Kampung Tanpa Gadget

author Ardhia Tap

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Mereka bermain dolanan lama. Permainan yang dulu memenuhi halaman-halaman kampung. (Foto: Cak Mus untuk Tujuhpagi)
Mereka bermain dolanan lama. Permainan yang dulu memenuhi halaman-halaman kampung. (Foto: Cak Mus untuk Tujuhpagi)

i

TUJUHPAGI - Sore itu angin laut bertiup pelan di Kampung Nelayan Sukolilo, Surabaya. Anak-anak mulai berdatangan. Mereka datang tidk membawa gadget, tidak menunduk menatap layar. Tidak sibuk dengan ponsel. Di tangan mereka ada permainan.

Ada yang membawa gasing. Ada yang memegang tali. Ada yang sekadar duduk menunggu permainan dimulai. Mereka sedang ngabuburit. Namanya Marhaban Yaa Dolanan. Sebuah kegiatan ngabuburit tanpa gadget yang digagas komunitas Kampoeng Dolanan. Tahun ini sudah memasuki jilid ketujuh.

Mereka bermain dolanan lama. Permainan yang dulu memenuhi halaman-halaman kampung. (Foto: Cak Mus untuk Tujuhpagi)Mereka bermain dolanan lama. Permainan yang dulu memenuhi halaman-halaman kampung. (Foto: Cak Mus untuk Tujuhpagi)

Permainan tradisional menjadi inti kegiatan. Anak-anak bermain bersama. Tertawa bersama. Menunggu waktu berbuka dengan cara yang sederhana. Bukan hanya bermain. Mereka juga mengaji bersama. Lalu berbuka bersama.

Menurut Cak Mus, Founder sekaligus Ketua Kampoeng Dolanan, kegiatan ini ingin menghadirkan kembali kegembiraan sederhana seperti yang dulu dirasakan anak-anak ketika bermain.

“Kampoeng Dolanan berharap kegiatan ini bisa menjadi momentum untuk menyambut Ramadan dengan suka cita seperti layaknya anak-anak yang sangat senang sekali dengan bermain,” ujarnya.

Cak Mus menjelaskan, tahun ini ada yang berbeda. Marhaban Yaa Dolanan tidak hanya berlangsung di Surabaya. Permainan yang sama juga dimainkan anak-anak di Kepulauan Sangihe, Sulawesi. Sebuah wilayah di ujung Indonesia yang berbatasan langsung dengan Filipina.

Jaraknya jauh. Dipisahkan laut. Tapi suasananya sama. Anak-anak bermain. Menunggu adzan magrib.Sore di Kampung Nelayan Sukolilo. Anak-anak datang bukan membawa gadget, tapi membawa tawa. (Foto: Cak Mus untuk Tujuhpagi)Sore di Kampung Nelayan Sukolilo. Anak-anak datang bukan membawa gadget, tapi membawa tawa. (Foto: Cak Mus untuk Tujuhpagi)

Dalam rangkaian tahun ini, kegiatan yang digelar merupakan kegiatan keempat dari tujuh agenda selama Ramadan. Lokasinya di Kampung Nelayan, TBM Aviccena Berkah, Jalan Sukolilo IV Surabaya, Jumat sore (6/3/26).

Yang menarik, Kampoeng Dolanan tidak hanya mengajak anak-anak. Pada pekan berikutnya, peserta ngabuburit dolanan justru para lansia. Permainan lama itu akan kembali dimainkan. Kali ini oleh mereka yang mungkin pernah memainkannya puluhan tahun lalu.

Di akhir kegiatan, anak-anak juga mendapat mainan yang dibagikan oleh Kampoeng Dolanan. Sederhana. Tapi cukup untuk membuat sore Ramadan terasa lebih hidup. Di kampung nelayan itu, tawa anak-anak kembali terdengar.

Tanpa gadget.

Berita Terbaru

Aksi Warga Prigen Tolak Proyek Wisata Terpadu, Hutan Lindung 22,5 Hektare Terancam Deforestasi

Aksi Warga Prigen Tolak Proyek Wisata Terpadu, Hutan Lindung 22,5 Hektare Terancam Deforestasi

Senin, 30 Mar 2026 07:00 WIB

Senin, 30 Mar 2026 07:00 WIB

TUJUHPAGI - Minggu pagi (29/03) jalanan Prigen sudah tak lagi lengang. Ribuan wajah memadati ruas menuju kawasan yang dulu hutan, kini perlahan berubah menjadi…

Catatan Malam Ramadan Dari Pengeras Suara hingga Sunyi Doa

Catatan Malam Ramadan Dari Pengeras Suara hingga Sunyi Doa

Selasa, 17 Mar 2026 07:00 WIB

Selasa, 17 Mar 2026 07:00 WIB

Tujuhpagi - Adakah malam yang lebih dirindukan, selain malam-malam di bulan Ramadhan? Malam qiyamul lail. Dzikir. Salat. Dan ibadah yang menjelma sunyi. Malam…

KontraS Soroti Mandeknya Reformasi Kepolisian

KontraS Soroti Mandeknya Reformasi Kepolisian

Senin, 16 Mar 2026 07:00 WIB

Senin, 16 Mar 2026 07:00 WIB

Tujuhpagi – Kekerasan yang melibatkan aparat kepolisian kembali menjadi sorotan. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai kasus kekerasan oleh polisi terus m…

Mengapa Perempuan Surabaya Terus Turun ke Jalan?

Mengapa Perempuan Surabaya Terus Turun ke Jalan?

Rabu, 11 Mar 2026 07:00 WIB

Rabu, 11 Mar 2026 07:00 WIB

TUJUHPAGI - Langkah-langkah perempuan memenuhi ruas jalan dari Basuki Rahmat menuju Gedung Grahadi, Surabaya. Poster-poster diangkat tinggi, berisi kritik, …

Mavo Khan Restaurant, Wajah Diplomasi Kuliner Pakistan di Surabaya

Mavo Khan Restaurant, Wajah Diplomasi Kuliner Pakistan di Surabaya

Kamis, 05 Mar 2026 13:03 WIB

Kamis, 05 Mar 2026 13:03 WIB

TUJUHPAGI - Sore itu, Ampel ramai. Orang-orang berburu takjil. Di antara hiruk-pikuk itu, ada aroma daging bakar yang menembus udara. Asapnya naik, wanginya…

Aksi Kamisan ke-899 di Surabaya Suarakan Keadilan untuk Arianto Tawakal

Aksi Kamisan ke-899 di Surabaya Suarakan Keadilan untuk Arianto Tawakal

Jumat, 27 Feb 2026 07:00 WIB

Jumat, 27 Feb 2026 07:00 WIB

TUJUHPAGI - Surabaya sore itu bernafas berat. Di depan Gedung Negara Grahadi, kawat berduri terbentang seperti garis pemisah antara rakyat dan kekuasaan. Di…