TUJUHPAGI - Surabaya sore itu bernafas berat. Di depan Gedung Negara Grahadi, kawat berduri terbentang seperti garis pemisah antara rakyat dan kekuasaan. Di baliknya berdiri para penjaga berseragam, dingin dan tak berwajah, seolah tembok besi yang tak mengenal belas kasih. Namun di sisi lain, di bawah langit yang mulai meredup, sekelompok manusia berdiri tegak — para pencari keadilan yang menolak bungkam. Mereka datang bukan dengan senjata, melainkan dengan suara dan keyakinan, bahwa keadilan, betapapun disembunyikan, tak akan pernah mati.
Itulah Aksi Kamisan ke-899. Angka yang panjang, tapi bukan sekadar hitungan minggu. Ia adalah tanda kesetiaan, tanda bahwa rakyat masih ingat, bahwa luka-luka masa lalu belum sembuh, dan bahwa negara masih berutang pada mereka yang kehilangan.
Foto Tawakal Arianto, bocah 14 tahun yang meregang nyawa setelah kepalanya dihantam helm baja milik anggota Brimob. (Foto: M. Iffan Maulana)
Hari itu mereka menyebut satu nama: Arianto Tawakal. Remaja 14 tahun asal Kota Tual, Kabupaten Maluku Tenggara itu tewas setelah menjalani perawatan. Di Surabaya, ratusan kilometer jauhnya, orang-orang berdiri untuknya. Massa aksi membawa poster duka cita sekaligus protes kebengisan aparat kepolisian.
Seorang peserta Aksi Kamisan ke-899 berlutut di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, menuntut keadilan atas kematian Arianto Tawakal. (Foto: M. Iffan Maulana)
Di antara mereka ada Rakan Noval Alif, salah satu peserta aksi. Mahasiswa yang usianya baru 20 tahun. Wajah dan sorot matanya tampak getir. Rakan merasa tindakan represif polisi telah menjadi budaya dalam instansi kepolisian.
“Semisal aksinya terus-menerus, berarti peringatannya tidak didengarkan,” ujar Rakan. “Arogansi yang saya lihat adalah bagaimana cara kepolisian menindak. Kalau dibilang polisi juga bekerja dan manusia, betul. Tapi memang itu sudah tugas dari polisi," katanya.
Massa aksi membawa poster dan spanduk bertuliskan tuntutan keadilan dalam Aksi Kamisan ke-899 di Taman Apsari, Surabaya. Foto: M. Iffan Maulana
Ia tahu, kekerasan bukan lagi peristiwa, melainkan kebiasaan. Ia tahu, arogansi telah menjadi darah dalam tubuh kekuasaan — dan rakyat hanya bisa menatap, menunggu, sambil terus mengingat.
Di sisinya juga berdiri Teresa Dianusa, mahasiswi muda dari salah satu universitas ternama. Rambutnya tergerai, matanya menatap kawat berduri itu seperti menatap sejarah yang berulang. Ia berkata pelan, tapi setiap katanya menggema.
“Yang seharusnya mereka melindungi rakyat, tapi malah mencampuri urusan rakyat dan menggunakan kekuasaan untuk menindas. Hukum di Indonesia itu selalu tumpul ke bawah.”
Ia berhenti sejenak, menatap aparat di seberang jalan, lalu menambahkan dengan nada yang lebih tegas:
“Reformasi kepolisian yang nyata harus ditegakkan. Sistem yang mereka gunakan tidak berpihak pada rakyat, dan kejadian seperti ini terus berulang, menindas rakyat.”
Ia berbicara bukan dengan amarah, melainkan dengan kesadaran. Ia tahu, kekuasaan selalu mencari cara untuk menutupi luka. Tapi ia juga tahu, suara manusia tak bisa dibungkam selamanya.
Mahasiswa membentangkan poster tuntutan keadilan bagi Arianto Tawakal dalam Aksi Kamisan Surabaya. Foto: M. Iffan Maulana
Kawat berduri itu tetap berdiri, dingin dan tak bergerak. Tapi di baliknya, suara-suara kecil terus bergema. Mereka tahu, ruang dialog telah tertutup. Maka jalan satu-satunya adalah berdiri di bawah langit, setiap Kamis, dan mengingatkan dunia bahwa keadilan di negeri ini sedang sakit.
“Aksi ini adalah peringatan. Kami tidak akan lelah untuk terus mengingatkan. Sekarang tinggal bagaimana langkah pemerintah ke depan,” kata Rakan.
Ia menatap langit yang mulai gelap, seolah mencari tanda bahwa perjuangan ini masih berarti. Teresa menunduk sejenak, lalu berkata lirih
“Kita hanya bisa menyuarakan dalam bentuk tulisan yang terbit di artikel atau jurnal-jurnal kita.”
Kalimat itu sederhana, tapi di dalamnya tersimpan kesadaran yang dalam: bahwa menulis pun adalah bentuk perlawanan.
Dan sore itu, di bawah langit Surabaya yang mulai gelap, Aksi Kamisan ke-899 menjadi saksi bahwa rakyat belum menyerah. Bahwa mereka masih percaya pada sila kelima Pancasila — Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Bahwa selama suara belum didengar, Kamis dan segala suaranya akan terus hidup — menembus kawat berduri, menembus tembok kekuasaan, dan menembus hati siapa pun yang masih punya nurani. (If)
Editor : Ardhia Tap