<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
            xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
            xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
            xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
            xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
            xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"><channel>
                <title>TujuhPagi - Berita Jawa Timur Terkini</title>
                <atom:link href="https://tujuhpagi.co/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
                <link>https://tujuhpagi.co/</link>
                <description>Berita terbaru dan terpercaya seputar Jawa Timur di Tujuh Pagi. Update cepat, akurat, dan mendalam tentang politik, ekonomi, budaya, serta peristiwa terkini</description>
                <lastBuildDate>Fri, 16 Oct 2026 15:14:00 +0700</lastBuildDate>
                <language>id-ID</language>
                <generator>https://tujuhpagi.co/</generator>
                <image>
                    <url>https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/logo/logo-kotak-tujuh-pagi.png</url>
                    <title>TujuhPagi - Berita Jawa Timur Terkini</title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/</link>
                </image><item>
                    <title><![CDATA[Kemenyan dan Sejarah di Balik Kata Bensin]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-152-kemenyan-dan-sejarah-di-balik-kata-bensin</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-152-kemenyan-dan-sejarah-di-balik-kata-bensin</guid>
                    <pubDate>Fri, 16 Oct 2026 15:14:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[TUJUHPAGI -  Bayangkan Anda melaju pelan di jalanan malam. Lampu jalan berkilau di kap mobil, sementara jarum penunjuk bahan bakar mendekati garis merah. Anda ]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #236fa1;">TUJUHPAGI</span></strong> - &nbsp;<span style="font-size: 1.1rem;">Bayangkan Anda melaju pelan di jalanan malam. Lampu jalan berkilau di kap mobil, sementara jarum penunjuk bahan bakar mendekati garis merah. Anda menepi di sebuah SPBU, membuka kaca, lalu mengucapkan kalimat yang akrab bagi banyak pengendara: &ldquo;Bensin, Mas. Penuh.&rdquo;</span></p>
<p>Kata itu terdengar sederhana. Kita mengucapkannya setiap hari tanpa banyak berpikir tentang asal-usulnya. Sebagian orang mungkin mengaitkannya dengan Karl Benz, tokoh otomotif asal Jerman. Namun, sejarah kata &ldquo;bensin&rdquo; menempuh jalur yang lebih panjang&mdash;dan salah satu pangkalnya berkaitan dengan nama getah kemenyan dari Asia.</p>
<p>Getah kemenyan, yang dikenal dalam perdagangan sebagai *benzoin*, telah lama menjadi komoditas bernilai. Salah satu dugaan asal nama *benzoin* menghubungkannya dengan ungkapan Arab *lubān jāwī*, yang berarti kemenyan atau dupa Jawa. Kata itu kemudian berubah bentuk ketika masuk ke berbagai bahasa Eropa. Hubungan ini tidak berarti bensin kendaraan dibuat dari kemenyan; yang berkelindan adalah sejarah nama, bukan bahan bakunya.</p>
<p>Pada abad ke-19, para ilmuwan mulai mengisolasi senyawa-senyawa baru dari berbagai bahan. Pada 1825, kimiawan Inggris Michael Faraday mengisolasi suatu hidrokarbon dari residu minyak gas untuk penerangan. Ia menamainya *bicarburet of hydrogen*. Senyawa yang kini dikenal sebagai benzena itu kemudian juga diperoleh secara berbeda oleh kimiawan Jerman Eilhard Mitscherlich, melalui distilasi asam benzoat pada 1833. Mitscherlich menamainya *Benzin*, mengambil nama tersebut dari *benzoic acid* dan keluarga istilah *benzoin*.</p>
<p>Benzena dan bensin bukan hal yang sama. Benzena adalah senyawa kimia tertentu, sedangkan bensin kendaraan merupakan campuran berbagai hidrokarbon. Meski demikian, sejarah istilah *Benzin* menjadi salah satu bagian dari perjalanan kata yang kemudian digunakan untuk menyebut bahan bakar.</p>
<p>Pada akhir abad ke-19, penyulingan minyak bumi menghasilkan berbagai produk, termasuk cairan ringan yang mudah menguap. Produk-produk semacam ini digunakan untuk beragam keperluan, antara lain sebagai pelarut dan pembersih. Nama yang dipakai saat itu berbeda-beda menurut produk dan tempat, sehingga tidak selalu sama dengan istilah &ldquo;bensin&rdquo; yang kita kenal sekarang.</p>
<p>Salah satu kisah terkenal dari masa itu terjadi pada Agustus 1888. Bertha Benz melakukan perjalanan jauh dengan mobil buatan suaminya, Karl Benz. Ketika bahan bakarnya habis, ia membeli *ligroin*&mdash;cairan berbasis minyak yang digunakan sebagai pelarut&mdash;di apotek Wiesloch. Peristiwa itu sering dikenang sebagai bagian penting dalam sejarah perjalanan mobil. Namun, *ligroin* pada masa itu tidak serta-merta identik dengan bensin modern.</p>
<p>Bagaimana istilah tersebut menjadi &ldquo;bensin&rdquo; dalam bahasa Indonesia? Kemungkinan besar, bentuknya berkaitan dengan istilah Eropa seperti <em>Benzin</em> atau Benzine, yang dikenal di wilayah Hindia Belanda pada masa perkembangan kendaraan bermotor dan perdagangan bahan bakar.</p>
<p>Bentuk &ldquo;bensin&rdquo; lalu menjadi kata yang lazim digunakan dalam bahasa Indonesia. Untuk memastikan jalur persis perubahan ejaannya, diperlukan bukti yang lebih khusus, misalnya iklan lama, arsip perusahaan minyak, atau catatan sejarah bahasa.</p>
<p>Kisah nama ini memperlihatkan perjalanan yang menarik: dari istilah yang dikaitkan dengan kemenyan, ke dunia kimia abad ke-19, lalu ke produk minyak bumi yang digunakan untuk menggerakkan kendaraan.</p>
<p>Hubungan itu bukan kisah tentang kemenyan yang berubah menjadi bahan bakar, melainkan tentang bagaimana sebuah nama berpindah lintas bahasa, ilmu pengetahuan, dan zaman&mdash;hingga akhirnya menjadi bagian dari percakapan sehari-hari di SPBU.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202610/img9624.jpeg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Ilustrasi Sejarah Etimologi kata bensin. Gambar oleh AI.]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Ardhia Tap]]></dc:creator><category><![CDATA[Opini]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Menyesap Paradoks Kayutangan di Balik Secangkir Kopi]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-151-menyesap-paradoks-kayutangan-di-balik-secangkir-kopi</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-151-menyesap-paradoks-kayutangan-di-balik-secangkir-kopi</guid>
                    <pubDate>Tue, 13 Oct 2026 12:13:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[TUJUHPAGI - Bagi banyak wisatawan, kunjungan ke Kayutangan terasa belum lengkap tanpa berfoto dengan latar bangunan dan lampu jalan bergaya klasik, lalu]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #3598db;">TUJUHPAGI - </span></strong>Bagi banyak wisatawan, kunjungan ke Kayutangan terasa belum lengkap tanpa berfoto dengan latar bangunan dan lampu jalan bergaya klasik, lalu singgah di kafe atau bistro di sepanjang koridor utamanya. Dari tepi jalan, kawasan ini menawarkan citra yang mudah dikenali: deretan bangunan lama yang mengingatkan pada kota Eropa, hadir di tengah Kota Malang.</p>
<p><br />Namun, Kayutangan tak hanya bisa dibaca dari fasadnya. Seperti kawasan bersejarah lainnya, ia menyimpan lapisan cerita yang tidak selalu tampak dari jalan utama. Menikmatinya hanya dari trotoar ibarat membaca buku sejarah dari sampulnya.</p>
<p>Dalam Malang Tempo Doeloe, Dukut Imam Widodo merekam berbagai kisah tentang kota ini. Kajian Handinoto mengenai arsitektur dan tata kota kolonial di Jawa juga dapat membantu membaca perubahan ruang di Malang. Untuk memahami Kayutangan secara lebih utuh, kisah-kisah tersebut perlu dilihat bersama kondisi kampung dan kehidupan warga yang berada di balik koridor utamanya.</p>
<p><br />Pada masa kolonial, tata ruang kota dibentuk oleh kepentingan dan hierarki sosial. Wijkenstelsel&mdash;kebijakan pengelompokan permukiman berdasarkan golongan penduduk&mdash;menjadi salah satu bagian dari sistem pengaturan tersebut. Namun, hubungan langsung antara kebijakan itu dan susunan ruang di Kayutangan perlu dibaca dengan merujuk pada sumber sejarah yang spesifik.</p>
<p>Di sepanjang jalan utama, bangunan-bangunan lama menjadi penanda penting wajah Kayutangan. Arsitektur kolonial, termasuk pengaruh gaya modern yang berkembang pada masa itu, membentuk tampilan koridor yang kini kerap menjadi daya tarik wisata. Sementara itu, di balik deretan bangunan tersebut, gang dan kampung menyimpan ruang hidup dengan suasana serta ritme yang berbeda.</p>
<p>Kontras antara jalan utama dan gang-gang di dalam kawasan itu mengingatkan pada pertanyaan yang masih relevan: siapa yang paling menikmati ramainya sebuah kawasan wisata, dan sejauh mana warga setempat ikut memperoleh manfaatnya?</p>
