Mavo Khan Restaurant, Wajah Diplomasi Kuliner Pakistan di Surabaya

author M.Iffan Maulana

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Jembatan Rasa dan Budaya dari Pakistan ke Surabaya. (Foto: M. Iffan)
Jembatan Rasa dan Budaya dari Pakistan ke Surabaya. (Foto: M. Iffan)

i

TUJUHPAGI - Sore itu, Ampel ramai. Orang-orang berburu takjil. Di antara hiruk-pikuk itu, ada aroma daging bakar yang menembus udara. Asapnya naik, wanginya menggoda. Orang-orang menoleh. Itulah Mavo Khan Restaurant (MKR) — restoran khas Pakistan yang kini jadi buah bibir di Surabaya. Tempat orang berbuka, tempat orang penasaran.

Suasana kawasan Ampel, Surabaya, menjelang waktu berbuka puasa. Di tengah hiruk-pikuk ini, aroma khas Pakistan menguar dari Mavo Khan Restaurant. (Foto: M.Iffan)Suasana kawasan Ampel, Surabaya, menjelang waktu berbuka puasa. Di tengah hiruk-pikuk ini, aroma khas Pakistan menguar dari Mavo Khan Restaurant. (Foto: M.Iffan)

Pemiliknya  bernama Rafiullah (48). Lelaki asal Pakistan yang datang ke Indonesia tujuh tahun lalu. Awalnya bukan penjual makanan. Ia pedagang suku cadang truk, yang biasa ekspor ke Dubai dan Pakistan. Tapi ada yang mengganjal di hatinya.

“Banyak yang mengira saya orang Arab atau India. Padahal Pakistan negara besar dengan populasi Muslim yang tinggi,” ujar Rafi.
Ia ingin mengubah itu. Ia ingin Indonesia mengenal Pakistan. Bukan lewat politik namun lewat makanan.

“Kami ingin memperkenalkan Pakistan kepada masyarakat Indonesia dan mempererat hubungan kedua negara melalui makanan,” katanya.

Proses memasak di dapur Mavo Khan Restaurant dilakukan oleh juru masak asal Pakistan untuk menjaga cita rasa autentik. (Foto: M.Iffan)Proses memasak di dapur Mavo Khan Restaurant dilakukan oleh juru masak asal Pakistan untuk menjaga cita rasa autentik. (Foto: M.Iffan)

Restoran itu berdiri tahun 2021. Masih menyewa tempat. Pegawainya kebanyakan warga Ampel. Hanya tiga orang dari Pakistan , mereka bertugas sebagia pemanggang, pembuat roti, dan juru nasi.

Nama Mavo Khan diambil dari anak keduanya, Muhammad Amir Mawia, panggilannya Mavo.

Rafiullah, pemilik Mavo Khan Restaurant, memperkenalkan cita rasa Pakistan kepada masyarakat Surabaya. (Foto: M.Iffan)Rafiullah, pemilik Mavo Khan Restaurant, memperkenalkan cita rasa Pakistan kepada masyarakat Surabaya. (Foto: M.Iffan)

“Nama MKR berasal dari nama anak saya, Muhammad Amir Mawia, yang juga nama salah satu sahabat Rasulullah,” jelasnya.
Perjalanannya tidak selalu mulus. Pernah ada pegawai mencuri. Pernah  rasa masakan dianggap terlalu asing. Pernah juga kesulitan mencari bumbu yang cocok. Tapi Rafi tidak menyerah.

“Alhamdulillah, masyarakat di sini sangat sopan dan ramah,” ujarnya.

Anak sulungnya, Muhammad Haashir (16), ikut membantu. Ia pelajar SMP Al-Irsyad Surabaya. Tapi di luar sekolah, ia jadi duta MKR di dunia maya.

“Kebanyakan pelanggan datang karena penasaran setelah melihat media sosial,” kata Haashir.

TikTok mereka punya 25 ribu pengikut. Hampir setiap hari ada video baru. Haashir bukan hanya promosi, tapi juga menularkan budaya.

 

Biryani menjadi menu favorit di Mavo Khan Restaurant, simbol kelezatan sekaligus identitas Pakistan. (Foto: M.Iffan)Biryani menjadi menu favorit di Mavo Khan Restaurant, simbol kelezatan sekaligus identitas Pakistan. (Foto: M.Iffan)

“Kami ingin Pakistan dan Indonesia saling mengenal. Soal hasilnya, kami serahkan kepada Allah,” ujarnya.

