereka tahu siapa petaninya, siapa nelayannya, siapa pelaku usaha kecil di wilayah itu.</p>
<p>Tapi justru di situlah celahnya. Kedekatan dengan data dan masyarakat bisa berubah menjadi pintu penyalahgunaan bila tidak diawasi ketat.</p>
<p>&ldquo;CA memang berperan sebagai penghubung karena mengetahui seluk-beluk kelompok petani atau masyarakat di desa. Tetapi ketika ada CA yang bermain bersama oknum perangkat desa, data dapat dimanipulasi dan masyarakat kecil dijadikan sasaran,&rdquo; ujarnya.</p>
<p>Ibrahim menyebut, masyarakat berpenghasilan rendah sering kali diberi iming-iming bantuan atau pinjaman tanpa memahami konsekuensi administrasi dan kewajiban pembayaran. Dalam beberapa kasus, nama masyarakat digunakan sebagai debitur, tetapi dana yang dicairkan tidak mereka terima.</p>
<p>Dana kelompok yang seharusnya berkisar Rp90 juta hingga Rp100 juta, lanjutnya, berpotensi dikuasai pihak tertentu untuk kepentingan di luar tujuan kredit. Misalnya, menutup kredit bermasalah atau memenuhi kebutuhan pribadi.</p>
<p>&ldquo;Yang terjadi, uang tidak sampai kepada anggota kelompok. Nama masyarakat dipakai, tetapi mereka tidak menerima dananya. Pada akhirnya, justru mereka yang tercatat memiliki kewajiban membayar cicilan dan bunga,&rdquo; katanya.</p>
<p>Di titik itulah ironi terjadi. Program yang dibuat untuk membantu rakyat kecil justru bisa berubah menjadi beban baru bagi mereka. Nama mereka tercatat. Kewajiban melekat. Tetapi uangnya entah ke mana.</p>
<h2>Regulasi dan Pengawasan Perlu Diperketat</h2>
<p>Ibrahim mendorong pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, serta aparat penegak hukum memperkuat sistem pengawasan penyaluran KUR. Bukan hanya di awal. Bukan hanya saat berkas masuk. Tetapi juga setelah dana dicairkan.</p>
<p>Menurut dia, pengawasan harus lebih ketat pada tahap verifikasi calon debitur. Siapa yang mengajukan. Siapa yang mengumpulkan dokumen. Siapa yang mendampingi kelompok. Siapa yang menerima dana. Dan ke mana dana itu mengalir setelah pencairan.</p>
<p>Sebab uang selalu meninggalkan jejak. Jejak itulah yang harus diikuti. Penguatan regulasi, kata Ibrahim, juga harus disertai sanksi tegas. Terutama terhadap pihak yang terbukti memalsukan data, mengarahkan debitur fiktif, atau menguasai dana kredit yang bukan haknya.</p>
<p>&ldquo;Perlu payung hukum yang kuat dan pengawasan lintas lembaga. OJK dapat berkolaborasi dengan PPATK untuk menelusuri aliran dana. Dari situ akan terlihat apakah ada keterlibatan oknum perbankan, perangkat desa, CA, atau pihak lain,&rdquo; tutur Ibrahim.</p>
<p>Ia juga mengkritik kebiasaan pembenahan regulasi yang baru dilakukan setelah kasus muncul ke permukaan. Padahal, menurutnya, modus penyalahgunaan kredit program sudah berulang sejak lama.</p>
<p>&ldquo;Masalah seperti ini bukan baru terjadi sekarang. Karena itu, pencegahan harus dibangun dari awal, bukan menunggu kasusnya membesar,&rdquo; ujarnya.</p>
<h2>Tanggung Jawab Pelaku Penyimpangan</h2>
<p>Bagi Ibrahim, penentuan pihak yang bertanggung jawab tidak boleh dilakukan dengan prasangka. Harus berdasarkan pemeriksaan. Harus berdasarkan dokumen. Dan terutama, harus berdasarkan aliran dana. Bank penyalur, menurut dia, tidak dapat langsung diposisikan sebagai pihak yang bersalah apabila prosedur administrasi telah dijalankan berdasarkan dokumen yang tersedia. Bank melihat berkas. Bank memproses kelengkapan. Bank menjalankan persetujuan kredit sesuai dokumen yang masuk.</p>
<p>&ldquo;Yang perlu dimintai pertanggungjawaban adalah pihak yang membuat data fiktif, mengarahkan proses, serta mengambil atau menguasai dana. Bisa kelompok, perangkat desa, CA, maupun pihak lain yang terlibat,&rdquo; katanya.</p>