<p>Di koridor utama, pengunjung bisa menemukan kafe, restoran, dan berbagai usaha yang menyasar wisatawan. Masuk lebih jauh ke kawasan kampung, suasananya berubah. Teras rumah dapat menjadi tempat warga menerima tamu atau menjalankan usaha kecil. Di sejumlah sudut, bangku sederhana, kopi tubruk, jajanan tradisional, dan percakapan warga menghadirkan pengalaman yang berbeda dari kafe-kafe di jalan besar.</p>
<p>Perbedaan itu tidak serta-merta menunjukkan bahwa satu ruang lebih autentik daripada yang lain. Namun, ia memperlihatkan beragam cara orang menggunakan dan menghidupi Kayutangan: sebagai kawasan heritage dan tujuan wisata, sekaligus sebagai kampung tempat warga tinggal, bekerja, dan membangun usaha.</p>
<p>Cerita tentang Mbah Honggo atau Pangeran Honggo Koesoemo juga kerap dikaitkan dengan sejarah komunitas Muslim di bagian dalam kawasan tersebut. Kisah ini menarik untuk ditelusuri lebih jauh, tetapi perlu ditempatkan berdasarkan sumber sejarah yang dapat diperiksa&mdash;terutama ketika menghubungkannya dengan asal-usul permukiman, tokoh-tokoh pengikut Diponegoro, atau perkembangan Kayutangan pada masa berikutnya.</p>
<p>Karena itu, menyusuri Kayutangan sebaiknya tidak berhenti di jalan utama. Berjalan ke gang-gang kampung dapat membuka kesempatan untuk melihat sisi kawasan yang tidak tertangkap dalam foto fasad: rumah warga, usaha kecil, tempat-tempat bersejarah, dan kehidupan sehari-hari yang terus berlangsung di tengah perubahan kawasan.</p>
<p>Kayutangan bukan hanya panggung arsitektur masa lalu atau deretan tempat untuk menikmati kopi. Ia juga ruang hidup yang terus berubah, dengan kepentingan wisata, usaha, pelestarian, dan kehidupan warga yang saling berdekatan. Memahaminya berarti melihat bukan hanya bangunan yang tampak, tetapi juga orang-orang dan cerita yang membuat kawasan itu tetap hidup.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202610/a3f41688-8d35-4f32-afc9-07a011f45434.jpeg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Suasana gang di kayu tangan Malang.]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Opini]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Kerusakan Alam, Siapa yang Membayar?]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-150-kerusakan-alam-siapa-yang-membayar</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-150-kerusakan-alam-siapa-yang-membayar</guid>
                    <pubDate>Sun, 20 Sep 2026 08:00:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Kerusakan alam tidak pernah benar-benar jauh. Ia hadir dalam air yang kita minum, makanan yang kita santap, listrik yang kita gunakan, dan ruang hidup yang]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p>Kerusakan alam tidak pernah benar-benar jauh. Ia hadir dalam air yang kita minum, makanan yang kita santap, listrik yang kita gunakan, dan ruang hidup yang perlahan menyempit. </p>
<p>Pada 18 September 2026, gagasan itu mengemuka dalam diskusi dan pameran fotografi di Surabaya&mdash;dengan perempuan, pesisir, tambak, serta kampung-kampung yang menjadi saksi sekaligus penanggung biaya ekologis.</p>
<p>Sore itu, dinding C2O Library & Collabtive tidak dipenuhi angka. Tak ada grafik deforestasi, tak ada tabel emisi. Yang tergantung adalah foto-foto: wajah-wajah perempuan, tambak, pesisir, kampung, dan sebuah pertanyaan yang sengaja dibiarkan terbuka&mdash;Kerusakan alam, siapa yang membayar?</p>
<p>Acara tersebut digelar WALHI Jawa Timur bersama C2O Library & Collabtive untuk memperingati Hari Keadilan Ekologis. </p>
<p>Kegiatannya mencakup peluncuran zine terbaru, bincang-bincang, dan pameran fotografi.</p>
<p>Penutur utamanya adalah Bambang Catur dari Klub Indonesia Hijau 03 dan pewarta foto Muni Moon. Juru kampanye WALHI Jawa Timur, Lucky Wahyu, memandu diskusi.</p>
<p>Dalam diskusi bertajuk &ldquo;Delusi Menyelamatkan Bumi & Ancaman Terhadap Kelayakan Hidup&rdquo;, Muni Moon mengusung tema &ldquo;Kerusakan Alam, Siapa yang Membayar&rdquo;.</p>
<p>Ia ingin fotografi tidak berhenti pada hutan yang jauh atau laut yang entah di mana.</p>
<p>Foto, baginya, harus membuat kita melihat bahwa ekosistem berdiam di antara kita: pada air yang diminum, ikan yang dimakan, dan listrik yang dinyalakan.</p>
<p>&ldquo;Apa yang kita konsumsi, air yang kita minum, ikan yang kita makan, listrik yang kita pakai, itu semua terhubung dan berakar dari alam,&rdquo; kata Muni.</p>
<p>Ia lalu bercerita tentang semanggi. Makanan khas Surabaya itu kian sulit ditemukan. Bukan karena resepnya lenyap, melainkan karena lahan di Kampung Sememi terus menyusut.</p>
<p>Warga menanam di lahan sendiri yang semakin sempit, lalu membawa hasilnya ke pusat kota.</p>
<p>Jarak, bensin, dan ongkos ojek membuat mereka hanya dapat berjualan pada Jumat, Sabtu, dan Minggu.</p>
<p>&ldquo;Kelangkaan makanan khas Surabaya akan lama-lama tergerus karena tidak ada lahan, karena lahannya dijadikan perumahan,&rdquo; ujarnya.</p>
<p>Dari semanggi, percakapan bergerak menuju pertanyaan yang lebih besar: siapa yang membayar ketika rumah tergusur, sungai tercemar, dan penyakit datang tanpa diundang?</p>
<p>Muni menyebut masyarakat di Papua, Sumatra, dan berbagai tempat lain. Mereka tidak selalu menikmati hasil sumber daya alam, tetapi kerap menjadi pihak pertama yang menerima akibat kerusakannya.</p>
<p>&ldquo;Kita yang buat, kita yang menerima,&rdquo; katanya.</p>
<p>Bagi Muni, kota tidak pernah benar-benar kebal. Warga Surabaya pun berhadapan dengan air PDAM yang menguning, panas yang menyengat, dan ikan segar yang semakin sulit diperoleh.</p>
<p>Ia mengajak audiens mengurangi konsumsi&mdash;bukan memusuhi plastik, melainkan menimbang kembali pemakaiannya. Demikian pula dengan listrik.</p>
<p>&ldquo;Kita harus bersolidaritas kepada mereka. Jangan itu menjadi persoalan mereka saja, itu juga persoalan kita,&rdquo; ujarnya.</p>
<p>Ia menyinggung reklamasi di Kenjeran. Dampaknya, kata dia, tidak hanya ditanggung warga pesisir. Wonorejo, Rungkut, dan kawasan lain di Surabaya pun akan terdampak.</p>
<p>Karena itu, isu ekologis bukan pekerjaan segelintir orang. Alam tidak mungkin hanya dijaga petani atau masyarakat adat, sementara warga kota merasa cukup menjadi penonton.</p>
<p>Di bagian lain pameran, hampir seluruh subjek foto Muni adalah perempuan. Ia menyebut perempuan sebagai pagar kehidupan.</p>
<p>Di rumah, ketika air menjadi kotor, yang dicari adalah ibu. Ketika beras terasa tak enak, yang ditanya juga ibu. Ketika listrik padam, nama yang dipanggil kembali ibu.</p>
<p>Di Lamalera, perempuan menjual ikan ke gunung dan menukarnya dengan sembako. Dalam pertanian, perempuan menjadi petani. Di pesisir Bulak Banteng, mereka berdiri sebagai ujung tombak kehidupan sehari-hari.</p>
<p>&ldquo;Kecerewetan atau ke-warning-an perempuan terkadang lebih dekat, lebih bisa masuk kepada orang-orang di sekitar,&rdquo; katanya.</p>
<p>Di Bulak Banteng, kesadaran itu bergerak setelah pameran. Warga melihat foto kampung mereka sendiri. Mereka mulai menyadari bahwa kampung itu kotor, bahwa ada tetangga yang sakit kanker, lalu meninggal.</p>
<p>Sepulang dari pameran, mereka membersihkan tambak, menanam mangrove, dan membuat lahan tanaman herbal.</p>
<p>Mereka juga menyusun aturan bersama: siapa pun yang membuang sampah dikenai denda Rp2.000.</p>
<p>&ldquo;Fotografi punya kekuatan lebih ketika mereka melihat secara jelas, diam. Akhirnya mereka punya waktu untuk berpikir, berkontemplasi. Timbullah kesadaran,&rdquo; ujarnya.</p>
<p>Bambang Catur dari Klub Indonesia Hijau 03 melengkapi diskusi. Isu ekologis, kata dia, sering dianggap kurang seksi untuk diperbincangkan.</p>
<p>Namun justru karena itu, isu tersebut harus terus diperjuangkan. Kerusakan alam tidak cukup dibaca melalui angka. Ia harus dilihat melalui dampak yang dialami masyarakat sipil.</p>
<p>Acara itu bukan sekadar peluncuran zine atau pameran foto. Ia seperti sebuah pengingat yang diletakkan di tengah kota: solidaritas adalah senjata. Mari kita kokang bersama&mdash;bukan untuk menakuti, melainkan untuk menjalankan kerja bersama.</p>
<p>Sebab kerusakan alam tidak pernah benar-benar jauh. Ia hadir dalam air yang kita minum, makanan yang kita cari, dan udara yang kita hirup.</p>
<p>Kita yang membuat. Kita yang menerima. Maka sudah seharusnya kita pula yang menjaga. (Pat)</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/19f12c20-699d-43da-8a40-bbf98bd8883d.jpeg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Pewarta Foto, Muni Moon menunjukkan karya foto Perempuan-perempuan Bulak Banteng Kenjeran yang terancam ruang hidupnya yakni reklamasi. Foto: Patrick C Lumintu / Tujuh Pagi.]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Liputan]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Ludruk yang Tak Mau Tua: Dendam Tuyul Pesugihan]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-149-ludruk-yang-tak-mau-tua-dendam-tuyul-pesugihan</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-149-ludruk-yang-tak-mau-tua-dendam-tuyul-pesugihan</guid>