Ramadan tahun ini jadi masa sibuk. Tapi juga masa ujian. Hujan sering turun saat berbuka. Pengunjung berkurang.

“Jika tidak hujan, penjualan lebih baik. Tapi Alhamdulillah, usaha kami tetap berjalan,” kata Rafi.

Salah satu pelanggan setia, Hari Dwiyono (44), datang jauh-jauh dari Pamekasan.

 

Mavo Khan menjadi ruang pertemuan antara budaya Pakistan dan Indonesia melalui pengalaman kuliner. (Foto: M.Iffan)Mavo Khan menjadi ruang pertemuan antara budaya Pakistan dan Indonesia melalui pengalaman kuliner. (Foto: M.Iffan)

“Saya rindu cita rasa makanan di Madinah setelah umrah. Di sini rasanya mirip,” ujarnya.

Hari sudah tiga kali datang. Katanya, rasa di MKR bisa mengobati rindu Madinah. mendengar itu, Rafi pun tersenyum. Ia tahu, misinya berjalan.

“Kami ingin membangun jembatan kedekatan antara Pakistan dan Indonesia lewat makanan,” tutupnya.

Di sudut Ampel itu, Rafi membuktikan: bisnis bukan sekadar soal untung rugi. Tapi tentang asal-usul, identitas, dan persahabatan — yang bisa disajikan di atas piring. (MI)

Berita Terbaru

Aksi Warga Prigen Tolak Proyek Wisata Terpadu, Hutan Lindung 22,5 Hektare Terancam Deforestasi

Aksi Warga Prigen Tolak Proyek Wisata Terpadu, Hutan Lindung 22,5 Hektare Terancam Deforestasi

Senin, 30 Mar 2026 07:00 WIB

Senin, 30 Mar 2026 07:00 WIB

TUJUHPAGI - Minggu pagi (29/03) jalanan Prigen sudah tak lagi lengang. Ribuan wajah memadati ruas menuju kawasan yang dulu hutan, kini perlahan berubah menjadi…

Catatan Malam Ramadan Dari Pengeras Suara hingga Sunyi Doa

Catatan Malam Ramadan Dari Pengeras Suara hingga Sunyi Doa

Selasa, 17 Mar 2026 07:00 WIB

Selasa, 17 Mar 2026 07:00 WIB

Tujuhpagi - Adakah malam yang lebih dirindukan, selain malam-malam di bulan Ramadhan? Malam qiyamul lail. Dzikir. Salat. Dan ibadah yang menjelma sunyi. Malam…

KontraS Soroti Mandeknya Reformasi Kepolisian

KontraS Soroti Mandeknya Reformasi Kepolisian

Senin, 16 Mar 2026 07:00 WIB

Senin, 16 Mar 2026 07:00 WIB

Tujuhpagi – Kekerasan yang melibatkan aparat kepolisian kembali menjadi sorotan. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai kasus kekerasan oleh polisi terus m…

Kampung Tanpa Gadget

Kampung Tanpa Gadget

Sabtu, 07 Mar 2026 07:00 WIB

Sabtu, 07 Mar 2026 07:00 WIB

TUJUHPAGI - Sore itu angin laut bertiup pelan di Kampung Nelayan Sukolilo, Surabaya. Anak-anak mulai berdatangan. Mereka datang tidk membawa gadget, tidak…

Aksi Kamisan ke-899 di Surabaya Suarakan Keadilan untuk Arianto Tawakal

Aksi Kamisan ke-899 di Surabaya Suarakan Keadilan untuk Arianto Tawakal

Jumat, 27 Feb 2026 07:00 WIB

Jumat, 27 Feb 2026 07:00 WIB

TUJUHPAGI - Surabaya sore itu bernafas berat. Di depan Gedung Negara Grahadi, kawat berduri terbentang seperti garis pemisah antara rakyat dan kekuasaan. Di…

Mahasiswa ISTTS Kembangkan Aplikasi “Teman Keluarga” untuk Lansia

Mahasiswa ISTTS Kembangkan Aplikasi “Teman Keluarga” untuk Lansia

Rabu, 25 Feb 2026 22:10 WIB

Rabu, 25 Feb 2026 22:10 WIB

TUJUHPAGI – Di tengah kesibukan anak muda mengejar deadline, scroll TikTok, dan kerja remote, kadang urusan orang tua di rumah suka terlewat. Nah, tiga m…