<p>Karena itu, Ibrahim menilai penelusuran aliran dana menjadi kunci. Dari sana bisa terlihat siapa yang benar-benar menikmati uang tersebut. Siapa yang hanya dipakai namanya. Siapa yang mengatur. Siapa yang menerima manfaat.</p>
<h2>Jangan Mudah Menyerahkan Data Pribadi</h2>
<p>Ibrahim juga mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati. Terutama ketika ada pihak yang menawarkan KUR dengan cara terlalu mudah. Tanpa penjelasan jelas. Tanpa mekanisme resmi. Tanpa kepastian siapa yang mengurus dan bagaimana kewajiban setelah dana cair.</p>
<p>Data pribadi bukan barang ringan. KTP bukan sekadar fotokopi. Begitu nama masuk sebagai debitur, ada konsekuensi hukum dan kewajiban pembayaran yang melekat. Karena itu, masyarakat diminta tidak mudah menyerahkan dokumen kepada pihak yang mengaku bisa mengurus KUR. Apalagi jika identitas dan status orang tersebut tidak jelas.</p>
<p><br />Ibrahim menyarankan warga mendatangi kantor bank secara langsung. Memastikan status pengajuan. Menanyakan syarat kredit. Mengecek nominal pencairan. Dan memahami kewajiban pembayaran.</p>
<p>&ldquo;Pastikan siapa yang menawarkan. Kenali orangnya, cek identitasnya, dan bila perlu datang langsung ke bank untuk meminta penjelasan. Jangan sampai nama dipakai, tetapi uangnya tidak diterima,&rdquo; pungkasnya.</p>
<p>Sebelumnya, Kejati Jawa Timur menetapkan MFH, mantan pimpinan cabang salah satu bank pelat merah di Jember, serta AM dan IIS yang disebut sebagai CA dari dua perusahaan berbeda, sebagai tersangka. Dana KUR yang diduga diselewengkan disebut digunakan untuk menutup kredit macet dan memenuhi kebutuhan pribadi.</p>
<p>Kasus Jember ini akhirnya bukan sekadar soal kredit macet. Bukan pula sekadar soal dokumen yang lengkap di atas meja. Ia menjadi pengingat bahwa program baik bisa rusak jika pengawasan di lapangan longgar.</p>
<p>KUR dibuat untuk menggerakkan ekonomi rakyat kecil. Maka, yang harus dijaga bukan hanya uang negara. Tetapi juga nama, data, dan kepercayaan masyarakat kecil yang seharusnya menjadi penerima manfaat. (*)</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202607/whatsapp-image-2026-07-14-at-122027.jpeg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Isu KUR Jember, Ibrahim: Jangan Langsung Salahkan Bank BUMN Penyalur]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[News]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Kali Tebu Terseret Sampah Plastik, Ikan Menghilang dan Tinggal Cerita bagi Generasi Mendatang]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-141-kali-tebu-terseret-sampah-plastik-ikan-menghilang-dan-tinggal-cerita-bagi-generasi-mendatang</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-141-kali-tebu-terseret-sampah-plastik-ikan-menghilang-dan-tinggal-cerita-bagi-generasi-mendatang</guid>
                    <pubDate>Wed, 24 Jun 2026 22:44:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[TUJUH PAGI - Mereka hanya bertiga ketika menyerukan aksi di atas Jembatan Kali Dinding, Surabaya Rabu (24/6). Diantara deru kendaraan yang tak habis, bersama]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #236fa1;">TUJUH PAGI - </span></strong>Mereka hanya bertiga ketika menyerukan aksi di atas Jembatan Kali Dinding, Surabaya Rabu (24/6). Diantara deru kendaraan yang tak habis, bersama bising suara jalanan, para aktivis <span style="font-size: 1.1rem; font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen, Ubuntu, Cantarell, 'Open Sans', 'Helvetica Neue', sans-serif;">mencoba menembus lalu lintas yang padat. Mereka mengajak warga menoleh ke bawah&mdash;ke Kali Tebu yang tampak tenang, namun menyimpan perubahan yang tak sederhana.</span></p>