                    <pubDate>Tue, 15 Sep 2026 11:23:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[TUJUHPAGI -  Banyak orang berjarak dengan ludruk. Itu kenapa, ludruk keliling seakan menjadi jalan lain untuk mendekat pada masyarakat.  Malam itu, ludruk d]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #843fa1;">TUJUHPAGI -&nbsp; </span></strong>Banyak orang berjarak dengan ludruk. Itu kenapa, ludruk keliling seakan menjadi jalan lain untuk mendekat pada masyarakat. &nbsp;Malam itu, ludruk datang ke Bhaskara Mulyosari tanpa tiket dan tanpa gedung pertunjukan. Cukup panggung, gamelan, pemain, dan warga yang bersedia berhenti sejenak dari kesibukan malam.&nbsp;</p>
<p>Gamelan ditabuh. Tari Remo membuka acara. Kidungan jula-juli mengalun. Setelah itu, cerita utama dimulai. Luntas datang dengan lakon Dendam Tuyul Pesugihan. <img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/photo-2026-09-14-15-09-03-3.jpg" alt="Persiapan para pemeran ludruk sebelum pentas.  Patrik Cahyo Lumintu/Tujuh Pagi" width="100%" height="auto" /></p>
<p>Robet Bayoned, nama panggung dari Erland Setiawan, pendiri Luntas, menjelaskan bahwa cerita malam itu sengaja diangkat dari kehidupan masyarakat bawah. Ludruk, katanya, selalu punya ruang untuk membicarakan persoalan yang dekat dengan orang banyak. Salah satunya pesugihan.</p>
<p>&ldquo;Ludruk itu kan selalu mengangkat cerita persoalan-persoalan masyarakat bawah. Salah satunya pesugihan. Itu tidak asing lagi, bahkan banyak dilakoni masyarakat sendiri. Makanya kita angkat sebagai pesan atau peringatan,&rdquo; ujar Robet, Minggu 13 September 2026.</p>
<p><span style="color: #236fa1;">Lakon Dendam Tuyul Pesugihan bercerita tentang Hasan,</span> seorang lelaki yang lelah menjadi orang melarat. Ia lalu mengambil jalan pintas: pesugihan tuyul. Dari yang tak punya, Hasan berubah jadi kaya. Uangnya banyak. Ia pun merasa tak lagi membutuhkan tuyul. Namun pesugihan menuntut tumbal. Selama ini, tumbalnya adalah darah perawan.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/photo-2026-09-14-15-09-04-3.jpg" alt="Pentas ludruk yang digelar gratis keliling kampung oleh LUNTAS merupakan titik ke 10 atau lokasi terakhir dalam rangkaian Ludruk Merdeka volume 5 itu bertujuan untuk melestarikan kesenian ludruk kepada generasi muda di tengah maraknya era digitalisasi. Patrik Cahyo Lumintu/Tujuh Pagi" width="100%" height="auto" /></p>
<p>Pada suatu ketika, Hasan mendapat calon tumbal seorang gadis. Karena kecantikan gadis itu, Hasan jatuh cinta. Niat semula menjadikannya tumbal pun batal. Hasan berpikir, ia sudah kaya dan tak butuh tuyul lagi. Tetapi risiko tak bisa ditawar. Dukun dan tuyulnya ngamuk. Anak Hasan akhirnya meninggal, diambil tuyul itu.</p>
<p>&ldquo;Dari situ menjadi pelajaran bagi masyarakat. Kalau ingin kaya, ya bekerja. Jalan pintas itu selalu ada risiko-risiko,&rdquo; kata Robet</p>
<p>Pesannya sederhana. Tetapi justru karena sederhana, ia mudah sampai. Ludruk memang tidak hanya menghadirkan tawa. Ia juga membawa persoalan sehari-hari ke panggung: kemiskinan, keserakahan, godaan kekayaan, dan harga yang harus dibayar ketika seseorang memilih jalan yang keliru.</p>
<h2>Ludruk yang Berkeliling Kampung</h2>
<p>Setiap tahun, Luntas mendatangi 10 kampung di Surabaya dan Sidoarjo. Sejak 2022 hingga 2026, sudah lima volume digelar. Artinya, 50 kampung pernah menjadi tuan rumah.</p>
<p>&ldquo;Ludruk Merdeka memang momentum keliling kampung. Kami mulai sekitar 16 atau 17 Agustus untuk memperingati Hari Kemerdekaan. Karena itu namanya Ludruk Merdeka,&rdquo; kata Robet.</p>
<p>Luntas berdiri pada 2016 di Kampung Seni THR. Tempat itu kini sudah tidak ada. Namun kegelisahan yang melahirkan Luntas masih ada: penonton ludruk semakin berkurang. Luntas lalu mencoba membuat ludruk dengan kemasan baru. Namanya diambil dari daun beluntas.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/photo-2026-09-14-15-09-03-4.jpg" alt="Pentas ludruk yang digelar gratis keliling kampung oleh LUNTAS merupakan titik ke 10 atau lokasi terakhir dalam rangkaian Ludruk Merdeka volume 5 itu bertujuan untuk melestarikan kesenian ludruk kepada generasi muda di tengah maraknya era digitalisasi. Patrik Cahyo Lumintu/Tujuh Pagi" width="100%" height="auto" /></p>
<p>&ldquo;Daun beluntas itu tanaman semak yang manfaatnya banyak. Bisa menjadi obat, termasuk untuk mengurangi bau badan. Kami berharap Luntas menjadi obat kerinduan bagi penggemar ludruk,&rdquo; ujar Robet.</p>
<p><span style="color: #236fa1;">Beluntas juga kerap ditanam sebagai pagar rumah. Dari situlah muncul harapan lain: Luntas bisa menjadi pagar bagi kesenian ludruk agar tidak hilang.</span></p>
<p>Daun beluntas dapat dimakan sebagai lalapan atau diolah menjadi botok. Bisa dikonsumsi siapa saja. Begitu pula Luntas. Mereka tidak ingin menjadi ludruk untuk orang tua saja. Anak-anak dan generasi muda juga harus bisa menikmatinya. Materi pertunjukannya dibuat lebih edukatif.</p>
<p>&ldquo;Lawan kami bukan ludruk konvensional yang mengandalkan hal porno, jorok-jorokan, atau saling menyakiti. Kami memilih materi yang edukatif,&rdquo; kata Robet.</p>
<p>Namun kemasan baru tidak berarti meninggalkan pakem lama. Gamelan tetap dimainkan. Tari Remo tetap menjadi pembuka. Kidungan jula-juli tetap hadir sebelum cerita utama. Yang berubah adalah cara menyampaikannya.</p>
<p>Ada komedi yang lebih segar. Ada<em> black comedy</em>. Ada efek suara. Ada pula berbagai sentuhan panggung yang lebih dekat dengan selera penonton hari ini.</p>
<p>&ldquo;Tampilannya harus segar. Materi guyonannya juga harus segar. Kami menggunakan komedi modern, tetapi pakem tetap dipertahankan. Gamelan tetap menjadi pakem,&rdquo; ujarnya.</p>
<h2>Belajar dari Gen Z</h2>
<p>Muhammad Dipanegara Surya Wijaya termasuk penonton yang baru pertama kali melihat ludruk di Perumahan Bhaskara. Ia datang sebagai bagian dari generasi Z. Pulang dengan pengalaman baru.</p>
<p>&ldquo;Warga senang sekali. Banyak yang terhibur. Ini pertama kalinya Bhaskara menjadi tuan rumah teman-teman Luntas,&rdquo; kata Dipanegara.</p>
<p>Menurut dia, ludruk mampu membawa persoalan masyarakat ke atas panggung tanpa terasa menggurui. Cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari disampaikan melalui tawa.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/efde2271-8e54-41c3-b59e-aa38deddaffc.jpg" alt="LUNTAS menggelar pertunjukan tersebut untuk merawat kesenian ludruk dan mengenalkannya kepada generasi muda di tengah derasnya era digitalisasi. Patrik Cahyo Lumintu/Tujuh Pagi" width="100%" height="auto" /></p>
<p>&ldquo;Pesannya, kekayaan terbaik adalah ketika kita berusaha hingga sukses dengan mengandalkan Tuhan. Kalau melakukan hal yang dilarang Tuhan, seperti pesugihan, pasti ada akibatnya,&rdquo; ujarnya.</p>
<p>Pesan lain, katanya, adalah agar manusia tidak berhenti berusaha, bekerja, dan berikhtiar. Di situlah ludruk menemukan kekuatannya. Ia bisa menyampaikan nasihat tanpa harus berdiri sebagai guru. Cukup melalui tokoh yang salah langkah. Cukup melalui cerita yang membuat penonton tertawa. Lalu, perlahan, penonton diajak berpikir.</p>
<h2>Tidak Mau Ketinggalan Zaman</h2>
<p>Robet memahami bahwa ludruk tidak bisa terus-menerus menunggu penonton datang. Ludruk harus mendatangi penonton. Ia juga tidak bisa hanya mengandalkan cara lama. Dunia sudah berubah. Anak-anak muda mengenal cerita melalui gawai, video pendek, dan berbagai platform digital.</p>
<p>Karena itu, ludruk perlu ikut bergerak.</p>
<p>&ldquo;Kami hanya berupaya mengenalkan kembali ludruk kepada generasi Z yang sudah tertinggal pengetahuannya tentang seni budaya, khususnya ludruk,&rdquo; ujar Robet.</p>
<p>Malam di Bhaskara Mulyosari akhirnya selesai. Gamelan berhenti. Lampu panggung meredup. Para pemain kembali membereskan perlengkapan. Namun cerita tentang Hasan, tuyul, pesugihan, dan jalan pintas belum benar-benar selesai. Ia pulang bersama penonton.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/photo-2026-09-14-15-09-03-2.jpg" alt="" width="100%" height="auto" /></p>
<p>Ludruk tidak mati. Ia hanya perlu menemukan cara baru untuk bertemu dengan penontonnya. Di titik terakhir Ludruk Merdeka Volume 5, Luntas menunjukkan satu hal: tawa dan nasihat masih bisa duduk berdampingan di panggung yang sama.</p>
<p>Seperti sepenggal puisi berjudul bersiap menonton ludruk, karya Dadang Ari Murtono :</p>
<p style="text-align: center;"><em>"bersiap menonton ludruk adalah bersiap bersedih sebab malam mempunyai bujukannya sendiri dalam kantuk, nyamuk, hantu perokok tanpa kepala, dan ancaman pencopet yang keras kepala dan hanya dia yang memiliki hati teguh akan bersungguh tetap duduk berkenun saung di depan panggung&rdquo;</em></p>
<p>Bahkan mungkin, itulah cara ludruk tetap muda. (Pat)</p>
<p>&nbsp;</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/photo-2026-09-14-15-09-04-2.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Seniman dari Ludrukan Nom-noman Tjap Arek Soeroboio (LUNTAS) mementaskan ludruk berlakon &quot;Dendam Tuyul Pesugihan&quot; di Perumahan Bhaskara Mulyosari, Surabaya. 
