<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
            xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
            xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
            xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
            xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
            xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"><channel>
                <title>TujuhPagi - Berita Jawa Timur Terkini</title>
                <atom:link href="https://tujuhpagi.co/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
                <link>https://tujuhpagi.co/</link>
                <description>Berita terbaru dan terpercaya seputar Jawa Timur di Tujuh Pagi. Update cepat, akurat, dan mendalam tentang politik, ekonomi, budaya, serta peristiwa terkini</description>
                <lastBuildDate>Mon, 04 May 2026 07:00:00 +0700</lastBuildDate>
                <language>id-ID</language>
                <generator>https://tujuhpagi.co/</generator>
                <image>
                    <url>https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/logo/logo-kotak-tujuh-pagi.png</url>
                    <title>TujuhPagi - Berita Jawa Timur Terkini</title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/</link>
                </image><item>
                    <title><![CDATA[Sound Therapy di Surabaya: Menyimak Diri Lewat Bunyi]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-135-sound-therapy-di-surabaya-menyimak-diri-lewat-bunyi</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-135-sound-therapy-di-surabaya-menyimak-diri-lewat-bunyi</guid>
                    <pubDate>Mon, 04 May 2026 07:00:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[TUJUHPAGI - Malam itu, keheningan merayap pelan di ruang Oasis, lantai empat Hotel JW Marriott Surabaya, Sabtu (2/5/2026). Udara dingin menggantung, nyaris tak]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #843fa1;">TUJUHPAGI - </span></strong>Malam itu, keheningan merayap pelan di ruang Oasis, lantai empat Hotel JW Marriott Surabaya, Sabtu (2/5/2026). Udara dingin menggantung, nyaris tak bergerak, seolah ikut menahan napas bersama puluhan orang yang berbaring di atas matras. Mata mereka terpejam. Bukan untuk tidur, melainkan untuk mendengar sesuatu yang sering luput: bunyi yang datang dari luar, dan gema yang muncul dari dalam diri.</p>
<p>Di ruang yang diredupkan itu, suara tidak sekadar terdengar. Ia hadir sebagai getaran&mdash;halus, berlapis, kadang menghantam, kadang mengalir seperti air. Instrumen-instrumen sederhana dimainkan perlahan, menciptakan lanskap bunyi yang sulit dijelaskan dengan bahasa sehari-hari. Namun justru di situlah letak pengalaman itu: ia tidak selalu ingin dimengerti, melainkan dirasakan.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202605/whatsapp-image-2026-05-03-at-140711-1.jpeg" alt="Di ruang temaram, tubuh-tubuh berbaring diam, sementara bunyi bekerja pelan menembus yang tak terlihat. (Foto: M. Iffan)" width="100%" height="auto" /></p>
<p>Sesi sound therapy malam itu dipandu Budho Adhi Saddharmo, yang akrab disapa Couch Bodaz. Dengan ritme yang nyaris seperti ritual, ia mengajak para peserta memasuki sound bath&mdash;sebuah praktik terapi suara yang kini mulai dikenal di berbagai kota besar, termasuk Surabaya.</p>
<p>Sound therapy sendiri bukan hal baru di dunia kesehatan alternatif. Metode ini menggunakan gelombang suara untuk membantu tubuh mencapai kondisi relaksasi. Bunyi yang digunakan beragam: dari gong yang dalam dan bergema, singing bowl yang bergetar panjang, hingga suara-suara yang menyerupai alam&mdash;air, angin, bahkan sesuatu yang terasa seperti denyut bumi itu sendiri.</p>
<p>Namun, bagi Bodaz, sound therapy bukan sekadar teknik.</p>
<p>&ldquo;Dalam sound therapy, seseorang langsung merasakan efeknya melalui tubuh tanpa arahan sugestif. Gelombang suara dari ketukan yang konsisten dapat memengaruhi kondisi sel-sel tubuh secara langsung. Ini berbeda dengan hipnosis, karena tidak melibatkan sugesti.&rdquo; Jelas Bodaz.</p>
<p>Penjelasan itu melayang di antara bunyi-bunyi yang terus dimainkan. Dalam praktiknya, para peserta tidak diminta melakukan apa-apa selain hadir&mdash;mendengarkan, merasakan, dan membiarkan tubuh mereka merespons.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202605/whatsapp-image-2026-05-03-at-140712.jpeg" alt="Antara hening dan suara, peserta belajar mendengar dirinya sendiri dengan cara yang baru. (Foto: M. Iffan)" width="100%" height="auto" /></p>
<p>Secara ilmiah, gelombang suara memang memiliki frekuensi tertentu yang dapat memengaruhi sistem saraf. Ritme yang stabil cenderung membantu tubuh menurunkan ketegangan, memperlambat napas, dan membawa pikiran ke kondisi yang lebih tenang. Namun di ruang itu, teori terasa seperti sesuatu yang jauh. Yang hadir justru pengalaman yang personal&mdash;kadang lembut, kadang mengusik.</p>
<p>Setiap instrumen membawa wataknya sendiri. Gong, misalnya, tidak hanya berbunyi; ia seolah membuka ruang. Getarannya panjang, dalam, seperti sesuatu yang datang dari tempat yang sangat jauh.</p>
<p>&ldquo;suara gong merepresentasikan benturan atau hantaman, sebuah simbol awal mula kehidupan. Seperti halnya bumi yang terbentuk dari tabrakan benda-benda langit, suara tersebut mengingatkan kita pada asal-usul kehidupan.&rdquo;Ujar Bodaz.</p>
<p>Bunyi itu, bagi sebagian peserta, bisa terasa menenangkan. Bagi yang lain, justru menggetarkan sesuatu yang lama tersimpan. Di sinilah sound therapy menjadi pengalaman yang tidak seragam. Ada yang menemukan ketenangan, ada pula yang berhadapan dengan emosi yang selama ini tersembunyi rapi.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202605/whatsapp-image-2026-05-03-at-140712-1.jpeg" alt="Malam di Surabaya itu, bunyi tidak sekadar terdengar&mdash;ia tinggal, beresonansi, dan perlahan menetap. (Foto: M. Iffan)" width="100%" height="auto" /></p>
<p>Dalam beberapa sesi, Bodaz menyebut ada peserta yang mengalami visualisasi tertentu&mdash;melihat warna, bentuk, atau potongan ingatan yang muncul tanpa diundang. Bagi sebagian orang, pengalaman itu terasa seperti perjalanan batin; bagi yang lain, mungkin hanya sekadar sensasi yang lewat.</p>
<p>Namun, tidak semua orang langsung merasa nyaman. Di Surabaya, menurut Bodaz, banyak peserta yang masih menahan diri.</p>
<p>Ia membandingkannya dengan pengalaman di Bali, di mana orang-orang lebih terbuka mengekspresikan emosi. Di Surabaya, peserta cenderung diam, mengamati, seolah masih mencari batas antara rasa aman dan keinginan untuk benar-benar melepaskan diri.</p>
