TUJUHPAGI - Malam itu, keheningan merayap pelan di ruang Oasis, lantai empat Hotel JW Marriott Surabaya, Sabtu (2/5/2026). Udara dingin menggantung, nyaris tak bergerak, seolah ikut menahan napas bersama puluhan orang yang berbaring di atas matras. Mata mereka terpejam. Bukan untuk tidur, melainkan untuk mendengar sesuatu yang sering luput: bunyi yang datang dari luar, dan gema yang muncul dari dalam diri.
Di ruang yang diredupkan itu, suara tidak sekadar terdengar. Ia hadir sebagai getaran—halus, berlapis, kadang menghantam, kadang mengalir seperti air. Instrumen-instrumen sederhana dimainkan perlahan, menciptakan lanskap bunyi yang sulit dijelaskan dengan bahasa sehari-hari. Namun justru di situlah letak pengalaman itu: ia tidak selalu ingin dimengerti, melainkan dirasakan.
Di ruang temaram, tubuh-tubuh berbaring diam, sementara bunyi bekerja pelan menembus yang tak terlihat. (Foto: M. Iffan)
Sesi sound therapy malam itu dipandu Budho Adhi Saddharmo, yang akrab disapa Couch Bodaz. Dengan ritme yang nyaris seperti ritual, ia mengajak para peserta memasuki sound bath—sebuah praktik terapi suara yang kini mulai dikenal di berbagai kota besar, termasuk Surabaya.
Sound therapy sendiri bukan hal baru di dunia kesehatan alternatif. Metode ini menggunakan gelombang suara untuk membantu tubuh mencapai kondisi relaksasi. Bunyi yang digunakan beragam: dari gong yang dalam dan bergema, singing bowl yang bergetar panjang, hingga suara-suara yang menyerupai alam—air, angin, bahkan sesuatu yang terasa seperti denyut bumi itu sendiri.
Namun, bagi Bodaz, sound therapy bukan sekadar teknik.
“Dalam sound therapy, seseorang langsung merasakan efeknya melalui tubuh tanpa arahan sugestif. Gelombang suara dari ketukan yang konsisten dapat memengaruhi kondisi sel-sel tubuh secara langsung. Ini berbeda dengan hipnosis, karena tidak melibatkan sugesti.” Jelas Bodaz.
Penjelasan itu melayang di antara bunyi-bunyi yang terus dimainkan. Dalam praktiknya, para peserta tidak diminta melakukan apa-apa selain hadir—mendengarkan, merasakan, dan membiarkan tubuh mereka merespons.
Antara hening dan suara, peserta belajar mendengar dirinya sendiri dengan cara yang baru. (Foto: M. Iffan)
Secara ilmiah, gelombang suara memang memiliki frekuensi tertentu yang dapat memengaruhi sistem saraf. Ritme yang stabil cenderung membantu tubuh menurunkan ketegangan, memperlambat napas, dan membawa pikiran ke kondisi yang lebih tenang. Namun di ruang itu, teori terasa seperti sesuatu yang jauh. Yang hadir justru pengalaman yang personal—kadang lembut, kadang mengusik.
Setiap instrumen membawa wataknya sendiri. Gong, misalnya, tidak hanya berbunyi; ia seolah membuka ruang. Getarannya panjang, dalam, seperti sesuatu yang datang dari tempat yang sangat jauh.
“suara gong merepresentasikan benturan atau hantaman, sebuah simbol awal mula kehidupan. Seperti halnya bumi yang terbentuk dari tabrakan benda-benda langit, suara tersebut mengingatkan kita pada asal-usul kehidupan.”Ujar Bodaz.
Bunyi itu, bagi sebagian peserta, bisa terasa menenangkan. Bagi yang lain, justru menggetarkan sesuatu yang lama tersimpan. Di sinilah sound therapy menjadi pengalaman yang tidak seragam. Ada yang menemukan ketenangan, ada pula yang berhadapan dengan emosi yang selama ini tersembunyi rapi.