Foto: Patrik Cahyo Lumintu/Tujuh Pagi]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Ardhia Tap]]></dc:creator><category><![CDATA[Liputan]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[216 Tahun Gereja Kepanjen Surabaya, Pamerkan Benda Liturgi untuk Publik]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-148-216-tahun-gereja-kepanjen-surabaya-pamerkan-benda-liturgi-untuk-publik</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-148-216-tahun-gereja-kepanjen-surabaya-pamerkan-benda-liturgi-untuk-publik</guid>
                    <pubDate>Sat, 12 Sep 2026 07:00:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Pameran terbuka pertama Galeri Kelsapa menghadirkan batu bata 1899 hingga monstrans, mengajak umat dan publik mengenang perjalanan gereja tertua di Surabaya.]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #236fa1;">TUJUHPAGI </span></strong>&nbsp;&mdash; Sore di kawasan Kepanjen tidak hanya menyisakan jejak sejarah pada dinding bangunan tua. Di salah satu sudut ruang, deretan benda liturgi tertata rapi di balik lembaran kaca.</p>
<p>Ada batu bata sisa pembangunan gereja tahun 1899&ndash;1900, guci liturgi, kasula, wadah minyak suci, monstrans, kempo, lenthera, perlengkapan meja altar, hingga tempat lilin altar.</p>
<p>Semuanya bukan sekadar artefak. <span style="color: #b96ad9;">Benda-benda itu</span> pernah hidup dalam doa, misa, dan perjalanan iman sebuah komunitas yang kini <span style="color: #b96ad9;">berusia 216 tahun.</span></p>
<p><span style="color: #b96ad9;"><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/405e74de-868c-4e69-9ff3-6cf141c96459.jpeg" alt="Pameran terbuka pertama Galeri Kelsapa menghadirkan batu bata 1899 hingga monstrans, mengajak umat dan publik mengenang perjalanan gereja tertua di Surabaya. (Sumber Foto: Patrick L)" width="100%" height="auto" /></span></p>
<p>Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria Surabaya&mdash;yang dikenal sebagai Kelsapa atau Gereja Kepanjen&mdash;tengah merayakan ulang tahunnya.</p>
<p>Misa syukur telah digelar pada 8 September 2026, bertepatan dengan hari kelahiran Santa Perawan Maria. Perayaan itu menjadi momen syukur atas perjalanan panjang gereja yang disebut-sebut sebagai gereja paling tertua di Surabaya.</p>
<p>&ldquo;Kita bersyukur bahwa gereja ini sudah berjalan, dari yang belum ada menjadi berproses menjadi ada, sehingga bisa berjalan dan bertahan usianya 216 tahun,&rdquo; ujar Emanuel Kristjanto, Sekretaris Dewan Pastoral Paroki dan Badan Gereja Katolik Paroki Kelsapa.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/bfa14518-c145-4bd0-937e-78ccb6b6cef7.jpeg" alt="Bukan hanya sejarah, pameran ini juga tentang rahmat yang diwariskan dari generasi ke generasi. (Sumber Foto: Patrick L)" width="100%" height="auto" /></p>
<p>Emanuel menuturkan, perjalanan gereja ini tidak lepas dari peran para pendahulu: para imam dan misionaris yang datang pada 1800-an dan 1900-an.</p>
<p>Dari tangan mereka, umat awal dibaptis dan komunitas iman tumbuh. Awalnya bukan dari pribumi, melainkan dari keluarga para imam dan utusan yang tinggal di Surabaya pada masa kolonial Belanda. Dari situ, jemaat berkembang hingga seperti sekarang.</p>
<p>Perayaan 216 tahun tidak berhenti pada misa syukur. Pada Sabtu, 12 September 2026, pukul 18.00, Gereja Kelsapa akan menggelar perayaan bersama umat dan perwakilan Kevikepan Surabaya Utara. Acara itu akan diisi talenta anak muda, tarian, hiburan, dan makan bersama.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/cff00259-0603-495e-b870-fc1408357c1d.jpegS" alt="Setiap koleksi punya cerita, ada yang selamat dari kebakaran, tapi tetap kembali menjadi bagian dari misa. (Sumber Foto: Patrick L)" width="100%" height="auto" /></p>
<p>Namun, salah satu yang paling menyita perhatian adalah pameran museum atau Galeri Kelsapa. Untuk pertama kalinya, benda-benda liturgi dan sarana prasarana yang dulu dipakai para misionaris dipamerkan secara terbuka.</p>
<p>Sebelumnya, koleksi itu tersimpan di museum dalam Balai Paroki. Kini, benda-benda tersebut &ldquo;dikeluarkan&rdquo; dari ruang terbatas agar bisa dilihat lebih banyak orang.</p>
<p>&ldquo;Ini baru pertama kali dalam bentuk pameran terbuka seperti ini,&rdquo; kata Emanuel.</p>
<p>Pameran bertema Gratia&mdash;<span style="color: #b96ad9;">yang berarti rahmat</span>&mdash;berlangsung 8 hingga 20 September 2026. Emanuel menjelaskan, tujuan pameran bukan hanya untuk umat Katolik atau Kristen, tetapi terbuka untuk umum.</p>
<p>Publik diajak mengenal benda liturgi yang biasa dipakai dalam ibadat dan misa, sekaligus menghargai perjuangan para pendahulu.</p>
<p>&ldquo;Karena kita harus menghargai, menghormati para pendahulu. Bagaimana mereka berproses, berdinamika, bertemu dengan sesama iman, bertemu dengan lintas agama. Itu sebuah perjuangan,&rdquo; tuturnya.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/5bd79a30-cb7e-4599-9bee-28a39c0639ef.jpeg" alt="Surabaya, Kepanjen : 8 hingga 20 September 2026, tempat benda tua bertemu doa yang baru." width="100%" height="auto" /></p>
<p>Di ruang pamer, nuansa Jawa sengaja dihadirkan. Ada topi, simbol-simbol budaya, dan alunan musik yang menyertai. Pameran ini tidak dibangun seperti museum yang kaku, melainkan seperti ruang yang hangat: tempat benda-benda tua bercerita, dan tempat orang-orang muda menuliskan harapan.</p>
<p>Salah satu bagian pameran adalah pohon anggur. Cabang-cabangnya menjadi tempat umat menggantungkan untaian doa dan ekspektasi. Isinya bebas: harapan untuk gereja 10&ndash;15 tahun ke depan, doa untuk keluarga, kelancaran studi, hingga permohonan bagi orang tua.</p>
<p>&ldquo;Kebaikan tidak kita miliki sendiri, syukur kita tidak miliki sendiri, tetapi bagaimana itu juga dirasakan dan dimiliki sesama kita yang lain,&rdquo; ujar Emanuel.</p>
<p>Bagi Fransiska Sindi Num, pengunjung dari SMP Stella Maris Surabaya, pameran ini menyentuh karena memperlihatkan perjalanan panjang yang tidak sederhana.</p>
<p>Ia mengaku terkesan pada benda-benda liturgi yang usianya sudah puluhan tahun, bahkan ada yang pernah selamat dari kebakaran.</p>
<p>&ldquo;Bagiku ini sangat berkesan karena ada perjalanannya. Ini sudah lama banget. Ada yang habis kebakaran juga masih ada di sini. Ini suatu hal yang harus kita kenang karena punya cerita tersendiri,&rdquo; kata Fransiska.</p>
<p>Ia menyebut monstrans&mdash;benda yang biasa digunakan dalam adorasi, tirakatan, dan Kamis Putih&mdash;sebagai salah satu koleksi yang paling membekas. Ia berharap generasi muda tidak melupakan warisan gereja ini.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/ff68c85d-08f6-4be4-9c78-3cda8d7c41c3.jpeg" alt="Gratia 216 tahun gereja Kepanjen Surabaya, benda liturgi yang dulu berdoa, kini bercerita melalui pameran terbuka, (Sumber Foto: Patrick L)" width="100%" height="auto" /></p>
<p>&ldquo;Semoga kalian bisa memajukan, melestarikan Gereja Katolik ini yang sudah berdiri 216 tahun. Semoga bangga, karena aku juga dari kecil di sini,&rdquo; ujarnya.</p>
<p>Gereja Kepanjen memang bukan hanya tempat ibadah. Ia telah menjadi cagar budaya dan salah satu ikon wisata Kota Surabaya. Banyak wisatawan lokal dan mancanegara datang mengunjunginya.</p>
<p>Lewat pameran Gratia, gereja tertua di Surabaya itu membuka pintu lebih lebar: bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi juga merawat harapan yang digantungkan di dahan-dahan pohon anggur.</p>
<p>Di usia 216 tahun, Kelsapa masih berdiri. Dan benda-benda liturgi yang dipamerkan itu seolah berkata: iman tidak hanya diwarisi, tetapi juga dirawat dari generasi ke generasi. (Pat)</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/58294fb9-5695-4c4e-b911-660c1eb68efa.jpeg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Pameran terbuka pertama Galeri Kelsapa menghadirkan batu bata 1899 hingga monstrans, mengajak umat dan publik mengenang perjalanan gereja tertua di Surabaya. (Sumber Foto : Patrick L)]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Ardhia Tap]]></dc:creator><category><![CDATA[Liputan]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Posyandu dan MBG: Ketika Kacang Hijau Mengajari Negara Mengurus Gizi]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-147-posyandu-dan-mbg-ketika-kacang-hijau-mengajari-negara-mengurus-gizi</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-147-posyandu-dan-mbg-ketika-kacang-hijau-mengajari-negara-mengurus-gizi</guid>
                    <pubDate>Wed, 09 Sep 2026 14:19:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[TUJUHPAGI - Mari kita sepakati satu hal: kenangan masa kecil kita soal gizi dari negara tidak pernah jauh-jauh dari mangkuk plastik berisi bubur kacang hijau ]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #236fa1;">TUJUHPAGI -&nbsp;</span></strong>Mari kita sepakati satu hal: kenangan masa kecil kita soal gizi dari negara tidak pernah jauh-jauh dari mangkuk plastik berisi bubur kacang hijau di Posyandu. Aromanya khas, perpaduan antara pandan, santan, dan aroma minyak kayu putih dari ibu-ibu PKK yang sibuk menimbang balita di dacin.</p>
<p>Sekarang, anak-anak kita berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih kolosal: program Makan Bergizi Gratis (MBG). Anggarannya puluhan triliun. Rapatnya sampai ke tingkat menteri. Kalau kacang hijau Posyandu itu ibarat film Warkop DKI yang sederhana tapi selalu sukses bikin bahagia, MBG ini ibarat film Hollywood: budget raksasa, kru di mana-mana, tapi kita sebagai penonton masih was-was apakah ending-nya bakal memuaskan atau malah flop.</p>