<p>Meski demikian, minat terhadap sound therapy terus tumbuh. Di tengah ritme kota yang padat, metode ini menawarkan sesuatu yang sederhana namun jarang: jeda.</p>
<p>Di antara para peserta malam itu, Atim Febry merasakan pengalaman yang tidak langsung utuh. Pada awal sesi, pikirannya masih bergerak ke sana kemari, sulit untuk benar-benar diam. Namun perlahan, sesuatu berubah.</p>
<p>&ldquo;Yang paling saya suka adalah suara air, terutama di bagian akhir, karena benar-benar membuat rileks. Bahkan saat istirahat, saya sering memutar instrumen serupa untuk membantu tidur lebih cepat.&rdquo;Ujar Febry.</p>
<p>Suara air, dibandingkan gong atau instrumen lain, terasa lebih akrab&mdash;lebih mudah diterima. Ia mengalir tanpa mengagetkan, seperti sesuatu yang sudah dikenal tubuh sejak lama.</p>
<p>Namun, ada juga momen yang sempat membuatnya terkejut.</p>
<p>&ldquo;Saya sempat sedikit kaget saat suara gong dibunyikan, dan di awal lagu terasa agak menakutkan dengan nuansa mistis. Namun, secara keseluruhan pengalaman tersebut tetap baik dan menyenangkan.&rdquo;Jelas Febry.</p>
<p>Reaksi seperti itu bukan hal yang asing dalam sound therapy. Bunyi, terutama yang tidak biasa didengar sehari-hari, bisa memunculkan rasa asing&mdash;bahkan takut. Tetapi justru di situlah, sering kali, tubuh mulai membuka lapisan-lapisan yang selama ini tertutup.</p>
<p>Sound therapy tidak menawarkan hasil yang instan atau seragam. Ia tidak menjanjikan penyembuhan dalam satu sesi. Yang ia tawarkan adalah ruang&mdash;ruang untuk mendengar, merasakan, dan mungkin, memahami diri dengan cara yang berbeda.</p>
<p>Di Indonesia, praktik ini mulai berkembang, terutama di kota-kota seperti Bali dan Jakarta. Bali, dengan keterbukaannya terhadap eksplorasi spiritual dan emosional, menjadi salah satu tempat di mana sound therapy lebih mudah diterima. Sementara di kota lain, termasuk Surabaya, perkembangannya masih bertahap, tumbuh bersama rasa ingin tahu masyarakat.</p>
<p>Bodaz sendiri melihat perjalanan ini belum selesai. Ia masih terus belajar, menambah instrumen, dan membayangkan bentuk-bentuk baru dari sound therapy&mdash;bukan hanya sebagai terapi, tetapi juga sebagai pertunjukan.</p>
<p>&ldquo;Saya ingin menghadirkan sesuatu yang benar-benar baru yang belum pernah didengar atau dilihat sebelumnya.&rdquo; Ujar Bodaz.</p>
<p>Mungkin, pada akhirnya, sound therapy bukan hanya tentang suara. Ia tentang bagaimana manusia, di tengah dunia yang bising, mencoba kembali ke sesuatu yang paling dasar: mendengar.</p>
<p>Malam pun usai. Para peserta perlahan membuka mata, bangkit, dan kembali ke dunia yang terang, yang penuh dengan kata-kata dan aktivitas. Namun ada sesuatu yang tertinggal&mdash;resonansi halus yang tidak langsung hilang.</p>
<p>Di ruang gelap itu, bunyi telah bekerja dengan caranya sendiri. Ia menyentuh tanpa menyentuh, berbicara tanpa kata. Dan mungkin, di antara gema yang tersisa, ada bagian kecil dari diri yang akhirnya terdengar. (Fan/tap)<br /><br /></p>
<p>&nbsp;</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202605/whatsapp-image-2026-05-03-at-140711.jpeg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Getaran gong menggulung ruang, seperti mengingatkan sesuatu yang pernah ada sebelum kata-kata. (Foto: M. Iffan)]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Ardhia Tap]]></dc:creator><category><![CDATA[Liputan]]></category><category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Sejarah Hari Buruh 1 Mei di Indonesia dan Perjuangannya]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-133-sejarah-hari-buruh-1-mei-di-indonesia-dan-perjuangannya</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-133-sejarah-hari-buruh-1-mei-di-indonesia-dan-perjuangannya</guid>
                    <pubDate>Sat, 02 May 2026 12:00:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[TUJUHPAGI - Hari Buruh tidak lahir sebagai perayaan. Ia tumbuh dari kelelahan yang menumpuk, dari tubuh-tubuh yang dipaksa bekerja melampaui batas manusia. ]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #843fa1;"><strong>TUJUHPAGI -&nbsp;</strong></span>Hari Buruh tidak lahir sebagai perayaan. Ia tumbuh dari kelelahan yang menumpuk, dari tubuh-tubuh yang dipaksa bekerja melampaui batas manusia. Pada awal abad ke-19, ketika mesin-mesin mulai berdengung di Eropa dan Amerika, manusia justru seperti kehilangan dirinya sendiri. Waktu dirampas: 19 jam, bahkan 20 jam sehari, dihabiskan di ruang-ruang kerja yang pengap. Upah kecil, hidup sempit, dan masa depan terasa seperti lorong tanpa cahaya.</p>
<p>Namun tubuh yang lelah tidak selalu diam. Ia belajar melawan.</p>
<p>Di Amerika, para pekerja mulai berhenti bekerja&mdash;sebuah tindakan sederhana yang menjelma menjadi perlawanan. Tahun 1806 mencatat mogok pertama, bukan sekadar soal upah, tapi soal martabat. Dari sana, lahir satu tuntutan yang terdengar begitu manusiawi sekaligus radikal: delapan jam bekerja, delapan jam beristirahat, delapan jam menjadi manusia.</p>
<p>Nama-nama seperti Peter McGuire dan Matthew Maguire muncul bukan sebagai pahlawan tunggal, melainkan sebagai suara dari kegelisahan kolektif. Mereka mengorganisasi, mengganggu ketertiban yang sebenarnya tidak adil sejak awal. Mereka mengusulkan satu hari untuk para pekerja&mdash;hari di mana buruh tidak hanya bekerja, tapi diingat.</p>
<p>Lalu datang 1 Mei 1886 di Chicago. Jalanan dipenuhi manusia. Sekitar 400 ribu buruh turun, membawa tuntutan yang sama: waktu yang lebih adil untuk hidup. Tapi sejarah sering kali ditulis dengan darah. Tembakan dilepaskan. Tubuh-tubuh jatuh. Para pemimpin dihukum mati. Dan sejak itu, mereka tidak hanya dikenang sebagai korban, tetapi sebagai martir&mdash;penanda bahwa keadilan sering menuntut harga yang tidak kecil.</p>
<p>Dari tragedi itu, dunia belajar mengingat. Tahun 1889, 1 Mei ditetapkan sebagai Hari Buruh Internasional. Sejak 1890, ia dirayakan di berbagai penjuru dunia&mdash;kadang dengan gegap, kadang dengan tekanan, tapi selalu dengan ingatan bahwa hak tidak pernah datang tanpa perjuangan.</p>
<p>Di Indonesia, gema itu sampai pada 1920. Hari Buruh mulai diperingati, menjadi bagian dari kesadaran bahwa kerja bukan sekadar kewajiban, melainkan juga hak. Di tempat lain, seorang anak bernama Ibarruri Aidit menyaksikan perayaan Hari Buruh di negeri jauh, lalu mengulanginya saat dewasa di Tiananmen&mdash;seolah menunjukkan bahwa ingatan tentang buruh memang melampaui batas negara.</p>