<p><span style="font-size: 1.1rem; font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen, Ubuntu, Cantarell, 'Open Sans', 'Helvetica Neue', sans-serif;"><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202606/whatsapp-image-2026-06-24-at-163847-2.jpeg" alt="Tiga aktivis mengenakan kostum plastik dan topeng ikan saat aksi di tepi Kali Tebu, Surabaya, Rabu (24/6), sebagai simbol hilangnya biota sungai akibat pencemaran plastik. (Foto: M. Iffan)" width="100%" height="auto" /></span></p>
<p>Dengan tubuh dibalut plastik bekas dan wajah bertopeng ikan. Aksi teatrikal itu menjadi isyarat tentang nasib biota sungai yang kian terdesak. Ikan-ikan yang dulu mudah ditemukan, kini menghilang perlahan, tersisih oleh pencemaran plastik.</p>
<p>Aksi bertajuk &ldquo;Sampah Plastikmu Racuni Iwak Kali Tebu&rdquo; digelar oleh Jaringan Gen Z Tolak Plastik Sekali Pakai (JEJAK), Aliansi Komunitas Penyelamat Sungai (AKAMSI), River Warriors, dan Ecoton. Mereka mengingatkan, kerusakan sungai bukan semata soal sampah yang tampak di permukaan, melainkan juga kehidupan yang perlahan lenyap di dalamnya.</p>
<p>Bagi warga yang tumbuh pada 1970-an hingga 1990-an, Kali Tebu pernah menjadi bagian dari keseharian. Sungai itu adalah ruang bermain, tempat menjala ikan, sekaligus sumber pangan.</p>
<p>&ldquo;Dulu ikan wader, bader, sampai gabus mudah ditemukan. Anak-anak mandi dan menjala ikan di sini. Sekarang airnya keruh, yang terlihat justru sampah,&rdquo; kata peneliti Ecoton, Alaika Rahmatullah, menirukan cerita warga.</p>
<p>Kini, kenangan itu kian jauh dari generasi sekarang. Nama-nama ikan lokal yang dulu akrab, perlahan menjadi asing.</p>
<p>Dari atas jembatan, anggota AKAMSI Jofanny Ahmad mengingatkan bahwa dampak pencemaran tak berhenti hari ini. Kebiasaan membuang sampah, kata dia, bisa memutus hubungan generasi mendatang dengan sungai.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202606/whatsapp-image-2026-06-24-at-163847-1.jpeg" alt="Tumpukan sampah plastik terlihat di aliran Kali Tebu yang tercemar, meski upaya pembersihan terus dilakukan oleh komunitas dan pemerintah setempat. (M. Iffan)" width="100%" height="auto" /></p>
<p>Kekhawatiran itu berangkat dari fakta di lapangan. Sepanjang Mei hingga Juni 2026, lebih dari 27 ton sampah diangkat dari Kali Tebu. Sekitar 11,5 ton dibersihkan oleh Tim MOZAIK Ecoton, sementara sisanya diangkut melalui operasi gabungan bersama Dinas Lingkungan Hidup Surabaya dan petugas Kecamatan Kenjeran.</p>
<p>Angka itu menunjukkan tekanan yang terus-menerus diterima sungai. Namun persoalan tak berhenti pada sampah yang kasat mata. Ada ancaman lain yang lebih halus: mikroplastik, serpihan kecil yang menyusup ke air dan sedimen.</p>
<p>&ldquo;Mikroplastik bisa masuk ke tubuh ikan lewat makanan. Dalam jangka panjang, ini mengganggu kesehatan organisme dan merusak ekosistem sungai,&rdquo; ujar Alaika.</p>
<p>Padahal, Kali Tebu pernah dikenal kaya akan keanekaragaman hayati. Ikan gabus, wader, bader putih dan merah, keting, rengkik, hingga belida jawa pernah menghuni perairan ini. Kedekatannya dengan kawasan tambak dan pesisir juga membuat bandeng, mujair, dan belanak kerap ditemukan.</p>
<p>Kini, banyak sampah datang dari berbagai arah: urbanisasi, limbah rumah tangga, sedimentasi, hingga sampah plastik yang terus mengalir. Kerusakan itu berlangsung perlahan, menumpuk dari waktu ke waktu, hingga menggerus kualitas habitat.</p>
<p>Program Manager MOZAIK, Amiruddin Muttaqqin, menilai penanganan tak bisa berhenti pada pengangkatan sampah di permukaan. Ia menekankan perlunya langkah yang lebih menyeluruh&mdash;dari hulu ke hilir.</p>