<p>Membandingkan keduanya memang agak kurang apple to apple. Lebih mirip membandingkan buah apel dengan, apelan malam minggu ke rumah mertua. Sama-sama bikin deg-degan, beda di ongkosnya (maaf, jokes bapak-bapak tahun 90-an harus keluar sedikit biar kita tidak terlalu tegang memikirkan APBN).</p>
<p>Tapi esensinya sama: negara ingin warganya bergizi. Dulu, balita dicekoki kacang hijau agar tidak kurang gizi dan berat badannya ideal. Sekarang, anak sekolah dikasih makan siang agar otaknya siap menyerap pelajaran, bukan cuma menyerap memori buruk di sekolah. Semangatnya amat sangat mulia.</p>
<p>Lalu, di mana letak kerumitannya? Jelas di skala dan logistik.</p>
<p>Waktu zaman Posyandu, rantai pasoknya sangat pendek. Ibu RT belanja ke pasar pagi-pagi, dimasak bareng ibu-ibu tetangga, menjelang siang langsung dibagikan. Kalau buburnya keenceran karena santannya kurang, atau kacang hijaunya masih 'keras kepala', belum empuk, sanksi sosialnya langsung turun hari itu juga. Ibu RT bisa jadi bahan pergunjingan satu kelurahan sampai bulan depan.</p>
<p>Sadar atau tidak, ini adalah sistem pengawasan antikorupsi paling mutakhir dan real-time yang pernah diciptakan peradaban manusia: mulut emak-emak.</p>
<p>Nah, MBG tidak sesederhana itu. Ini menyangkut puluhan juta mulut, setiap hari. Di Jawa Timur saja, bayangkan alur distribusinya dari sekolah di tengah kota yang panasnya minta ampun, sampai ke madrasah-madrasah di lereng pegunungan. Ada proses pengadaan, ada tender katering, ada vendor beras, vendor telur, sampai vendor kotak makan.</p>
<p>Di sinilah hukum fisika birokrasi kita kerap berlaku: semakin panjang meja birokrasinya, semakin banyak 'gizi' anggaran yang menguap sebelum jadi nasi. Ibarat menu ayam goreng, dari atas ukurannya paha utuh, turun ke provinsi jadi sayap, turun ke kabupaten jadi ceker, sampai di meja anak sekolah tinggal remah-remah kremesan.</p>
<p>Pertanyaannya, kenapa ayam menyeberang jalan? Ya karena di seberang ada tender katering. (Oke, ini jokes receh kedua, saya janji ini yang terakhir).</p>
<p>Titik rawan korupsinya justru ada di sentralisasi dan proses penunjukan pihak ketiga berskala besar. Kalau MBG diserahkan pada korporasi besar yang menang tender, orientasinya murni margin keuntungan.</p>
<p>Lalu bagaimana solusinya? Ya kembali saja ke "Khittah Posyandu".</p>
<p>Kuncinya adalah desentralisasi ekstrem. Jangan biarkan MBG dimonopoli oleh perusahaan katering besar tingkat provinsi atau kabupaten. Pecah anggarannya langsung ke titik-titik terkecil. Berdayakan warung-warung lokal, komite sekolah, atau bahkan kelompok PKK di sekitar sekolah. Peternak telur dan petani sayur lokal di desa tersebut langsung dijadikan penyuplai utama.</p>
<p>Ketika yang memasak adalah warga sekitar, dan yang makan adalah anak-anak dari tetangga mereka sendiri, ada tanggung jawab moral yang mengikat. Kalau telur dadarnya bau tengik atau nasinya keras, yang protes langsung orang tua murid ke tetangganya. Social control-nya hidup. Uang negara pun berputar tepat di warung dan pasar sebelah sekolah, bukan lari ke ibu kota.</p>
<p>Dengan mengadopsi mekanisme organik dan transparan ala kacang hijau Posyandu, program MBG bisa selamat dari penyakit kronis proyek pemerintah: kebocoran. Biarlah yang bocor cukup ban motor kita saja saat berangkat kerja, jangan sampai gizi anak bangsa ikut-ikutan bocor di tengah jalan. (Kur)</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/img8779.jpeg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Sumber gambar : suasana Posyandu tahun 1990 an, ilustrasi buatan AI.]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Opini]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Wajah Baru Warung Kopi Masa Kini di Surabaya]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-146-wajah-baru-warung-kopi-masa-kini-di-surabaya</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-146-wajah-baru-warung-kopi-masa-kini-di-surabaya</guid>
                    <pubDate>Mon, 07 Sep 2026 07:00:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[TUJUHPAGI - “Ngobrol di warung kopi, nyentil sana dan sini. Sekadar suara rakyat kecil, bukannya mau usil. Sambil minum kopi, ngobrol sana-sini. Sambil n]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #236fa1;"><strong>TUJUHPAGI</strong></span> - <span style="font-size: 1.1rem;">&ldquo;<span style="color: #b96ad9;"><em>Ngobrol di warung kopi, nyentil sana dan sini. Sekadar suara rakyat kecil, bukannya mau usil. Sambil minum kopi, ngobrol sana-sini. Sambil ngaduk-aduk kopi, jangan bawa ke hati.&rdquo;</em></span></span></p>
<p>Lirik lagu Dono Kasino Indro itu seperti merekam wajah warung kopi pada satu masa. Warkop adalah tempat orang duduk santai, menyeruput kopi, lalu membicarakan apa saja. Dari harga kebutuhan pokok sampai politik. Dari urusan kantor sampai kisah tetangga.</p>
<p>Obrolannya bisa serius. Bisa juga sekenanya. Kadang menyentil. Kadang menyindir. Tetapi semuanya selesai di meja kopi. Tidak perlu dibawa pulang. Apalagi dibawa ke hati.</p>
<p>Kini, suasana warung kopi mulai berubah. Orang tetap datang untuk minum kopi, tetapi tidak selalu untuk mengobrol. Sebagian datang membawa ponsel, memasang earphone, lalu masuk ke arena permainan digital.</p>
<p>Mereka menyebutnya mabar&mdash;main bareng.</p>
<p><span style="font-size: 1.1rem;">Di satu meja, beberapa anak muda duduk berdekatan. Namun mata mereka tertuju pada layar masing-masing. Jari-jari bergerak cepat. Sesekali terdengar suara pendek.</span></p>
<p>&ldquo;Serang!&rdquo;</p>
<p>&ldquo;Tunggu!&rdquo;</p>
<p>Percakapan di antara mereka memang tetap ada. Hanya saja, bahasanya bukan lagi soal kabar kampung atau politik kantor. Bahasa itu menjadi bahasa permainan: strategi, skor, lawan, dan kemenangan.</p>
<p>Adji, salah satu pelanggan yang biasa nongkrong di warung kopi, melihat perubahan itu sebagai sesuatu yang wajar.</p>
<p>&ldquo;Dulu ke warkop memang lebih banyak ngobrol. Sekarang orang datang bisa untuk mabar, kerja, atau sekadar buka media sosial. Tapi intinya tetap sama mas, ingin berkumpul atau ketemu teman,&rdquo; kata Adji.</p>
<p>Menurut Adji, mabar juga tidak selalu membuat orang benar-benar diam. Di sela permainan, obrolan tetap muncul. Bahkan, dari permainan itu sering lahir pertemanan baru.</p>
<p>Adji mengaku tidak ikutan mabar. Di usianya yang tidak lagi muda, warung kopi baginya masih&nbsp;</p>
<p>&nbsp;yang sama. Tempat bertemu teman dengan percakapan percakapan ringan setiap hari.&nbsp;</p>
<h2>Warkop yang Berubah, Kebiasaan yang Bergeser</h2>
<p>Dulu, warung kopi menjadi ruang untuk bertukar cerita. Orang datang dengan persoalan masing-masing, lalu membaginya di meja yang sama.</p>
<p><span style="font-size: 1.1rem;">Tidak ada layar yang memisahkan. Tidak ada koneksi internet yang harus dicari. Yang ada hanya kopi, rokok, kursi panjang, dan percakapan yang mengalir tanpa agenda.</span></p>
<p>Sekarang, warkop menjadi ruang yang lebih beragam. Ada yang datang untuk ngobrol. Ada yang bekerja dengan laptop. Ada yang rapat melalui panggilan video. Ada pula yang sengaja mencari tempat untuk mabar.</p>
<p>Warkop tidak lagi hanya menjual kopi. Ia menjual waktu dan suasana.</p>
<p>Karena itu, colokan listrik dan jaringan Wi-Fi mulai menjadi fasilitas yang sama pentingnya dengan gula dan sendok. Pelanggan bisa duduk berjam-jam dengan secangkir kopi di samping ponsel.</p>
<p>Pemilik warkop tentu menghitung perubahan ini. Pelanggan yang tinggal lama berarti ruang yang terpakai lebih panjang. Namun, mereka juga berpotensi memesan lebih banyak makanan dan minuman.</p>
<p>Di sinilah warkop beradaptasi. Ia harus menerima bahwa pelanggan datang dengan kebiasaan yang berbeda-beda.</p>
<h2>Dari Obrolan ke Layar</h2>
<p>Pergeseran dari ngobrol ke mabar bukan berarti budaya berkumpul telah hilang. Yang berubah adalah cara orang berinteraksi.</p>
<p>Generasi sebelumnya membangun kedekatan melalui percakapan langsung. Generasi sekarang bisa memulainya melalui permainan digital.</p>
<p>Dulu, seseorang mungkin dikenal karena sering duduk di meja yang sama. Kini, seseorang bisa dikenal lebih dulu melalui nama pengguna di dalam gim.</p>
<p>Namun, ada yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh layar: ekspresi wajah, tawa spontan, dan keheningan ketika seseorang sedang mendengarkan cerita orang lain.</p>
<p>Karena itu, warkop tetap memiliki pekerjaan rumah. Ia perlu menjadi tempat yang nyaman bagi pelanggan yang datang untuk mabar, tetapi tidak kehilangan fungsi sebagai ruang percakapan.</p>
<p>Adji berharap warkop tidak sepenuhnya berubah menjadi ruang digital.</p>
<p>&ldquo;Kalau bisa, tetap ada tempat untuk ngobrol langsung. Mabar boleh, main HP boleh, tapi sesekali ya ngobrol juga. Bagaimanapun, kita datang ke warkop bukan cuma untuk kopinya,&rdquo; katanya.</p>
<p>Warung kopi memang terus berubah. Dulu orang membawa koran. Kemudian membawa ponsel. Sekarang membawa gim dan koneksi internet.</p>
<p>Tetapi alasan orang datang sebenarnya masih sama: ingin bertemu, ingin ditemani, dan ingin merasa tidak sendirian.</p>
<p>Dono, Kasino, Indro menyanyikan lirik tentang warung kopi sebagai tempat untuk ngobrol dan menyampaikan suara rakyat kecil. Hari ini, suara itu mungkin bercampur dengan bunyi notifikasi dan seruan dari permainan.</p>