<p>Namun sejarah tidak selalu berjalan lurus. Di masa Orde Baru, Hari Buruh menghilang dari ruang publik. Ia dicurigai, disempitkan maknanya, bahkan ditakuti. Kata &ldquo;buruh&rdquo; sendiri seperti kehilangan tempatnya, seolah ia membawa bayang-bayang yang tidak diinginkan. 1 Mei bukan lagi hari libur, bukan lagi hari ingatan.</p>
<p>Tapi ingatan, seperti luka, tidak benar-benar hilang.</p>
<p>Setelah 1998, ia kembali muncul. Awalnya pelan&mdash;di kampus, di ruang-ruang kecil, di antara mahasiswa dan segelintir suara yang belum lelah. Lalu perlahan membesar. Jalanan kembali dipenuhi. Spanduk dibentangkan. Suara diteriakkan. Buruh, mahasiswa, dan berbagai elemen masyarakat bertemu dalam satu ritme: menuntut.</p>
<p>Dari Jakarta hingga Makassar, dari Bandung hingga Medan, May Day berubah menjadi peta yang hidup. Long march, orasi, dan nyanyian perjuangan mengisi kota-kota. Kekhawatiran akan kekacauan tidak pernah benar-benar terbukti. Yang ada justru ketegangan lama&mdash;antara suara rakyat dan cara negara mendengarnya.</p>
<p>Namun waktu juga mengubah banyak hal. Aksi-aksi tetap berlangsung, tuntutan semakin terarah: jaminan sosial, kesejahteraan, keadilan kerja. Bahkan ada saat ketika aparat dan buruh saling mengakui&mdash;bahwa demonstrasi tidak selalu berarti kekacauan.</p>
<p>Dan akhirnya, pada 2013, negara seperti mengingat kembali sesuatu yang lama dilupakan. 1 Mei diputuskan menjadi hari libur nasional, mulai berlaku 2014. Sebuah pengakuan yang datang terlambat, tapi tetap berarti.</p>
<p>Hari Buruh, pada akhirnya, bukan sekadar tanggal. Ia adalah ingatan panjang tentang manusia yang menolak diperlakukan sebagai alat. Ia adalah cerita tentang waktu yang direbut kembali, tentang tubuh yang memilih berdiri, tentang suara yang, meski pernah dibungkam, selalu menemukan jalan untuk kembali terdengar. (Nik)</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202605/whatsapp-image-2026-05-02-at-014920-4.jpeg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Aksi massa membawa bendera Merah Putih dalam peringatan Hari Buruh, mencerminkan semangat persatuan dan perjuangan pekerja di Indonesia. (Foto: M. Iffan)]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Ardhia Tap]]></dc:creator><category><![CDATA[Opini]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Hari Buruh Surabaya,  Suara yang Tak Pernah Selesai Diperjuangkan]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-132-hari-buruh-surabaya-suara-yang-tak-pernah-selesai-diperjuangkan</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-132-hari-buruh-surabaya-suara-yang-tak-pernah-selesai-diperjuangkan</guid>
                    <pubDate>Sat, 02 May 2026 07:00:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[TUJUHPAGI - Aku membayangkan Hari Buruh seperti sebuah ingatan kolektif yang berdenyut pelan, seperti nadi di pergelangan tangan yang sering kita ]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #236fa1;"><strong>TUJUHPAGI -&nbsp;</strong></span>Aku membayangkan Hari Buruh seperti sebuah ingatan kolektif yang berdenyut pelan, seperti nadi di pergelangan tangan yang sering kita abaikan&mdash;padahal tanpanya, kita tak hidup. Ia bukan sekadar tanggal merah, bukan pula parade slogan yang teriakkan nyaring di jalan-jalan kota. Ia adalah luka lama yang belajar berbicara, kadang dengan teriakan, kadang dengan diam yang panjang.</p>
<h4><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202605/img5650.jpg" alt="Di bawah matahari Surabaya,  ribuan buruh itu berjalan&mdash;membawa sejarah yang tak pernah benar-benar usai. (Foto: M. Iffan)" width="100%" height="auto" /></h4>
<p>Di Indonesia, Hari Buruh memiliki riwayat yang berliku. Ia pernah dirayakan dengan semangat, lalu dibungkam oleh ketakutan politik, lalu dihidupkan kembali seperti sesuatu yang sempat dikubur tapi tak pernah benar-benar mati. Buruh di sini tidak hanya melawan jam kerja panjang, tetapi juga upah yang tak layak, kontrak yang rapuh, dan sistem yang seringkali tidak berpihak.</p>
<h4><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202605/whatsapp-image-2026-05-02-at-014920-2.jpeg" alt="Poster dan bendera diangkat tinggi, menyuarakan tuntutan hak dan keadilan bagi buruh. (Foto: M. Iffan)" width="100%" height="auto" /></h4>
<p>Hari yang tak pernah selesai dengan banyak perjuangan. Seperti siang itu, Jumat 1 Mei 2025. Jalanan Surabaya terlihat sesak. Ribuan buruh yang tergabung dari berbagi serikat burun turun ke jalan dengan membawa poster dan bendera serta iringan kendaraan, menuju tugu pahlawan.</p>
<p>Massa yang tergabung dari berbagai serikat kerja, seperti Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) dan aliansi GASPER, mereka menuntut hak - hak para buruh dari aksi sebelumnya.</p>
<h4><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202605/whatsapp-image-2026-05-02-at-014920-3.jpeg" alt="Perempuan-perempuan itu berdiri, bukan hanya sebagai saksi, tapi sebagai ingatan yang menolak dilupakan. (Foto: M. Iffan)" width="100%" height="auto" /></h4>
<p>Diantara suara massa yang menggema di sekitar Tugu Pahlawan, Sunarti selaku pimpinan cabang FSPMI Surabaya menyoroti terkait kesenjangan pendidikan terhadap anak buruh.</p>
<p>&ldquo;Kami mendesak penambahan kuota afirmasi bagi anak buruh dari 5 persen menjadi 10 persen agar mereka bisa mengakses sekolah negeri terdekat di Jawa Timur.&rdquo; kata Sunarti</p>
<p>Mungkin bukan hanya &nbsp;Sunarti, banyak buruh perempuan lain yang dalam aksi 1 Mei juga memiliki harapan sama. &nbsp;Indri, buruh perempuan yang dalam ceritanya pada saya ingin keadilan serupa bagi semua anak - anak buruh agar mendapatkan hak pendidikan yang sama tanpa ada persyaratan berbelit.</p>
<p>"Kami berharap anak-anak buruh dapat mengakses sekolah tanpa persyaratan yang memberatkan, agar memiliki kesempatan setara dalam meraih pendidikan dan meningkatkan kualitas hidup di masa depan.&rdquo;</p>
<p>Selain isu pendidikan, aksi mereka juga menuntut pembebasan pajak atas kendaraan bermotor keluaran tahun 2010 ke bawah.</p>
<h4><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202605/whatsapp-image-2026-05-02-at-014920-1.jpeg" alt=" Buruh perempuan turut bersuara, menuntut kesempatan pendidikan yang setara tanpa syarat memberatkan. (Foto: M. Iffan)" width="100%" height="auto" /></h4>
<p>Menjadi buruh adalah menjadi manusia yang bekerja&mdash;dan bekerja adalah bagian dari eksistensi. Tetapi sejarah menunjukkan, tidak semua kerja diperlakukan dengan hormat. Ada kerja yang dihargai tinggi, ada yang dianggap sepele. Padahal, dunia ini berdiri di atas kerja yang sering tidak terlihat: tangan yang merakit, yang membersihkan, yang mengangkut, yang menjaga.</p>