<p>Menurutnya, sungai bukan sekadar aliran air. Ia adalah habitat, pengendali banjir, penyimpan keanekaragaman hayati, sekaligus bagian dari sejarah sosial warga.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202606/whatsapp-image-2026-06-24-at-1638471.jpeg" alt="Suasana aksi teatrikal komunitas lingkungan di bantaran Kali Tebu, menyoroti ancaman mikroplastik terhadap ekosistem sungai dan kehidupan ikan. (M. Iffan)" width="100%" height="auto" /></p>
<p>&ldquo;Kondisi sungai hari ini mencerminkan bagaimana manusia memperlakukannya. Kalau pencemaran dibiarkan, dampaknya akan terus menumpuk dalam jangka panjang,&rdquo; ujarnya.</p>
<p>Di akhir aksi, para aktivis kembali menyerukan hal-hal mendasar: mengurangi plastik sekali pakai, memilah sampah dari rumah, dan menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai.</p>
<p>Pesan itu sederhana, namun konsekuensinya panjang. Setiap plastik yang hanyut membawa serta kemungkinan hilangnya kehidupan&mdash;ikan yang tak lagi kembali, dan ingatan tentang sungai yang perlahan memudar.</p>
<p>Jika keadaan ini terus berlanjut, ikan-ikan sungai mungkin hanya akan tinggal sebagai gambar di buku pelajaran&mdash;bukan lagi sesuatu yang bisa dilihat, apalagi ditangkap, oleh generasi yang akan datang. (Fan)</p>
<p>&nbsp;</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202606/whatsapp-image-2026-06-24-at-163846.jpeg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Aktivis lingkungan membentangkan pesan penolakan plastik sekali pakai di Jembatan Kali Dinding, mengajak warga menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai. (foto: M. Iffan)]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Ardhia Tap]]></dc:creator><category><![CDATA[Liputan]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Tuntut Stabilkan Harga, Warga Surabaya Padati Taman Apsari]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-140-tuntut-stabilkan-harga-warga-surabaya-padati-taman-apsari-</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-140-tuntut-stabilkan-harga-warga-surabaya-padati-taman-apsari-</guid>
                    <pubDate>Tue, 16 Jun 2026 07:00:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Tujuhpagi - Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan JuniDirahasiakannya rintik rindunyaKepada pohon berbunga itu. Penggalan puisi Sapardi djoko damono]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 1.1rem;"><span style="color: #000000;"><strong>Tujuhpagi</strong></span> - Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni<br />Dirahasiakannya rintik rindunya<br />Kepada pohon berbunga itu. <br />Penggalan puisi Sapardi djoko damono tersebut agaknya cocok menggambarkan kondisi Indonesia pada Juni 2026. Namun, puisi tak mampu mengganti kegelisahan warga.&nbsp;</span></p>
<p>Senin (15/4/2026), di Taman Apsari, Surabaya, gema yang mirip itu muncul dari kerumunan warga: protes yang menuntut perubahan atas kenaikan harga BBM, melemahnya nilai rupiah, serta dampak kebijakan yang dinilai menekan kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Aksi bertajuk Rakyat Suarabaya Menggugat diikuti berbagai lapisan masyarakat. Mereka berkumpul menghadap pagar berduri yang melingkari Gedung Grahadi, menyampaikan tuntutan kesejahteraan, mulai dari keberatan atas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai membuang anggaran hingga sorotan mengenai kasus-kasus kriminalisasi terhadap pihak-pihak yang dinilai bersikap kritis.</p>
<h2><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202606/af1c7df2-3837-4ecd-86ce-389d9ac9129f.jpeg" alt="(Foto: M.iffan)" width="100%" height="auto" /></h2>