<p>Kopinya tetap diaduk. Obrolannya berganti bentuk. Dan seperti pesan dalam lagu itu, apa pun yang dibicarakan di warkop, jangan dibawa ke hati. (Kur)</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/img8732.jpeg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Suasana salah satu warung kopi di Surabaya. (Sumber Foto: Atap)]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Liputan]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Tari dan Dansa, Jejak Budaya Nusantara dan Eropa]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-145-tari-dan-dansa-jejak-budaya-nusantara-dan-eropa</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-145-tari-dan-dansa-jejak-budaya-nusantara-dan-eropa</guid>
                    <pubDate>Thu, 03 Sep 2026 15:34:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[TUJUHPAGI - Kita sering mencampuradukkan tari  dan dance. Tari modern disebut dance. Sanggar tari disebut dance studio. Tidak ada yang merasa sedang melakukan ]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #843fa1;">TUJUHPAGI - </span></strong>Kita sering mencampuradukkan <em>tari</em>&nbsp; dan <em>dance. </em>Tari modern disebut dance. Sanggar tari disebut dance studio. Tidak ada yang merasa sedang melakukan kesalahan. Bahasa memang selalu bergerak. Ia mengikuti zaman, seperti tubuh mengikuti irama.</p>
<p>Namun, ada satu hal yang menarik jika kita menengok ke masa kolonial Hindia Belanda: bangsa Eropa datang membawa banyak hal&mdash;bahasa, pakaian, tata ruang, gaya hidup, juga kebiasaan berdansa. Tetapi seni gerak tubuh Nusantara tidak ikut berganti nama.</p>
<p><span style="color: #236fa1;">Ia tetap disebut tari, bukan dansa.</span></p>
<p>Di situlah sejarah kecil ini menjadi menarik. Sebab bertahannya kata tari bukan semata-mata urusan kosakata. Di baliknya ada jarak sosial, perbedaan pandangan tentang tubuh, serta kemampuan kebudayaan lokal untuk menerima pengaruh asing tanpa kehilangan namanya sendiri.</p>
<h3>Dansa di Balik Pintu Societeit</h3>
<p>Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, dansa hidup di ruang-ruang yang tidak terbuka untuk semua orang.</p>
<p>Di Batavia, ada Societeit de Harmonie. Di Surabaya, ada Societeit Simpang. Dalam Jurnal Laras Aulia Mukti dan Wisnu dari Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang berjudul Komunitas Elite Eropa Di Surabaya Tahun 1870-1942, Societeit (atau sering disebut soos) adalah perkumpulan sosial serta bangunan tempat berkumpulnya kalangan elite pada masa kolonial Belanda.&nbsp;</p>
<p>Gedung-gedung itu bukan sekadar tempat orang menari. Ia adalah ruang pergaulan kaum Eropa, tempat orang bertemu, berbincang, membangun jaringan, bahkan melakukan lobi politik.</p>
<p>Di bawah lampu kristal dan diiringi musik dari negeri jauh, dansa menjadi tanda kelas sosial.</p>
<p>Siapa yang boleh masuk ke dalamnya? Bukan sembarang orang. Kaum bumiputra umumnya berada di luar pagar. Hanya sebagian kecil elite priyayi yang memperoleh kesempatan untuk bergaul dalam lingkungan Eropa.</p>
<p>Kolonialisme memang menciptakan pertemuan. Tetapi pertemuan itu tidak selalu berarti percampuran.</p>
<p>Ada tembok yang membatasi. Ada aturan yang tidak tertulis. Ada ruang untuk penguasa dan ruang untuk yang dikuasai.</p>
<p>Akibatnya, dansa tumbuh sebagai kebudayaan kaum elite kolonial. Sementara itu, tari, joget, tandak, dan berbagai kesenian gerak Nusantara terus hidup di alun-alun, balai desa, pelataran keraton, dan ruang-ruang komunal milik masyarakat.</p>
<p><span style="color: #236fa1;">Dansa berada di balik pintu Societeit. Tari tetap berjalan di tengah rakyat.</span></p>
<h3>Tubuh yang Berbeda Cara Berbicara</h3>
<p>Perbedaannya bukan hanya pada tempat. Tari Nusantara dan dansa Eropa juga lahir dari cara pandang yang berbeda terhadap tubuh, ruang, dan hubungan manusia dengan alam.</p>
<p>Prof. R.M. Soedarsono menjelaskan bahwa tari tradisional Indonesia memiliki beragam fungsi: ritual keagamaan, hiburan masyarakat, dan pertunjukan estetis di lingkungan istana.</p>
<p>Dalam banyak tradisi Nusantara, tubuh tidak sekadar dipakai untuk menghasilkan gerakan yang indah. Tubuh menjadi bagian dari hubungan yang lebih besar&mdash;hubungan manusia dengan leluhur, alam, masyarakat, dan kekuatan yang dipercaya berada di luar dirinya.</p>
<p>Gerak menunduk dapat berarti penghormatan. Langkah yang perlahan dapat berarti pengendalian diri. Posisi tubuh yang merendah dapat menunjukkan bahwa manusia bukan pusat dari seluruh semesta.</p>
<p>Dalam kebudayaan Jawa, misalnya, kehalusan gerak bukan berarti kelemahan. Ia adalah disiplin. Ia adalah cara tubuh berbicara tanpa suara.</p>
<p><span style="color: #236fa1;">Dansa Eropa membawa tata pergaulan yang lain. Ia berkembang sebagai tari sosial: dilakukan berpasangan, mengikuti irama musik, dan dalam banyak bentuk melibatkan kedekatan fisik antara laki-laki dan perempuan.</span></p>
<p>Di ruang dansa, tubuh bergerak dalam hubungan yang lebih personal. Di banyak ruang tari Nusantara, tubuh bergerak sebagai bagian dari upacara, cerita, kelompok, atau tatanan simbolik.</p>
<p>Tentu saja, perbedaan itu tidak bisa dibuat terlalu sederhana. Tari Eropa juga memiliki tradisi ritual dan pertunjukan. Tari Nusantara pun memiliki bentuk hiburan dan pergaulan. Tetapi pada masa kolonial, dansa dan tari hadir dalam lingkungan sosial yang berbeda. Masing-masing membawa aturan tubuhnya sendiri.</p>
<p>Karena itu, masyarakat Nusantara tidak merasa perlu mengganti semua tari dengan istilah dansa. Namanya tetap tari karena dunia maknanya memang berbeda.</p>
<h3>Ketika Bahasa Memilih, Bukan Sekadar Menerima</h3>
<p>Bahasa Melayu, yang kelak berkembang menjadi bahasa Indonesia, tidak sepenuhnya menolak istilah asing.</p>
<p>Kata <em>dansen </em>masuk dan berubah bunyi menjadi <span style="color: #236fa1;">dansa</span>. Namun, maknanya tidak dibiarkan melebar ke mana-mana. Dalam bahasa Indonesia, <span style="color: #236fa1;">dansa</span> lebih sering merujuk pada tari pergaulan gaya Barat yang dilakukan berpasangan.</p>
<p>Sementara itu, <span style="color: #236fa1;">tari</span> tetap menjadi kata yang lebih luas. Ia mencakup tari tradisional, tari klasik, tari kreasi baru, tari modern, hingga berbagai bentuk seni gerak yang tumbuh dari pengalaman masyarakat Indonesia.</p>
<p>Di sini terlihat bahwa bahasa tidak bekerja seperti kain yang hanya menyerap semua warna dari luar. Bahasa juga bisa memilih. Ia menerima satu unsur, tetapi menempatkannya di rak yang berbeda.</p>
<p>Dansa diterima. Tetapi tidak diberi kuasa untuk menggantikan tari.</p>
<h3>Nusantara Bukan Ruang Kosong</h3>
<p>Kajian Edi Sedyawati tentang seni pertunjukan Nusantara menunjukkan bahwa masyarakat lokal bukanlah penonton pasif dalam sejarah kebudayaan.</p>
<p>Nusantara telah memiliki tradisi seni yang panjang sebelum kedatangan bangsa Eropa. Relief candi, naskah kuno, pertunjukan rakyat, tradisi keraton, dan upacara adat menunjukkan bahwa masyarakat kepulauan ini telah mengenal berbagai bentuk musik, gerak, drama, dan ritual.</p>
<p>Karena itu, ketika unsur asing datang, yang terjadi bukan selalu penaklukan.</p>
<p>Sering kali yang terjadi adalah penyaringan.</p>
<p>Ada yang diterima karena dianggap sesuai. Ada yang diubah agar dapat hidup di lingkungan baru. Ada pula yang dibiarkan tetap menjadi milik pendatang.</p>
<p>Itulah yang dalam kajian kebudayaan sering disebut sebagai <em>local genius</em>: kemampuan suatu masyarakat untuk mengolah pengaruh luar tanpa kehilangan pusat kepribadiannya.</p>
<p>Kata <span style="color: #236fa1;">dansa</span> adalah salah satu contoh kecilnya. Ia masuk ke dalam bahasa kita, tetapi tetap membawa alamat asalnya. Sedangkan <span style="color: #236fa1;">tari</span> tetap tinggal sebagai rumah besar bagi seni gerak Nusantara.</p>
<h3>Kata yang Menyimpan Kedaulatan</h3>
<p>Pada akhirnya, kisah tari dan dansa bukanlah cerita tentang kata mana yang lebih baik. Ini adalah cerita tentang bagaimana kebudayaan mempertahankan batasnya.</p>
<p>Kolonialisme dapat menguasai pemerintahan. Dapat mengatur perdagangan. Dapat membentuk sekolah, jalan, kantor, dan tata kota. Tetapi pengaruh budaya tidak selalu berjalan lurus dari penguasa kepada yang dikuasai.</p>
<p>Ada hal-hal yang diterima. Ada yang diubah. Ada pula yang tetap dipertahankan. Kata <span style="color: #236fa1;">tari</span> adalah salah satunya.</p>
<p>Ia bertahan bukan karena Nusantara menutup diri dari dunia luar. Justru karena Nusantara cukup percaya diri untuk berhubungan dengan dunia luar tanpa harus menanggalkan seluruh identitasnya.</p>
<p>Dansa boleh datang membawa musik dan tata pergaulan Eropa.</p>
<p>Tetapi tari Nusantara tetap berpijak pada tanahnya sendiri.</p>
<p>Sebab sebuah bangsa tidak selalu menunjukkan kedaulatannya melalui perlawanan besar. Kadang-kadang, kedaulatan itu bertahan dalam kata yang terus dipakai sehari-hari.</p>
<p>Satu kata. Tari.</p>
<p>Dan dari kata itulah, kita tahu: tidak semua yang datang bersama penjajahan berhasil mengambil alih cara sebuah bangsa menggerakkan tubuh, mengingat sejarah, dan menyebut dirinya sendiri. (Kur)</p>
<p>&nbsp;</p>
<h6><em>*Diolah dari berbagai sumber</em></h6>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202609/imageeec1719d.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Seni Berdampingan: Ilustrasi arsip foto masa kolonial yang menggambarkan dialog budaya antara seni tari Jawa dan dansa Eropa di Hindia Belanda. (Foto: Ilustrasi AI)]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category><category><![CDATA[Musik]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Dari Kalender Lokal ke Masehi: Sejarah Penyeragaman Waktu di Indonesia]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-144--dari-kalender-lokal-ke-masehi-sejarah-penyeragaman-waktu-di-indonesia</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-144--dari-kalender-lokal-ke-masehi-sejarah-penyeragaman-waktu-di-indonesia</guid>