<p>Hari Buruh, bagi saya, adalah hari untuk mengingat tubuh. Tubuh yang lelah, tubuh yang diperas, tubuh yang tetap bertahan. Ia adalah hari ketika kita seharusnya bertanya: siapa yang membuat hidup kita berjalan? Dan mengapa mereka sering tidak terlihat?</p>
<h4><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202605/whatsapp-image-2026-05-02-at-014921.jpeg" alt="Aksi Hari Buruh di Surabaya menjadi pengingat bahwa perjuangan buruh belum selesai. (Foto: M. Iffan)" width="100%" height="auto" /></h4>
<p>Mungkin, Hari Buruh bukan hanya milik buruh. Ia milik semua orang yang pernah merasa lelah tapi harus tetap berjalan. Ia milik mereka yang tahu bahwa hidup bukan hanya tentang bekerja, tetapi juga tentang memiliki waktu untuk menjadi manusia. Dan setiap 1 Mei, sejarah itu seperti berbisik: perjuangan belum selesai. (Fan)</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202605/whatsapp-image-2026-05-02-at-014920.jpeg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Hari Buruh di Surabaya: ketika jalanan berubah menjadi ruang ingatan, dan perjuangan menemukan nadinya lagi. (Foto: M. Iffan Maulana)]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Ardhia Tap]]></dc:creator><category><![CDATA[Liputan]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Hari Buruh dalam Kenangan yang Lain]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-134-hari-buruh-dalam-kenangan-yang-lain</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-134-hari-buruh-dalam-kenangan-yang-lain</guid>
                    <pubDate>Fri, 01 May 2026 07:00:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[TUJUPAGI - Hari Buruh bukan sekadar tanggal merah. Ia tidak datang sebagai jeda, melainkan sebagai gema yang berulang di tubuhku. Setiap 1 Mei, dunia mungkin ]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #236fa1;">TUJUPAGI -&nbsp;</span></strong>Hari Buruh bukan sekadar tanggal merah. Ia tidak datang sebagai jeda, melainkan sebagai gema yang berulang di tubuhku. Setiap 1 Mei, dunia mungkin berhenti sejenak untuk beristirahat, tetapi aku justru kembali berjalan ke satu titik yang tak pernah benar-benar kutinggalkan.</p>
<p>Di sana, waktu tidak lurus. Ia berputar, seperti napas yang tercekat dan tak selesai dilepaskan. Pada 1 Mei 2003, laki-laki yang kesebut bapak meninggal dunia. Sejak itu, tanggal ini bukan lagi milik kalender bersama. Ia menjadi ruang sunyi yang hanya aku huni&mdash;tempat di mana ingatan berdiri tanpa suara, tetapi terasa begitu keras.</p>
<p>Ada hal-hal kecil yang tak ikut mati. Cara ia mengajariku menguasai napas, misalnya. Aku anak yang mudah terengah sejak SD, seperti paru-paruku terlalu sempit untuk dunia. Ia tidak memarahiku. Ia hanya berkata, pelan, bahwa napas bisa dilatih. Senam napas, katanya&mdash;seolah hidup adalah sesuatu yang bisa diatur ritmenya, tidak perlu tergesa, tidak perlu panik. Sampai sekarang, setiap kali dadaku sesak, aku seperti mendengar suaranya: tarik napas pelan, tahan 3 detik, lepaskan. Sederhana, tapi tak pernah benar-benar mudah.</p>
<p>Atau kaki yang mendadak kram di tengah malam, saat tidur paling lelap. Rasa sakit itu datang seperti ingatan yang tak diundang. Dulu, aku akan memanggilnya&mdash;bahkan pada pukul nol, ketika dunia lain sudah terlelap. Dan ia selalu datang. Tidak pernah menunda, tidak pernah mengeluh. Tangannya tahu cara meredakan nyeri, seperti ia mengerti bahasa tubuhku sebelum aku sempat menjelaskannya.</p>
<p>Kini, ketika kram itu datang lagi, aku terbangun dalam sunyi yang berbeda. Tidak ada langkah yang mendekat. Tidak ada tangan yang menenangkan. Hanya sisa ilmu mengatasi kaki yang kram, yang seolah aku ahli dan bisa kupamerkan pada anakku. haha.</p>
<p>Orang-orang merayakan atau sekadar melewati hari itu. Aku tidak. Aku mendengarkan kembali jejak yang ditinggalkan: langkah yang tak pulang, suara yang tak lagi memanggil, dan kehadiran yang berubah menjadi bayang paling setia.</p>
<p>Hari Buruh, bagiku, adalah hari kehilangan yang lebih besar dari tentang bekerja tanpa lelah. (*)</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202605/img5657.png" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Sebuah ingatan yang tertinggal cara bernapas tanpa Bapak. (Ilustrasi AI)]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Ardhia Tap]]></dc:creator><category><![CDATA[Opini]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Lautan Jaket Hijau di Surabaya, Suara Driver Online Menuntut Keadilan Tarif]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-131-lautan-jaket-hijau-di-surabaya-suara-driver-online-menuntut-keadilan-tarif</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-131-lautan-jaket-hijau-di-surabaya-suara-driver-online-menuntut-keadilan-tarif</guid>
                    <pubDate>Wed, 29 Apr 2026 07:00:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[TUJUHPAGI - Pagi itu, Surabaya dipenuhi lautan jaket hijau. Sekitar 1.000 driver yang tergabung dalam Aliansi Driver Online Bubarkan Aplikator Nakal atau ]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #236fa1;"><strong>TUJUHPAGI -&nbsp;</strong></span>Pagi itu, Surabaya dipenuhi lautan jaket hijau. Sekitar 1.000 driver yang tergabung dalam Aliansi Driver Online Bubarkan Aplikator Nakal atau DOBRAK bergerak dari Bundaran Waru menuju DPRD Jawa Timur, Selasa (28/4/2026), untuk menuntut keadilan tarif dan regulasi yang dianggap belum berpihak pada pengemudi.</p>
<p>Mereka datang dari berbagai layanan, mulai dari ojek online hingga taksi online. Dengan membawa spanduk, poster, dan kendaraan operasional, para driver menyuarakan tuntutan agar pemerintah daerah menegakkan aturan serta memberikan sanksi kepada aplikator yang dinilai tidak menjalankan Surat Keputusan Gubernur yang sudah ditetapkan dua tahun lalu.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202604/photo-2026-04-29-00-01-22-3.jpeg" alt="Rombongan driver online bergerak menuju DPRD Jawa Timur dalam aksi menuntut keadilan tarif. Rombongan driver online bergerak menuju DPRD Jawa Timur dalam aksi menuntut keadilan tarif. (M.Iffan)" width="100%" height="auto" /></p>
<p>Arif Widiyanto, salah satu driver sekaligus Ketua Himpunan Pengusaha Daring Indonesia (HIPDA) Sidoarjo, menyoroti ketimpangan tarif yang masih mereka alami. Untuk satu kali pengantaran, tarif dinilai terlalu kecil, bahkan bisa turun drastis ketika ada pesanan tambahan dalam satu perjalanan.</p>
