TUJUHPAGI — Delapan tahun telah berlalu sejak ledakan mengguncang GKI Diponegoro, Surabaya. Waktu berjalan, tetapi ingatan tentang peristiwa itu tidak benar-benar pergi. Ia menetap, diam-diam, di kepala banyak orang. Namun pada Rabu (13/05) sore yang teduh itu, duka tidak hadir sebagai tangis yang pecah. Ia datang dengan cara lain—lebih pelan, lebih tenang, tetapi tetap terasa dalam.
Di dalam gereja, duka menjelma menjadi teaterikal, puisi, musik, dan doa. Ia mengalir, bukan untuk membuka luka lama, melainkan merawatnya agar tidak dilupakan. Dari situ, sesuatu yang lain tumbuh: solidaritas.
Bertajuk Solidaritas Surabaya Inklusif, peringatan ini dihadiri lebih dari 150 orang. Mereka memenuhi ruang peribadatan dengan kehadiran yang beragam—mahasiswa, anak muda, hingga komunitas lintas agama. Mereka datang bukan sekadar mengenang, tetapi menjaga ingatan agar tetap hidup.
Perwakilan panitia, Imanuel Erlangga, mengatakan tema tersebut dipilih sebagai harapan untuk Surabaya yang lebih terbuka dan menerima.
Umat lintas agama menghadiri peringatan 8 tahun bom Surabaya di GKI Diponegoro, Rabu (13/5/2026). (Foto: M. Iffan)
“Peristiwa bom ini memang membawa luka, tetapi dari luka itu kita bisa tumbuh bersama. Harapannya, Surabaya bisa menjadi kota yang lebih inklusif dan menjadi ruang yang menerima semua orang,” ujar Imanuel.
Bagi panitia, peringatan seperti ini bukan sekadar ritual tahunan yang berhenti pada bunga dan doa. Lebih dari itu, ini adalah upaya merawat ingatan kolektif—agar tragedi kemanusiaan tidak menguap begitu saja ditelan waktu.
Karena itu, panggung diisi dengan beragam ekspresi. Teaterikal bersambung, pembacaan sajak dan puisi, musikalisasi puisi, persembahan lagu, hingga paduan suara lintas komunitas bergantian mengisi ruang. Ada pula lapak buku, doa bersama, dan ikrar lintas agama. Seni dipilih sebagai bahasa—karena ia mampu menyentuh sisi yang tak selalu bisa dijangkau oleh kata-kata biasa.
Komunitas yang terlibat datang dari berbagai latar: Gusdurian, Pemuda Katolik, Ide Nera, PMKRI, Keuskupan Kota Surabaya, GKI Diponegoro, hingga PGIW. Perbedaan yang ada justru menjadi alasan untuk berkumpul, bukan untuk menjauh. Seolah ada kesepahaman yang tak perlu diucapkan panjang: luka tidak boleh diwariskan sebagai jarak.
Suasana doa bersama dalam peringatan 8 tahun tragedi bom Surabaya di GKI Diponegoro. Foto: M. Iffan
Angga menjelaskan, konsep acara tahun ini sengaja dibuat lebih dekat dengan anak muda. Generasi yang mungkin tidak mengalami langsung peristiwa itu, tetapi tetap perlu memahami dampaknya.
“Banyak teman-teman muda yang hanya tahu tragedi ini, tetapi belum memahami seberapa besar dampak dan ketakutan yang dirasakan masyarakat saat itu. Karena itu kami mencoba menggugah rasa melalui seni, Ujar Imanuel.
Di balik peringatan yang tampak di permukaan, ada proses lain yang berjalan perlahan—rekonsiliasi. Imanuel menyebut komunikasi dan silaturahmi dengan keluarga pelaku telah terjalin dengan baik dalam beberapa tahun terakhir. Sebuah langkah yang tidak mudah, tetapi terus diupayakan.
"Pelaku tidak sepenuhnya bersalah karena banyak mengalami proses pencucian otak, bahkan keluarganya pun sering kali tidak mengetahui hal tersebut," Ujar Imanuel.
Sore itu, duka memang tidak hilang. Ia masih ada, tetapi berubah bentuk. Ia menjadi perjumpaan, menjadi ruang untuk saling memahami, dan menjadi pengingat bahwa kemanusiaan harus dijaga bersama.
Sebagai pengingat, tragedi tersebut terjadi pada Minggu, 13 Mei 2018, yang mengakibatkan 13 orang meninggal dunia dan 45 lainnya mengalami luka-luka. Serangan terjadi di tiga gereja: Gereja Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya.
Delapan tahun setelahnya, Surabaya tidak hanya mengingat. Kota ini belajar—pelan, mungkin tidak sempurna, tetapi terus berjalan—untuk tetap menjadi rumah yang aman bagi semua. (Fan)
Editor : Ardhia Tap