Malam di Surabaya itu, bunyi tidak sekadar terdengar—ia tinggal, beresonansi, dan perlahan menetap. (Foto: M. Iffan)
Dalam beberapa sesi, Bodaz menyebut ada peserta yang mengalami visualisasi tertentu—melihat warna, bentuk, atau potongan ingatan yang muncul tanpa diundang. Bagi sebagian orang, pengalaman itu terasa seperti perjalanan batin; bagi yang lain, mungkin hanya sekadar sensasi yang lewat.
Namun, tidak semua orang langsung merasa nyaman. Di Surabaya, menurut Bodaz, banyak peserta yang masih menahan diri.
Ia membandingkannya dengan pengalaman di Bali, di mana orang-orang lebih terbuka mengekspresikan emosi. Di Surabaya, peserta cenderung diam, mengamati, seolah masih mencari batas antara rasa aman dan keinginan untuk benar-benar melepaskan diri.
Meski demikian, minat terhadap sound therapy terus tumbuh. Di tengah ritme kota yang padat, metode ini menawarkan sesuatu yang sederhana namun jarang: jeda.
Di antara para peserta malam itu, Atim Febry merasakan pengalaman yang tidak langsung utuh. Pada awal sesi, pikirannya masih bergerak ke sana kemari, sulit untuk benar-benar diam. Namun perlahan, sesuatu berubah.
“Yang paling saya suka adalah suara air, terutama di bagian akhir, karena benar-benar membuat rileks. Bahkan saat istirahat, saya sering memutar instrumen serupa untuk membantu tidur lebih cepat.”Ujar Febry.
Suara air, dibandingkan gong atau instrumen lain, terasa lebih akrab—lebih mudah diterima. Ia mengalir tanpa mengagetkan, seperti sesuatu yang sudah dikenal tubuh sejak lama.
Namun, ada juga momen yang sempat membuatnya terkejut.
“Saya sempat sedikit kaget saat suara gong dibunyikan, dan di awal lagu terasa agak menakutkan dengan nuansa mistis. Namun, secara keseluruhan pengalaman tersebut tetap baik dan menyenangkan.”Jelas Febry.
Reaksi seperti itu bukan hal yang asing dalam sound therapy. Bunyi, terutama yang tidak biasa didengar sehari-hari, bisa memunculkan rasa asing—bahkan takut. Tetapi justru di situlah, sering kali, tubuh mulai membuka lapisan-lapisan yang selama ini tertutup.
Sound therapy tidak menawarkan hasil yang instan atau seragam. Ia tidak menjanjikan penyembuhan dalam satu sesi. Yang ia tawarkan adalah ruang—ruang untuk mendengar, merasakan, dan mungkin, memahami diri dengan cara yang berbeda.
Di Indonesia, praktik ini mulai berkembang, terutama di kota-kota seperti Bali dan Jakarta. Bali, dengan keterbukaannya terhadap eksplorasi spiritual dan emosional, menjadi salah satu tempat di mana sound therapy lebih mudah diterima. Sementara di kota lain, termasuk Surabaya, perkembangannya masih bertahap, tumbuh bersama rasa ingin tahu masyarakat.
Bodaz sendiri melihat perjalanan ini belum selesai. Ia masih terus belajar, menambah instrumen, dan membayangkan bentuk-bentuk baru dari sound therapy—bukan hanya sebagai terapi, tetapi juga sebagai pertunjukan.
“Saya ingin menghadirkan sesuatu yang benar-benar baru yang belum pernah didengar atau dilihat sebelumnya.” Ujar Bodaz.
Mungkin, pada akhirnya, sound therapy bukan hanya tentang suara. Ia tentang bagaimana manusia, di tengah dunia yang bising, mencoba kembali ke sesuatu yang paling dasar: mendengar.
Malam pun usai. Para peserta perlahan membuka mata, bangkit, dan kembali ke dunia yang terang, yang penuh dengan kata-kata dan aktivitas. Namun ada sesuatu yang tertinggal—resonansi halus yang tidak langsung hilang.
Di ruang gelap itu, bunyi telah bekerja dengan caranya sendiri. Ia menyentuh tanpa menyentuh, berbicara tanpa kata. Dan mungkin, di antara gema yang tersisa, ada bagian kecil dari diri yang akhirnya terdengar. (Fan/tap)
Editor : Ardhia Tap