<p>Ia juga mengkritik program hemat untuk roda empat yang tarifnya jauh di bawah ketentuan. Menurutnya, yang semestinya Rp3.800 per kilometer justru hanya berada di kisaran Rp2.600 hingga Rp2.800 per kilometer.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202604/photo-2026-04-29-00-01-221.jpeg" alt="Massa driver menyuarakan protes terhadap kebijakan tarif aplikator yang dinilai merugikan pengemudi. Massa driver menyuarakan protes terhadap kebijakan tarif aplikator yang dinilai merugikan pengemudi. (Foto: M.Iffan)" width="100%" height="auto" /></p>
<p>Di sisi lain, David Walalangi, perwakilan humas DOBRAK, menyebut pihaknya sudah menyampaikan aspirasi kepada legislatif. Namun, perjuangan belum selesai. Menurutnya, solusi tidak bisa hanya diserahkan kepada aplikator karena mereka akan terus mengikuti mekanisme persaingan harga.</p>
<p>David menilai pemerintah harus hadir sebagai regulator melalui pembentukan perda yang tegas dan tepat sasaran. Ia juga menegaskan bahwa persoalan transportasi online terus berulang setiap tahun dan semakin rumit dengan hadirnya aplikator baru yang memicu perang tarif.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202604/photo-2026-04-29-00-01-222.jpeg" alt="Seorang driver online mengangkat poster tuntutan saat aksi DOBRAK di Surabaya, Selasa (28/4/2026). Seorang driver online mengangkat poster tuntutan saat aksi DOBRAK di Surabaya, Selasa (28/4/2026). (Foto: M. Iffan)" width="100%" height="auto" /></p>
<p>Menjelang sore, massa mulai membubarkan diri. Namun bagi para driver, aksi ini bukan akhir, melainkan awal dari perjuangan panjang untuk memperjuangkan tarif yang adil dan perlindungan yang lebih pasti di jalanan. (Fan)</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202604/photo-2026-04-29-00-01-22-2.jpeg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Lautan Jaket Hijau di Surabaya, Suara Driver Online Menuntut Keadilan Tarif]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Ardhia Tap]]></dc:creator><category><![CDATA[Liputan]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Museum De Javasche Bank Surabaya Menyala oleh Kartini, Aksara Jawa, dan UMKM]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-130-museum-de-javasche-bank-surabaya-menyala-oleh-kartini-aksara-jawa-dan-umkm</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-130-museum-de-javasche-bank-surabaya-menyala-oleh-kartini-aksara-jawa-dan-umkm</guid>
                    <pubDate>Mon, 27 Apr 2026 07:00:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[TUJUHPAGI -  Siang itu Museum De Javasche Bank Surabaya tidak seperti museum. Ia lebih mirip pasar gagasan. Ramai. Penuh. Hidup. Orang datang dari banyak arah. ]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #843fa1;">TUJUHPAGI - </span></strong>&nbsp;Siang itu Museum De Javasche Bank Surabaya tidak seperti museum. Ia lebih mirip pasar gagasan. Ramai. Penuh. Hidup. Orang datang dari banyak arah. Pelajar. Pekerja. Warga. Turis asing. Semua bertemu di satu tempat yang dulu menjadi saksi lahirnya sejarah uang di kota ini. Minggu, 26 April 2026. Di sana Bank Indonesia menggelar <em>Women of Light: Tracing Courage Across Time</em>.&nbsp;</p>
<p>Acara ini digelar untuk menyambut dua peringatan penting bulan April: Hari Kartini dan Hari Warisan Budaya Dunia. Dua momen yang sebenarnya saling berkelindan. Kartini bicara tentang keberanian perempuan. Warisan budaya bicara tentang keberanian merawat identitas. Keduanya sama-sama soal masa depan.</p>
<h6><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202604/whatsapp-image-2026-04-26-at-230631.jpeg" alt="Museum De Javasche Bank Surabaya ramai dikunjungi masyarakat dalam rangkaian Women of Light: Tracing Courage Across Time, Minggu (26/4/2026). Acara yang digelar Bank Indonesia ini mempertemukan sejarah, budaya, dan pemberdayaan ekonomi dalam satu ruang. (Foto: M. Iffan)" width="100%" height="auto" /></h6>
<p>Hari pertama, Alisa Wahid bicara. Tentang perempuan. Tentang peran yang tak pernah selesai. Tentang Kartini yang ternyata masih sangat hidup dalam persoalan hari ini. Perempuan bukan hanya simbol. Ia adalah tenaga sosial. Ia adalah penggerak.</p>
<p>Memasuki hari berikutnya, pembahasan bergeser ke pelestarian budaya lokal. Bersama komunitas Puri Aksara Rajapatni, pengunjung diajak melihat kembali potensi aksara Jawa sebagai warisan penting yang memiliki nilai historis dan kebudayaan tinggi. Upaya mengenalkan aksara Jawa kepada generasi muda menjadi salah satu fokus utama agar warisan tersebut tidak hanya berhenti sebagai materi pembelajaran, melainkan tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<h4>UMKM, Budaya, dan Edukasi dalam Satu Ruang</h4>
<p>Kegiatan ini tidak hanya menampilkan unsur budaya dan sejarah, tetapi juga membuka ruang pembekalan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Bank Indonesia menempatkan UMKM sebagai bagian penting dari ekosistem pemberdayaan yang terhubung dengan budaya, pendidikan, dan pariwisata.</p>
<p>Di sudut-sudut museum, para pelaku UMKM mendapat pembekalan. Jadi budaya tidak berdiri sendiri. Ia disambungkan dengan ekonomi. Dengan pendidikan. Dengan pariwisata. Dengan kerja nyata.</p>
<p>Sebanyak tujuh museum ikut terlibat. Ada Museum Bank Indonesia Jakarta, Museum Nasional Indonesia, Museum Raden Ajeng Kartini di Rembang, Museum Kebangkitan Nasional, Museum 10 November, Museum Dr. Soetomo, dan Museum Pergerakan Wanita. Jumlah itu memang belum semua. Tapi sudah lebih banyak dari tahun lalu. Dan lebih penting lagi: ada kemauan untuk terus membuka pintu.</p>
<h6><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202604/whatsapp-image-2026-04-26-at-230631-6.jpeg" alt="Pengunjung menikmati pameran budaya dan pemberdayaan UMKM dalam Women of Light. (Foto: M. Iffan)" width="100%" height="auto" /></h6>
<h4>&nbsp;</h4>
<h4>Ruang Inklusif untuk Generasi Muda</h4>
<p>Selain diskusi dan pelatihan, acara ini juga menghadirkan sejumlah lomba yang melibatkan generasi muda. Lomba baca puisi menjadi ruang ekspresi bagi peserta, sementara lomba fotografi memberi kesempatan untuk menangkap keindahan kawasan kota lama dan bangunan bersejarah di sekitar lokasi acara.</p>
<p>Seluruh rangkaian dibuat inklusif agar dapat diikuti oleh berbagai kalangan.&nbsp;</p>
<p>Ada lomba baca puisi. Ada lomba fotografi. Mereka tidak sekadar hadir sebagai penonton. Mereka diajak ikut menafsirkan sejarah dengan caranya sendiri.</p>