<h2><br />Doa di Tengah Beban: Mengaitkan Kini dan 1998</h2>
<p>Di antara massa, Prana&mdash;mahasiswi dari perguruan tinggi negeri di Surabaya&mdash;berdiri di hadapan barisan untuk membacakan doa Bapa Kami. Dalam doa dan pernyataannya, Prana menghubungkan situasi yang terjadi saat ini dengan tahun 1998, ketika banyak masyarakat kecil disebut masih hidup dalam kesulitan.</p>
<p>&ldquo;Situasi yang terjadi pada tahun 1998 tidak jauh berbeda dengan kondisi sekarang, di mana masih banyak masyarakat kecil yang hidup dalam kesulitan, sementara sebagian pihak yang berada di pemerintahan dapat hidup berkecukupan dan melakukan apa saja yang mereka inginkan.&rdquo; Ujar Prana.</p>
<p>Prana mengatakan harga kebutuhan sehari-hari makin meroket, terutama bagi kantong mahasiswa perantauan. Ia menyebut makanan hingga biaya transportasi turut naik, termasuk biaya layanan seperti Gojek dan Grab, sehingga pengeluaran harian menjadi lebih mahal.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202606/f0ac406d-ce03-4e51-917f-5ffefba60f6d.jpeg" alt="(Foto: M.iffan)" width="100%" height="auto" /></p>
<p>&ldquo;Sebagai mahasiswa, saya paling merasakan dampak dari kenaikan harga kebutuhan sehari-hari. Mulai dari makanan hingga biaya transportasi seperti Gojek dan Grab ikut naik, sehingga hampir seluruh biaya hidup menjadi lebih mahal.&rdquo; Ujar Prana.</p>
<h2>Kopi Keliling dan Sembako: Ketika Harga Menentukan Tenaga</h2>
<p>Di tengah deretan tuntutan, Ike Wijayanti yang berprofesi sebagai penjual kopi keliling menyampaikan keluhannya. Ia menilai kenaikan harga sembako membuatnya semakin sulit mencari rezeki, karena pendapatan tidak selalu seiring dengan lonjakan kebutuhan pokok.</p>
<p>&ldquo;sembako sekarang harganya Rp15.000 itu buat saya susah.&rdquo; Ujar Ike.</p>
<p>Ike menilai, pemerintah sebenarnya mendengar aspirasi masyarakat, tetapi tidak meresponsnya. Ia mengatakan banyak persoalan sudah menjadi berita dan viral di berbagai media, sehingga ia sulit membayangkan sikap seolah tidak mengetahui keadaan yang sedang berlangsung.</p>
<p>Dalam penutup pernyataannya, Ike menyampaikan harapan agar harga BBM dan kebutuhan pokok diturunkan. Ia menyatakan keluhan itu berasal dari suara rakyat kecil yang merasa semakin tertekan.</p>
<p>&ldquo;Tolong Pak, kalau seandainya Bapak mendengarkan isi hatinya orang rakyat kecil, tolong. Turunkan harga sembako dan BBM dan lain-lainnya. Turunkan harganya. Jangan dinaikkan. Kasian orang-orang yang enggak punya apa-apa.&rdquo; Tegas Ike.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202606/72d4bacf-c8f7-4d2a-b84d-0b2577d54fcf.jpeg" alt="(Foto: M.iffan)" width="100%" height="auto" /></p>
<h3>Tuntutan Kehidupan Layak dan Kebijakan Berpihak pada Rakyat</h3>
<p>Aksi berlangsung dengan teriakan tuntutan dan doa yang mengiringi perjalanan massa di Taman Apsari menuju Gedung Grahadi. Di balik berbagai slogan, pesan yang disampaikan sederhana: kehidupan yang lebih layak, serta kebijakan yang berpihak pada rakyat.</p>
<p>Warga berharap suara yang dibawa ke ruang publik tidak berhenti sebagai gema sesaat. Mereka menunggu langkah nyata dari pemerintah agar beban ekonomi yang kini dirasakan banyak kalangan bisa memperoleh solusi. (Fan)</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202606/e65c8c04-2f37-4247-863c-a2501fdc3e59.jpeg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Tuntut Stabilkan Harga, Warga Surabaya Padati Taman Apsari]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Ardhia Tap]]></dc:creator><category><![CDATA[Liputan]]></category></item></channel></rss>