TUJUH PAGI - Usia, bagi sebagian orang, mungkin penanda batas. Tapi di Pasar Pabean Surabaya, usia hanyalah angka yang pelan-pelan kehilangan maknanya. Di sana, perempuan-perempuan buruh angkut menukar waktu dengan tenaga, menukar letih dengan sekadar keberlangsungan hidup. Dari pagi yang masih berembun hingga petang yang lengket oleh debu dan peluh, pasar menjelma rumah kedua—atau mungkin satu-satunya ruang tempat mereka merasa masih diperlukan.
Di balik riuh pasar, ada sunyi yang mereka pikul. (Foto: M. Iffan)
Di lorong-lorong sempit yang remang, tubuh-tubuh itu bergerak tanpa banyak kata. Tangan mereka cekatan memilah bawang, menimbang, memasukkan ke dalam karung, lalu mengangkatnya ke bak mobil pickup. Rutinitas itu berulang seperti napas—tak selalu disadari, tapi harus terus dilakukan. Di sana, kerja bukan sekadar aktivitas, melainkan cara paling purba untuk bertahan: selama tubuh masih bisa digerakkan, hidup harus terus dijalankan.
Langkah kecil, beban besar, hidup tetap berjalan. (Foto : M. Iffan)
Di antara mereka, ada Selami. Lebih dari dua dekade ia menghidupi dirinya dengan pekerjaan yang sama—pekerjaan yang perlahan mengikis tubuhnya, tetapi tak pernah benar-benar bisa ia tinggalkan. Ia datang dari Sampang, membawa dirinya sendiri sebagai satu-satunya bekal. Tidak ada keluarga yang menunggu, tidak ada tangan lain yang siap menopang.
“Mau bagaimana lagi. Saya hidup sendiri, tidak punya suami dan tidak punya anak. Jadi harus bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup.”Ujar Selami.
Setiap hari, ia berjalan kaki menuju pasar, menempuh waktu hampir satu jam. Langkah-langkah itu mungkin terdengar sederhana, tetapi di baliknya ada keteguhan yang tidak selalu terlihat. Ia berangkat saat langit masih setengah gelap, sekitar pukul empat atau lima pagi, dan pulang ketika hari mulai mengendur, atau bahkan lebih larut jika pekerjaan belum selesai. Jika tak ada tumpangan, jalan yang sama harus ia tempuh kembali—seolah hidupnya bergerak dalam lingkaran yang tak pernah benar-benar terputus.
Peluh adalah bahasa yang tak pernah mereka sembunyikan. (Foto: M. Iffan)
Tubuhnya kecil, keriput, dan lelahnya tak pernah benar-benar hilang. Beban yang ia angkat kerap melampaui batas yang semestinya bisa ditanggung tubuh seusianya. Rasa sakit menjadi bagian dari keseharian—pegal, linu, dan letih yang menumpuk tanpa sempat dipulihkan sepenuhnya. Namun berhenti bukan pilihan yang tersedia baginya.
“Saya harus bekerja setiap hari untuk bertahan hidup. Orang lain mungkin masih punya anak atau keluarga yang membantu, sedangkan saya tidak punya siapa-siapa.”Ujar Selami.
Upah yang ia terima tidak banyak, bergantung pada seberapa banyak pekerjaan yang datang di hari itu dari satu toko yang sama. Dari situlah ia mengatur untuk hidupnya—makan, bertahan, dan melanjutkan hari.
Tidak ada ruang untuk berlebih, bahkan untuk sekadar beristirahat lebih lama.(foto: M. Iffan)
Di balik kesibukan pasar yang riuh, Selami menyimpan harapan sunyi. Harapan yang tidak muluk, ingin dilihat keberadaannya sebagai bagian dari kota yang terus bergerak.
“Saya hanya berharap ada perhatian untuk orang-orang seperti saya yang hidup sendiri, tidak punya suami dan anak. Jalan kaki dan bekerja mengangkat barang setiap hari itu capek sekali.” Ujar Selami.
Pasar Pabean mungkin tak pernah benar-benar tidur. Namun di sela hiruk pikuknya, ada kehidupan-kehidupan kecil yang berjalan nyaris tanpa suara. Selami adalah salah satunya—potret perempuan yang menua bersama kerasnya kota, menggantungkan hidup pada sisa tenaga yang ia punya.
Di lorong sempit, mereka memanggul harapan. (Foto: M. Iffan)
Saat pasar mulai lengang, ia pulang membawa lelah yang tak selalu bisa didefinisikan. Tapi esok hari, sebelum matahari sepenuhnya terbit, ia akan kembali. Mengulang langkah yang sama, mengangkat beban yang serupa, dan melanjutkan hidup yang tak pernah benar-benar memberinya jeda. (Fan)
Editor : Ardhia Tap