<p>Kepala Bank Indonesia Jawa Timur, Ibrahim bilang sederhana tapi tegas. Tahun ini lebih banyak museum terlibat dibanding tahun sebelumnya. Dan Bank Indonesia terbuka untuk masukan. Kalau ada museum lain yang cocok, silakan. Asal tetap pas dengan tema.</p>
<h6><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202604/whatsapp-image-2026-04-26-at-230631-7.jpeg" alt="Perwakilan Bank Indonesia menyampaikan sambutan dalam acara Women of Light: Tracing Courage Across Time di Museum De Javasche Bank Surabaya. Kegiatan ini mengangkat semangat Kartini, pelestarian budaya lokal, serta pemberdayaan UMKM. (Foto: M. Iffan)" width="100%" height="auto" /></h6>
<p>&ldquo;Tahun ini jumlahnya meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Ke depan, kami terbuka terhadap masukan dari rekan-rekan media terkait museum lain yang dapat dilibatkan, dengan tetap menyesuaikan tema yang diangkat.&rdquo;</p>
<p>Ibrahim menegaskan, kegiatan ini dirancang sebagai ruang kolaborasi lintas sektor.</p>
<p>&ldquo;Kegiatan ini tidak hanya berbicara tentang budaya, tetapi juga pemberdayaan ekonomi. Edukasi harus dilakukan secara lintas sektor, mulai dari peran perempuan, budaya, hingga pariwisata, agar mampu mendorong perekonomian masyarakat secara lebih luas,&rdquo; ujar Ibrahim.</p>
<p>Ia juga menggarisbawahi satu hal yang sering kita lupakan: budaya tidak cukup dijaga dalam katalog. Ia harus masuk ke ruang-ruang hidup. Harus bertemu ekonomi. Harus bersentuhan dengan pariwisata. Harus punya daya gerak.</p>
<p>Maka Women of Light terasa seperti lampu kecil di tengah arus besar modernisasi. Tidak menyilaukan. Tapi cukup untuk mengingatkan kita bahwa masa depan tidak selalu datang dari hal baru. Kadang ia justru lahir dari keberanian menjaga yang lama agar tetap bernyawa. (Fan)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202604/whatsapp-image-2026-04-26-at-230631-4.jpeg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Seorang pengunjung menyimak instalasi tentang pahlawan perempuan dalam rangkaian Women of Light di Museum De Javasche Bank Surabaya. (Foto: M. Iffan)]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Ardhia Tap]]></dc:creator><category><![CDATA[Liputan]]></category><category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Kelurahan Penanggungan Bentuk Posyandu Disabilitas, Layanan Didekatkan ke Warga]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-129-kelurahan-penanggungan-bentuk-posyandu-disabilitas-layanan-didekatkan-ke-warga</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-129-kelurahan-penanggungan-bentuk-posyandu-disabilitas-layanan-didekatkan-ke-warga</guid>
                    <pubDate>Sun, 26 Apr 2026 17:50:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[TUJUHPAGI - Ada yang berbeda di Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, Kota Malang.
Program untuk penyandang disabilitas tidak lagi berhenti pada]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #236fa1;">TUJUHPAGI</span></strong> - Ada yang berbeda di Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, Kota Malang.</p>
<p>Program untuk penyandang disabilitas tidak lagi berhenti pada sosialisasi. Tidak juga sebatas seremoni. Kelurahan ini mulai membangun layanan yang lebih nyata: Posyandu Disabilitas.</p>
<p>Sederhana namanya. Tapi besar maksudnya.</p>
<p>Layanan itu dibuat agar warga penyandang disabilitas tidak selalu harus pergi jauh untuk mendapat pemeriksaan. Terutama mereka yang berasal dari keluarga prasejahtera. Mereka yang untuk datang ke fasilitas kesehatan saja sering harus menghitung ongkos, waktu, dan tenaga.</p>
<p>Di Penanggungan, layanan itu ingin didekatkan. Ke kelurahan. Ke lingkungan warga. Ke tempat yang lebih mudah dijangkau.</p>
<p>Lurah Penanggungan, Amanullah Abror, mengatakan pembentukan Posyandu Disabilitas berangkat dari evaluasi program untuk kelompok rentan. Selama ini, anggaran untuk anak, perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas kerap habis untuk kegiatan yang pendek. Selesai acara, selesai pula dampaknya.</p>
<p>Ia ingin pola itu diubah.</p>
<p>&ldquo;Kami mendorong adanya interaksi yang berlangsung secara berkala. Tahun 2025 menjadi fase pembentukan, sementara 2026 difokuskan pada pelaksanaan program secara lebih luas,&rdquo; ujarnya saat ditemui di sela kegiatan, Sabtu (25/4/2026).</p>
<p>Maka Posyandu Disabilitas disiapkan bukan sebagai kegiatan sekali datang. Bukan pula sekadar daftar hadir dan dokumentasi. Program ini diarahkan menjadi layanan rutin.</p>
<p>Ada pemeriksaan. Ada pendataan. Ada asesmen. Ada pendampingan.</p>
<p>Abror mengatakan, layanan di tingkat kelurahan membuat pemerintah lebih cepat mengetahui kebutuhan warga. Siapa yang butuh pemeriksaan. Siapa yang butuh terapi. Siapa yang memerlukan pendampingan lebih lanjut.</p>
<p>&ldquo;Layanan diharapkan dapat diakses langsung di kelurahan. Program tidak berhenti pada kegiatan sesaat, tetapi dilanjutkan dengan pendataan dan asesmen sebagai dasar intervensi,&rdquo; kata Abror.</p>
<p>Untuk menjalankan program itu, Kelurahan Penanggungan menggandeng Malang Autism Center atau MAC. Lembaga ini membantu pendataan dan pemetaan kebutuhan penyandang disabilitas di wilayah tersebut.</p>
<p>Hasil awalnya sudah ada.</p>
<p>Terdapat sekitar 42 penyandang disabilitas di Kelurahan Penanggungan. Sekitar 30 persen merupakan penyandang disabilitas fisik. Sekitar 10 persen berada dalam spektrum autisme.</p>
<p>Angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya ada keluarga. Ada anak. Ada orang tua. Ada kebutuhan yang berbeda-beda.</p>
<p>Sebagian besar berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Karena itu, akses layanan menjadi persoalan utama. Bukan hanya soal ada atau tidak ada fasilitas. Tapi juga soal mampu atau tidak menjangkaunya.</p>
<p>Founder MAC, Mohammad Cahyadi, menyambut baik langkah Kelurahan Penanggungan. Menurut dia, layanan bagi penyandang disabilitas tidak bisa hanya melihat aspek fisik. Kesehatan mental juga perlu diperhatikan.</p>
<p>Terapi, kata dia, masih menjadi beban bagi banyak keluarga. Biayanya tidak murah. Sekali sesi bisa berkisar Rp150 ribu hingga Rp350 ribu.</p>
<p>Bagi keluarga mampu, angka itu mungkin masih bisa diatur. Bagi keluarga prasejahtera, lain ceritanya. Apalagi jika terapi harus dilakukan berulang dan rutin.</p>
<p>Melalui kerja sama dengan kelurahan dan dukungan donatur, Cahyadi berharap layanan terapi dapat diberikan dengan biaya yang lebih menyesuaikan kemampuan keluarga.</p>
<p>MAC sendiri telah menjalankan program terapi sejak 2022. Durasinya bisa mencapai 25 jam per minggu. Layanan itu diperuntukkan bagi anak dengan kebutuhan khusus.</p>