                    <pubDate>Mon, 31 Aug 2026 23:11:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[TUJUHPAGI -  Sebelum kalender Masehi digunakan secara luas, masyarakat Nusantara telah mengenal beragam sistem penanggalan, seperti kalender Saka, Jawa, Sunda, ]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #236fa1;">TUJUHPAGI - </span></strong>&nbsp;Sebelum kalender Masehi digunakan secara luas, masyarakat Nusantara telah mengenal beragam sistem penanggalan, seperti kalender Saka, Jawa, Sunda, Hijriah, hingga penanda musim tradisional seperti pranata mangsa.&nbsp;</p>
<p>Bayangkan suasana di pesisir pelabuhan Batavia atau pelabuhan-pelabuhan ramai di pesisir utara Jawa pada kisaran abad ke-17. Di pasar-pasar tradisional yang riuh, para pedagang lokal bertransaksi mengandalkan ritme pasang surut air laut dan penanggalan berbasis fase Bulan. Di sudut kraton, para pujangga dan astrolog menghitung hari berdasarkan perpaduan rumit siklus pekan pasaran dan kalender Hijriah yang dilebur oleh Sultan Agung menjadi Kalender Jawa Saka-Islam.</p>
<p>Namun, di benteng-benteng beton beratap genteng merah milik VOC, detak waktu dihitung dengan cara yang sama sekali berbeda. Suara dentang lonceng kapal Barat menandai hari demi hari yang dipatok mati oleh barisan angka di lembaran Kalender Gregorian. Dari benturan dua kesadaran waktu itulah, benih integrasi kalender Masehi di Nusantara mulai tertanam.</p>
<p>Proses mengadopsi penanggalan Masehi di Indonesia tidak terjadi dalam semalam melalui satu keputusan hukum yang dramatis. Proses ini adalah buah dari penetrasi kolonialisme yang perlahan tapi pasti meretas tatanan lokal. Seperti yang digambarkan oleh sejarawan <span style="color: #236fa1;"><em>Bernard Cohn</em></span> dalam pemikirannya tentang colonial knowledge, kekuasaan kolonial tidak hanya menaklukkan wilayah secara fisik, tetapi juga memetakan dan menyeragamkan konsep-konsep dasar kehidupan&mdash;termasuk cara manusia menghitung waktu.</p>
<p><span style="color: #236fa1;">Sebelum kedatangan bangsa Eropa, masyarakat di berbagai belahan Nusantara telah memiliki kecerdasan astronomi lokal yang sangat kaya. </span>Sunda memiliki kalender Pratala atau Saka Sunda, masyarakat Jawa hidup dalam keselarasan siklus Pranata Mangsa untuk bercocok tanam dan Wuku-Pasaran, sementara masyarakat Melayu dan daerah-daerah pesisir yang telah tersentuh dakwah Islam dengan erat memegang kalender Hijriah.</p>
<p>Penanggalan-penanggalan ini sangat fleksibel dan berorientasi pada alam: siklus hujan, pola bintang di langit malam, hingga pasang surut air laut. <span style="color: #236fa1;">Kalender lokal adalah sarana untuk menyelaraskan hidup manusia dengan kosmos.</span></p>
<p><span style="color: #843fa1;"><span style="color: #000000;">Namun</span>, </span>ketika pemerintah Hindia Belanda mulai mengokohkan birokrasinya pada abad ke-19, logika waktu alami ini dianggap tidak efisien. Bangsa Eropa membutuhkan waktu yang dapat diprediksi secara mekanis untuk kepentingan pemungutan pajak, jadwal pelayaran kapal dagang <em>Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), </em>tenggat pembayaran tanam paksa <em>(Cultuurstelsel),</em> hingga urusan gaji para pegawai administrasi kolonial. <span style="color: #236fa1;">Kalender Masehi (<em>Gregorian</em>), yang berbasis pada peredaran matahari dan bersifat konstan tanpa peduli fase Bulan atau pergantian musim lokal, menjadi alat kontrol administrasi yang sangat ampuh.</span></p>
<p><span style="color: #236fa1;">Sartono Kartodirdjo, guru besar sejarah Indonesia, </span>dalam berbagai karyanya mengenai sejarah sosial dan birokrasi kolonial, sering menyoroti bagaimana modernisasi birokrasi Barat secara perlahan menggeser struktur tradisional. Ketika elite pribumi (para bupati dan Pribumi Bestuur) diintegrasikan ke dalam hirarki pemerintahan Hindia Belanda, mereka diwajibkan mengikuti sistem penanggalan resmi pemerintah pusat di Batavia.</p>
<p>Laporan-laporan dinas, surat keputusan, hingga kalender kerja formal semuanya ditulis menggunakan angka-angka Masehi. Di sinilah terjadi dualisme: di dalam kantor dinas mereka menggunakan kalender Masehi, sementara di ruang domestik dan ritual adat mereka tetap memegang teguh kalender Jawa, Sunda, atau Hijriah.</p>
<p><span style="color: #236fa1;">Pergeseran paling krusial terjadi pada paruh pertama abad ke-20,</span> <span style="color: #236fa1;">ketika gelombang pergerakan nasionalisme Indonesia mulai bangkit. </span>Para<em> founding fathers</em> dan aktivis pergerakan seperti Soekarno, Hatta, hingga para cendekiawan muda yang terdidik secara Barat menyadari satu hal penting: untuk membangun sebuah bangsa baru yang melintasi ribuan pulau dan ratusan suku, mereka <span style="color: #236fa1;">membutuhkan "bahasa bersama"&mdash;bukan hanya dalam bentuk bahasa lisan (Bahasa Indonesia), tetapi juga "bahasa waktu".</span></p>
<p>Masing-masing suku di Nusantara memiliki kalendernya sendiri yang unik. Jika Indonesia modern berdiri di atas asas-asas penanggalan lokal yang berbeda-beda, koordinasi nasional akan lumpuh. Kalender Masehi akhirnya dipeluk bukan lagi sebagai simbol tunduk pada penjajah, melainkan sebagai keputusan pragmatis untuk menjadi bagian dari peradaban global dan instrumen pemersatu bangsa.</p>
<p><span style="color: #236fa1;">Dalam buku Imagined Communities karya Benedict Anderson,</span> <span style="color: #236fa1;">dijelaskan bahwa salah satu syarat terbentuknya kesadaran berbangsa adalah adanya kesadaran akan "waktu yang serempak" (<em>homogeneous, empty time</em>). <span style="color: #000000;">Kalender Masehi dan koran harian memungkinkan seorang pemuda di Medan dan seorang pemuda di Ambon untuk menyadari bahwa mereka sedang melangkah pada hari, tanggal, dan tahun yang persis sama.</span></span></p>
<p>Ketika Indonesia akhirnya memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, naskah proklamasi tersebut secara unik mencantumkan tahun "05" (singkatan dari tahun 2605 Kōki, kalender Kekaisaran Jepang yang berlaku saat pendudukan). Namun, saat Republik Indonesia secara resmi menjalankan roda pemerintahannya, sistem Masehi ditetapkan sebagai standar penanggalan nasional dalam urusan kenegaraan, hukum, dan pendidikan.</p>
<p><span style="color: #236fa1;">Mengadopsinya kalender Masehi tidak lantas memusnahkan kalender-kalender leluhur.</span> Indonesia hingga hari ini justru memperlihatkan kemampuan adaptasi budaya yang sangat elastis. <span style="color: #236fa1;">Kalender Masehi berfungsi sebagai jangkar utama dalam kehidupan publik, ekonomi global, dan sains. </span>Namun di balik itu, <span style="color: #236fa1;">k<span style="color: #000000;">alender Hijriah tetap memandu kehidupan spiritual jutaan umat Muslim, sementara kalender Jawa, Bali, dan Sunda masih menjadi panduan utama dalam merawat tradisi, menentukan hari baik pernikahan, hingga ritual-ritual kebudayaan.</span></span> Pengadopsian kalender Masehi di Indonesia pada akhirnya bukanlah kisah tentang kekalahan identitas lokal, melainkan cerita tentang bagaimana sebuah bangsa memilih untuk terhubung dengan dunia tanpa benar-benar mencabut akarnya sendiri. (Kur)</p>
<h6>&nbsp;</h6>
<h6><em>*Diolah dari berbagai sumber</em></h6>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202608/tangkapan-layar-2026-08-31-pukul-233847.png" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Kalender Masehi kemudian semakin dominan melalui pengaruh perdagangan, pemerintahan kolonial, pendidikan, dan hubungan internasional. (Ilustrasi AI)]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Opini]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Parfum Bukan Sekadar Wangi: Seni dan Sains Menemukan Signature Scent yang Tepat]]></title>
                    <link>https://tujuhpagi.co/news-143-parfum-bukan-sekadar-wangi-seni-dan-sains-menemukan-signature-scent-yang-tepat</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://tujuhpagi.co/news-143-parfum-bukan-sekadar-wangi-seni-dan-sains-menemukan-signature-scent-yang-tepat</guid>
                    <pubDate>Mon, 31 Aug 2026 10:40:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[TUJUHPAGI -  Bagi banyak orang, menyemprotkan parfum adalah rutinitas pagi yang dilakukan secara berulang. Beberapa semprotan ke udara, atau semprotan cepat di ]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #843fa1;"><span style="color: #236fa1;">TUJUHPAGI</span> - &nbsp;</span></strong>Bagi banyak orang, menyemprotkan parfum adalah rutinitas pagi yang dilakukan secara berulang. Beberapa semprotan ke udara, atau semprotan cepat di pergelangan tangan sebelum berkegiatan di luar rumah.</p>
<p><span style="color: #843fa1;">Parfum kerap dipilih secara cepat, sekadar merespons kesan pertama dari sebotol sampel di meja pajangan mal. Padahal, sejatinya, cara kerja wewangian tidak pernah sesederhana itu.</span></p>
<p>Aroma tidak hadir sekaligus, meronta minta diperhatikan dalam satu tarikan napas. Melainkan berkembang secara bertahap, berinteraksi dengan suhu kulit, dan sangat dipengaruhi oleh kondisi biologis tubuh pemakainya. Karena itu, memahami struktur dasar, hierarki konsentrasi, hingga karakter parfum akan sangat membantu kita menghindari kesalahan besar saat memilih <span style="color: #000000;">parfum.</span></p>