<p>Manfaat program mulai dirasakan warga.</p>
<p>Jaelani, salah satu orang tua peserta, mengatakan layanan di tingkat kelurahan membuat pemeriksaan anaknya lebih mudah. Ia tidak perlu menempuh jarak jauh. Tidak perlu lagi menghadapi kerepotan yang biasanya muncul saat membawa anak untuk pemeriksaan.</p>
<p>&ldquo;Anak saya sudah dua kali mengikuti pemeriksaan. Sangat membantu karena lokasinya dekat,&rdquo; ujarnya.</p>
<p>Itulah inti program ini: kedekatan.</p>
<p>Dekat secara jarak. Dekat secara layanan. Dekat secara perhatian.</p>
<p>Kelurahan Penanggungan kini menargetkan pengembangan sebagai wilayah ramah disabilitas. Rencananya, kelurahan akan menyediakan alat terapi dan ruang layanan sederhana. Fasilitas yang ada akan dimanfaatkan lebih dulu.</p>
<p>Tidak harus langsung besar. Yang penting berjalan. Yang penting rutin. Yang penting menyentuh warga yang membutuhkan.</p>
<p>Kelurahan juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak. Termasuk sektor swasta. Program tanggung jawab sosial perusahaan bisa diarahkan untuk memperkuat layanan bagi penyandang disabilitas.</p>
<p>Posyandu Disabilitas di Penanggungan akhirnya menjadi contoh kecil dari perubahan pendekatan. Warga tidak lagi hanya diundang untuk menghadiri acara. Mereka mulai didatangi kebutuhannya.</p>
<p>Layanan sosial tidak menunggu mereka datang ke pusat layanan. Layanan itu dibawa lebih dekat ke tempat mereka hidup sehari-hari.</p>
<p>Di kelurahan. Di lingkungan sendiri. Di ruang yang lebih akrab bagi mereka.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202604/76f85f35-94b8-454f-8661-f3b382a94a5d.jpeg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Peserta mengikuti layanan Posyandu Disabilitas di Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Sabtu, 25 April 2026.  (Foto : RLD)]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Ardhia Tap]]></dc:creator><category><![CDATA[Liputan]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Kita Tidak Sedang Belanja, Kita Sedang Dikalahkan]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-128-kita-tidak-sedang-belanja-kita-sedang-dikalahkan</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-128-kita-tidak-sedang-belanja-kita-sedang-dikalahkan</guid>
                    <pubDate>Fri, 17 Apr 2026 07:00:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[TUJUHPAGI - Bayangkan. Seseorang duduk berlama lama dalam diam. Laptop menyala. Ponsel di tangan. Secangkir kopi di samping. Tenang. Tapi pikirannya tidak. Ia]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #843fa1;">TUJUHPAGI - </span></strong>Bayangkan. Seseorang duduk berlama lama dalam diam. Laptop menyala. Ponsel di tangan. Secangkir kopi di samping. Tenang. Tapi pikirannya tidak. Ia sedang berbelanja. Atau lebih tepatnya: sedang berunding dengan dirinya sendiri.</p>
<p>Ini zaman baru. Dulu, orang ke pasar membawa daftar belanja. Sekarang, daftar itu kalah oleh notifikasi.</p>
<pre>&ldquo;Flash sale 70%.&rdquo; &nbsp;<br />&ldquo;Terbatas hanya hari ini.&rdquo; &nbsp;<br />&ldquo;Stok tinggal 3.&rdquo;</pre>
<p>Yang dibeli sering kali bukan yang dibutuhkan. Tapi yang ditakuti akan hilang. Saya sering bertanya: ketika belanja online, mana yang sebenarnya lebih penting? Harga murah atau kebutuhan? Jawabannya tidak sederhana.</p>
<p>Diskon itu menggoda. Ia seperti teman lama yang datang tiba-tiba, membawa kabar baik&mdash;padahal belum tentu penting. Kita merasa beruntung. Padahal bisa jadi sedang dikalahkan. Kebutuhan itu diam. Tidak berisik. Tidak muncul dalam notifikasi. Tapi justru itulah yang sering dilupakan.</p>
<p>Di layar laptop, pilihan begitu banyak. Di layar ponsel, semuanya terasa lebih dekat. Terlalu dekat. Sampai-sampai batas antara &ldquo;ingin&rdquo; dan &ldquo;butuh&rdquo; menjadi kabur. Orang membeli dua. Padahal cukup satu. Orang membeli sekarang. Padahal tidak perlu hari ini. Belanja online telah mengubah cara kita mengambil keputusan. Dulu, kita berpikir dulu baru membeli. Sekarang, kita membeli dulu&mdash;baru berpikir.</p>
<p>Yang menarik, semua itu terjadi dalam suasana santai. Duduk. Minum kopi. Tidak ada tekanan. Padahal, justru di situlah tekanannya. Tekanan untuk tidak ketinggalan, untuk merasa hemat dan merasa &ldquo;sayang kalau tidak dibeli&rdquo;. Kegelisahan manusia jaman sekarang, tentang manusia modern yang tidak lagi bertarung dengan harga. Tapi dengan dirinya sendiri. Dan sering kali&mdash;kalah.<br /><br /></p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202604/whatsapp-image-2026-04-17-at-001927.jpeg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Kita Tidak Sedang Belanja, Kita Sedang Dikalahkan]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Opini]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Arthur Rusli Debut di Australian Masters 2026, Harumkan Indonesia]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-127-arthur-rusli-debut-di-australian-masters-2026-harumkan-indonesia</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-127-arthur-rusli-debut-di-australian-masters-2026-harumkan-indonesia</guid>
                    <pubDate>Fri, 10 Apr 2026 13:37:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[TUJUH PAGI – Semangat pantang menyerah khas Arek Suroboyo ditunjukkan Arthur James Rusli di kancah golf internasional. Pegolf junior asal Surabaya ini sukses m]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 1.1rem; font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen, Ubuntu, Cantarell, 'Open Sans', 'Helvetica Neue', sans-serif;"><strong><span style="color: #843fa1;">TUJUH PAGI &ndash; </span></strong>Semangat pantang menyerah khas Arek Suroboyo ditunjukkan Arthur James Rusli di kancah golf internasional. Pegolf junior asal Surabaya ini sukses menuntaskan debut luar negerinya dalam ajang bergengsi Australian Masters 2026 yang digelar di Australia.</span></p>
<p>Keikutsertaan siswa Chung Chung Christian School ini menjadi catatan prestasi membanggakan bagi Indonesia. Turnamen tersebut merupakan panggung kompetisi internasional pertama bagi Arthur. Keputusan bertanding di Australia diambil untuk memperluas pengalaman, mengingat kualitas pemain profesionalnya yang mumpuni serta karakteristik lapangan (course) yang berbeda dari Indonesia.</p>