<h2>Anatomi Sebuah Aroma: Kisah Tiga Babak</h2>
<p><span style="color: #843fa1;">Mengenakan parfum pada dasarnya sama dengan membaca sebuah cerita yang membuka diri perlahan. Wewangian yang diracik dengan baik memiliki tiga lapisan struktural yang di dunia perfumeri dikenal sebagai piramida parfum.</span> Jika kita bagi dalam bentuk babak, maka akan ada tiga babak dalam pengenalan aroma parfum.</p>
<p>Babak pertama adalah<em> top notes</em>. Ini adalah impresi awal yang menyapa hidung Anda pada detik-detik pertama penyemprotan. Sifatnya sangat ringan, segar, dan sayangnya, paling cepat menguap. Aroma citrus seperti bergamot atau buah-buahan ringan biasanya mendominasi fase ini, bertahan hanya sekitar 15 hingga 30 menit.</p>
<p>Setelah top notes mereda, tirai terbuka untuk babak kedua: <em>middle notes</em> atau sering disebut <em>heart notes.</em> Inilah inti sesungguhnya dari wewangian tersebut. Pada tahap ini, karakter utama parfum mulai terasa kuat. Aroma bunga, rempah, atau dedaunan hijau sering kali mengambil alih, menjembatani transisi yang mulus sebelum menuju akhir cerita.</p>
<p>Pada tahap pungkasan, <em>base notes</em> muncul sebagai fondasi aroma dasar yang paling lama bertahan di kulit, bahkan bisa menetap di serat pakaian Anda selama berhari-hari. Aroma seperti musk, vanilla, patchouli, atau kayu-kayuan (woody) mendominasi fase ini, memberikan kedalaman dan jejak memori. Memahami struktur tiga babak ini adalah kunci untuk menyadari satu aturan penting:<span style="color: #843fa1;"> sebuah parfum tidak bisa dan tidak boleh dinilai hanya dari satu kali ciuman di menit pertama.</span></p>
<h2>Hierarki Konsentrasi: Bukan Soal Gengsi, Melainkan Kebutuhan</h2>
<p>Selain struktur aroma, daya tahan parfum juga ditentukan oleh konsentrasi minyak wanginya. Semakin tinggi rasio minyak esensial terhadap alkohol dan pelarutnya, semakin lama pula wangi tersebut bertahan. Di puncak hierarki terdapat extrait de parfum atau parfum murni.</p>
<p>Dengan konsentrasi paling tinggi (bisa mencapai 20-30%), aromanya sangat pekat, intim, dan mampu bertahan paling lama sepanjang hari. Di bawahnya, eau de parfum (EDP) menjadi pilihan terpopuler karena menawarkan keseimbangan yang pas antara kekuatan proyeksi dan ketahanan wangi.</p>
<p><span style="color: #843fa1;">Bagi Anda yang menginginkan sesuatu yang lebih sopan di hidung untuk kegiatan siang hari, eau de toilette (EDT) cenderung lebih ringan dengan daya tahan menengah. Bergeser lebih ke bawah, eau de cologne (EDC) diformulasikan jauh lebih ringan, ideal untuk kesegaran instan sehabis mandi, namun cepat menguap. Pada tingkat paling dasar, body mist hanya memberikan wangi singkat yang menyegarkan.</span></p>
<p>Pemahaman akan konsentrasi ini mengikis mitos bahwa semakin mahal dan pekat sebuah parfum, maka semakin baik. Kenyataannya, pemilihan parfum bukanlah soal adu gengsi, melainkan menyesuaikan dengan kebutuhan penggunaan, iklim, dan aktivitas sehari-hari.</p>
<h2>Karakter Aroma dan Keunikan Reaksi Kulit</h2>
<p>Setiap botol parfum menyimpan semesta karakternya sendiri. Di pasaran, wewangian dikelompokkan dalam keluarga penciuman (<span style="color: #b96ad9;"><em>olfactory families</em></span>). Kelompok floral menghadirkan kesan feminin, lembut, dan romantis. Sementara itu, fruity terasa segar, ceria, dan penuh energi. Bagi mereka yang ingin menampilkan nuansa hangat, mapan, dan tegas, kelompok woody adalah jawabannya.</p>
<p>Di sisi lain, citrus menawarkan kesegaran yang menusuk dan membangkitkan semangat. Ada pula oriental atau amber yang cenderung pekat, sensual, dan misterius. Untuk nuansa kasual, aquatic terasa bersih dan modern bak udara laut, sedangkan gourmand belakangan kian populer karena identik dengan aroma manis yang menyerupai makanan, seperti karamel atau cokelat.</p>
<p>Namun, bagian paling menarik dari parfum adalah betapa personalnya ia. A<span style="color: #843fa1;">roma yang sama bisa memancarkan wangi yang jauh berbeda ketika disemprotkan pada dua orang yang berbeda. </span>Hal ini terjadi karena molekul parfum bereaksi terhadap suhu tubuh, tingkat keasaman (pH) kulit, keringat, bahkan pola makan pemakainya. Kulit Anda adalah "katalis" terakhir yang menentukan bagaimana sebuah wewangian akan mekar.</p>
<h2>Dengarkan Sinyal Tubuh Anda</h2>
<p>Dalam proses berburu parfum, kenyamanan hidung dan tubuh Anda adalah faktor yang paling krusial. Amanda, seorang educator di Sandika Natural Class, menyebut bahwa ia sangat mengandalkan respons indera penciuman pribadinya ketimbang tren semata.</p>
<p><img src="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202608/lihat-foto-terbaru-3.png" alt="Amanda, educator Sandika Natural Class." width="100%" height="auto" /></p>
<p>&ldquo;Kalau aku nyaman di hidung sama aromanya, rapi,&rdquo; ujarnya sederhana namun tepat sasaran. Kata "rapi" di sini merujuk pada racikan aroma yang harmonis dan tidak saling bertabrakan.</p>
<p>Senada dengan itu, <span style="color: #843fa1;">Rosanna Sari dari Uccanica menekankan pentingnya insting tubuh dalam mengenali kualitas bahan. Ia sangat menyarankan agar konsumen menghindari parfum dengan jejak bau alkohol yang terlalu tajam menyengat atau aroma tengik di latar belakangnya.</span></p>
<p>Lebih lanjut, ia memperingatkan untuk tidak melanjutkan penggunaan jika sebuah aroma justru memicu pusing atau mual. Kedua pandangan praktisi ini menggarisbawahi satu hal mutlak: tubuh kita sejatinya memiliki alarm alami untuk memberi sinyal wewangian mana yang menjadi 'jodoh' kita dan mana yang bukan.</p>
<h2>Menghindari Jebakan Kesalahan Berbelanja</h2>
<p>Sayangnya, pesan dari tubuh ini kerap terabaikan karena kesalahan umum: proses memilih yang terlalu tergesa-gesa. Banyak orang datang ke gerai parfum, mencium lima hingga sepuluh kertas blotter secara beruntun, lalu langsung memutuskan membeli.</p>
<p>Mencoba terlalu banyak aroma dalam satu waktu hanya akan membuat indera penciuman mengalami kelelahan atau kehilangan kepekaan (olfactory fatigue). Akibatnya, kesan pertama yang terasa sangat meyakinkan di toko justru berujung pada penyesalan ketika dipakai di rumah. Parfum membutuhkan waktu dan ruang untuk bernapas. <span style="color: #843fa1;">Cara terbaik adalah menyemprotkannya ke kulit, tinggalkan toko, berjalan-jalanlah selama beberapa jam, dan lihat bagaimana aroma tersebut berevolusi di tubuh Anda.</span> Jangan ambil keputusan dalam hitungan detik untuk sesuatu yang akan melekat seharian pada Anda.</p>
<h2>Ritual Aplikasi dan Seni Merawat Parfum</h2>
<p>Setelah menemukan wewangian yang tepat, seni selanjutnya adalah bagaimana cara memakainya. Agar wangi parfum bertahan lebih lama dan proyeksinya optimal, <span style="color: #843fa1;">aplikasikan</span> pada titik-titik nadi, <span style="color: #843fa1;">seperti pergelangan tangan bagian dalam, leher, belakang telinga, hingga lipatan siku. </span>Area-area ini menghasilkan panas tubuh yang lebih tinggi, yang secara alami akan membantu menyebarkan dan memancarkan aroma ke udara.</p>
<p>Satu kebiasaan yang harus segera ditinggalkan adalah menggosok pergelangan tangan setelah menyemprotkan parfum. Gesekan yang tercipta akan menghasilkan panas berlebih yang dapat merusak dan memecah struktur molekul top notes, membuat aroma parfum menjadi datar dan cepat hilang. Cukup semprotkan dan biarkan mengering dengan sendirinya.</p>
<p>Waktu aplikasi juga menentukan. <span style="color: #843fa1;">Penggunaan parfum sesaat setelah mandi dan mengaplikasikan pelembap tanpa pewangi akan membuat minyak parfum lebih mudah melekat pada kulit yang terhidrasi dengan baik</span>.</p>
<p>Selain itu, perhatikan pula cara penyimpanannya. Menyimpan botol parfum di kamar mandi yang lembap dan hangat adalah sebuah kesalahan besar. <span style="color: #843fa1;">Simpanlah di tempat yang sejuk, kering, dan terhindar dari paparan sinar matahari langsung untuk menjaga integritas bahan-bahannya.</span></p>
<p>Pada akhirnya, parfum bukan sekadar cairan wewangian yang dikemas dalam botol kaca mewah. Ia adalah bagian tak terpisahkan dari ekspresi diri, sebuah identitas yang tertinggal di udara bahkan ketika Anda sudah meninggalkan ruangan.</p>
<p>Ia tidak selalu bisa dipahami dalam sekali coba, melainkan membutuhkan waktu, kesabaran, dan keterbukaan untuk benar-benar dikenali.</p>
<p><span style="color: #843fa1;">Pada akhirnya, Pilihan terbaik bukanlah botol dengan merek paling tenar, <span style="font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen, Ubuntu, Cantarell, 'Open Sans', 'Helvetica Neue', sans-serif;">melainkan aroma yang ketika menyentuh kulit, terasa seperti versi terbaik dari diri Anda sendiri</span><span style="font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen, Ubuntu, Cantarell, 'Open Sans', 'Helvetica Neue', sans-serif;">. </span><span style="font-size: 1.1rem; font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen, Ubuntu, Cantarell, 'Open Sans', 'Helvetica Neue', sans-serif;">(Nik)</span></span></p>
<h5>&nbsp;</h5>
<h5><em>*Diolah dari berbagai sumber</em></h5>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://tujuhpagi.co/po-content/uploads/202608/img8571.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Sumber Foto : ilustrasi Ai]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category></item></channel></rss>