<p>Meski masih berusia muda, Arthur menghadapi tantangan mental dan fisik yang berat sepanjang pertandingan. Ia mengakui, pada hari pertama, rasa gugup menjadi lawan terberat saat harus bersaing dengan pemain mancanegara yang secara fisik lebih tinggi dan besar. Selain faktor psikologis, keterbatasan waktu adaptasi&mdash;hanya satu kali practice round&mdash;membuatnya harus bekerja ekstra keras menaklukkan kondisi lapangan.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202604/whatsapp-image-2026-04-10-at-105012-1.jpeg" alt="" width="100%" height="auto" /></p>
<p>Arthur merasakan perbedaan mencolok pada ketebalan bunker dan rough di Australia dibandingkan dengan lapangan di Tanah Air. Ia juga mengamati bahwa di turnamen kelas dunia, para pemain dituntut lebih mandiri dalam mengelola permainan di lapangan.</p>
<p>Kebanggaan turut dirasakan sang ayah, Anthony, yang menyaksikan langsung perjuangan putranya. Ia melihat perkembangan signifikan dari sisi mental dan kedewasaan bermain Arthur selama turnamen.</p>
<p>&ldquo;Sebagai orang tua, tentu saya sangat bangga. Arthur mampu mengatasi rasa gugup dan tetap fokus meski menghadapi tantangan bunker yang sulit. Ini menjadi modal penting bagi perkembangannya ke depan,&rdquo; ujar Anthony.</p>
<p>Menurutnya, keberanian Arthur keluar dari zona nyaman dan berkompetisi di luar negeri merupakan langkah besar dalam pembentukan karakter atlet profesional. Pengalaman di Australia menjadi motivasi tambahan bagi Arthur untuk mengejar target lebih tinggi di dunia golf.</p>
<p>&ldquo;Ke depan, saya ingin bermain lebih baik, lebih konsisten, dan mencetak skor under. Saya juga ingin kembali mengikuti kompetisi internasional, termasuk US Kids Championship mendatang,&rdquo; kata Arthur.</p>
<p>Prestasi ini menjadi bukti bahwa talenta muda Indonesia mampu bersaing di tingkat global dan mengharumkan nama bangsa di panggung olahraga internasional. (Kar)</p>
<p>&nbsp;</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202604/whatsapp-image-2026-04-10-at-105012.jpeg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Arthur James Rusli (tengah) berdiri di podium bersama para peserta usai tampil dalam ajang Australian Masters 2026 di Australia.]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Olahraga]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Jalan Kaki ke Kodam, Mahasiswa Tuntut Kasus Andrie Yunus Dibuka Terang]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-126-jalan-kaki-ke-kodam-mahasiswa-tuntut-kasus-andrie-yunus-dibuka-terang</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-126-jalan-kaki-ke-kodam-mahasiswa-tuntut-kasus-andrie-yunus-dibuka-terang</guid>
                    <pubDate>Fri, 10 Apr 2026 07:00:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[TUJUH PAGI - Sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM Nusantara Jawa Timur mendatangi Markas Kodam V/Brawijaya di Surabaya. Mereka membawa satu ]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #843fa1;">TUJUH PAGI -&nbsp;</span></strong>Sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM Nusantara Jawa Timur mendatangi Markas Kodam V/Brawijaya di Surabaya. Mereka membawa satu isu utama: kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus. Kamis sore, 9 April. Suasana sempat memanas.</p>
<p>Tuntutannya tidak banyak, tapi tajam. Transparansi. Dan pengusutan sampai tuntas. Bukan hanya pelaku lapangan, tetapi juga siapa di belakangnya.</p>
<p>Mereka juga mempersoalkan jalur hukum yang ditempuh. Para pelaku diproses di peradilan militer. Padahal, menurut mereka, ada dasar hukum agar kasus seperti ini dibawa ke peradilan umum. Di situlah letak kegelisahan mereka: soal keadilan dan supremasi hukum.</p>
<p>Perjalanan menuju markas tidak sepenuhnya mulus. Koordinator BEM Nusantara Jawa Timur, Denny Oktaviano Pratama, menceritakan adanya upaya penghadangan di jalan. Jumlahnya tidak banyak, tapi cukup untuk memperlambat langkah.</p>
<p>&ldquo;Dalam perjalanan, kami sempat dihadang oleh sekelompok orang yang awalnya berjumlah dua, lalu bertambah menjadi empat hingga enam orang, mereka tampak terorganisir untuk menghalangi aksi.&rdquo;</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202604/whatsapp-image-2026-04-09-at-213703-1.jpeg" alt="Sejumlah mahasiswa menggelar aksi di depan Markas Kodam V/Brawijaya, Surabaya, Kamis (9/4), menuntut pengusutan tuntas kasus penyiraman air keras terhadap aktivis  Andrie Yunus. (Foto: M. Iffan)" width="100%" height="auto" /></p>
<p>Alasan penghadangan: aturan internal kawasan militer. Massa diminta menunggu. Namun situasi telanjur tegang. Aksi tetap dilanjutkan.</p>
<p>&ldquo;Kami menegaskan bahwa kebebasan berpendapat dijamin oleh undang-undang sebagai hasil perjuangan reformasi. Oleh karena itu, aksi tetap dilanjutkan sebagai bentuk perlawanan dan penyampaian aspirasi di depan Markas Kodam V Brawijaya.&rdquo;</p>
<p>Di luar itu, ada cerita lain. Denny mengaku merasakan tekanan tidak langsung. Bukan ke dirinya, tapi lewat orang-orang terdekatnya. Kontak dilakukan menjelang Lebaran.</p>
<p>&ldquo;Sejak H-1 Lebaran, pihak TNI berulang kali mencoba menghubungi keluarga saya termasuk kekasih dan orang tua, bahkan hingga sekitar pukul 21.00 malam, untuk menanyakan keberadaan, komunikasi terakhir, dan posisi saya saat itu.&rdquo;</p>
<p>Bagi mereka, ini bukan sekadar aksi. Ini soal sikap. Soal ruang sipil. Soal hak untuk bersuara.</p>
<p>BEM Nusantara Jawa Timur akan terus mendesak instansi TNI, terutama Kodam V Brawijaya, untuk memberikan rekomendasi kepada Mabes TNI agar kasus ini segera diusut tuntas, tidak hanya berhenti pada pelaku di lapangan saja, tetapi sampai mengungkap dalang di balik peristiwa tersebut, serta pihak yang memerintahkannya agar diadili seadil &ndash; adilnya.&nbsp;</p>
<p>Bahkan, mereka membuka kemungkinan aksi lanjutan. Skalanya bisa lebih besar. Terutama jika ada indikasi intimidasi terhadap peserta aksi.</p>
<p>&ldquo;Kami menegaskan, apabila dalam aksi ini terdapat kawan-kawan yang mengalami intimidasi, maka kami akan menggelorakan gerakan yang lebih besar di depan Markas Kodam.&rdquo; Tegas Denny.</p>
<p>Di tengah panasnya situasi, satu hal tetap terlihat: mereka tidak ingin diam. Kasus Andrie Yunus menjadi alasan. Sekaligus pengikat. (MI)</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202604/whatsapp-image-2026-04-09-at-213703.jpeg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Sejumlah mahasiswa menggelar aksi di depan Markas Kodam V/Brawijaya, Surabaya, Kamis (9/4), menuntut pengusutan tuntas kasus penyiraman air keras terhadap aktivis  Andrie Yunus. (Foto: M. Iffan)]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Ardhia Tap]]></dc:creator><category><![CDATA[Liputan]]></category></item></channel></rss>