Kali Tebu Terseret Sampah Plastik, Ikan Menghilang dan Tinggal Cerita bagi Generasi Mendatang

author M.Iffan Maulana

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Aktivis lingkungan membentangkan pesan penolakan plastik sekali pakai di Jembatan Kali Dinding, mengajak warga menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai. (foto: M. Iffan)
Aktivis lingkungan membentangkan pesan penolakan plastik sekali pakai di Jembatan Kali Dinding, mengajak warga menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai. (foto: M. Iffan)

i

TUJUH PAGI - Mereka hanya bertiga ketika menyerukan aksi di atas Jembatan Kali Dinding, Surabaya Rabu (24/6). Diantara deru kendaraan yang tak habis, bersama bising suara jalanan, para aktivis mencoba menembus lalu lintas yang padat. Mereka mengajak warga menoleh ke bawah—ke Kali Tebu yang tampak tenang, namun menyimpan perubahan yang tak sederhana.

Tiga aktivis mengenakan kostum plastik dan topeng ikan saat aksi di tepi Kali Tebu, Surabaya, Rabu (24/6), sebagai simbol hilangnya biota sungai akibat pencemaran plastik. (Foto: M. Iffan)Tiga aktivis mengenakan kostum plastik dan topeng ikan saat aksi di tepi Kali Tebu, Surabaya, Rabu (24/6), sebagai simbol hilangnya biota sungai akibat pencemaran plastik. (Foto: M. Iffan)

Dengan tubuh dibalut plastik bekas dan wajah bertopeng ikan. Aksi teatrikal itu menjadi isyarat tentang nasib biota sungai yang kian terdesak. Ikan-ikan yang dulu mudah ditemukan, kini menghilang perlahan, tersisih oleh pencemaran plastik.

Aksi bertajuk “Sampah Plastikmu Racuni Iwak Kali Tebu” digelar oleh Jaringan Gen Z Tolak Plastik Sekali Pakai (JEJAK), Aliansi Komunitas Penyelamat Sungai (AKAMSI), River Warriors, dan Ecoton. Mereka mengingatkan, kerusakan sungai bukan semata soal sampah yang tampak di permukaan, melainkan juga kehidupan yang perlahan lenyap di dalamnya.

Bagi warga yang tumbuh pada 1970-an hingga 1990-an, Kali Tebu pernah menjadi bagian dari keseharian. Sungai itu adalah ruang bermain, tempat menjala ikan, sekaligus sumber pangan.

“Dulu ikan wader, bader, sampai gabus mudah ditemukan. Anak-anak mandi dan menjala ikan di sini. Sekarang airnya keruh, yang terlihat justru sampah,” kata peneliti Ecoton, Alaika Rahmatullah, menirukan cerita warga.

Kini, kenangan itu kian jauh dari generasi sekarang. Nama-nama ikan lokal yang dulu akrab, perlahan menjadi asing.

Dari atas jembatan, anggota AKAMSI Jofanny Ahmad mengingatkan bahwa dampak pencemaran tak berhenti hari ini. Kebiasaan membuang sampah, kata dia, bisa memutus hubungan generasi mendatang dengan sungai.

Tumpukan sampah plastik terlihat di aliran Kali Tebu yang tercemar, meski upaya pembersihan terus dilakukan oleh komunitas dan pemerintah setempat. (M. Iffan)Tumpukan sampah plastik terlihat di aliran Kali Tebu yang tercemar, meski upaya pembersihan terus dilakukan oleh komunitas dan pemerintah setempat. (M. Iffan)

Kekhawatiran itu berangkat dari fakta di lapangan. Sepanjang Mei hingga Juni 2026, lebih dari 27 ton sampah diangkat dari Kali Tebu. Sekitar 11,5 ton dibersihkan oleh Tim MOZAIK Ecoton, sementara sisanya diangkut melalui operasi gabungan bersama Dinas Lingkungan Hidup Surabaya dan petugas Kecamatan Kenjeran.

Angka itu menunjukkan tekanan yang terus-menerus diterima sungai. Namun persoalan tak berhenti pada sampah yang kasat mata. Ada ancaman lain yang lebih halus: mikroplastik, serpihan kecil yang menyusup ke air dan sedimen.

“Mikroplastik bisa masuk ke tubuh ikan lewat makanan. Dalam jangka panjang, ini mengganggu kesehatan organisme dan merusak ekosistem sungai,” ujar Alaika.

Padahal, Kali Tebu pernah dikenal kaya akan keanekaragaman hayati. Ikan gabus, wader, bader putih dan merah, keting, rengkik, hingga belida jawa pernah menghuni perairan ini. Kedekatannya dengan kawasan tambak dan pesisir juga membuat bandeng, mujair, dan belanak kerap ditemukan.

Kini, banyak sampah datang dari berbagai arah: urbanisasi, limbah rumah tangga, sedimentasi, hingga sampah plastik yang terus mengalir. Kerusakan itu berlangsung perlahan, menumpuk dari waktu ke waktu, hingga menggerus kualitas habitat.

Program Manager MOZAIK, Amiruddin Muttaqqin, menilai penanganan tak bisa berhenti pada pengangkatan sampah di permukaan. Ia menekankan perlunya langkah yang lebih menyeluruh—dari hulu ke hilir.

Menurutnya, sungai bukan sekadar aliran air. Ia adalah habitat, pengendali banjir, penyimpan keanekaragaman hayati, sekaligus bagian dari sejarah sosial warga.

Suasana aksi teatrikal komunitas lingkungan di bantaran Kali Tebu, menyoroti ancaman mikroplastik terhadap ekosistem sungai dan kehidupan ikan. (M. Iffan)Suasana aksi teatrikal komunitas lingkungan di bantaran Kali Tebu, menyoroti ancaman mikroplastik terhadap ekosistem sungai dan kehidupan ikan. (M. Iffan)

“Kondisi sungai hari ini mencerminkan bagaimana manusia memperlakukannya. Kalau pencemaran dibiarkan, dampaknya akan terus menumpuk dalam jangka panjang,” ujarnya.

Di akhir aksi, para aktivis kembali menyerukan hal-hal mendasar: mengurangi plastik sekali pakai, memilah sampah dari rumah, dan menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai.

Pesan itu sederhana, namun konsekuensinya panjang. Setiap plastik yang hanyut membawa serta kemungkinan hilangnya kehidupan—ikan yang tak lagi kembali, dan ingatan tentang sungai yang perlahan memudar.

Jika keadaan ini terus berlanjut, ikan-ikan sungai mungkin hanya akan tinggal sebagai gambar di buku pelajaran—bukan lagi sesuatu yang bisa dilihat, apalagi ditangkap, oleh generasi yang akan datang. (Fan)

 

Berita Terbaru

Tuntut Stabilkan Harga, Warga Surabaya Padati Taman Apsari

Tuntut Stabilkan Harga, Warga Surabaya Padati Taman Apsari

Selasa, 16 Jun 2026 07:00 WIB

Selasa, 16 Jun 2026 07:00 WIB

Tujuhpagi - Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan JuniDirahasiakannya rintik rindunyaKepada pohon berbunga itu. Penggalan puisi Sapardi djoko damono…

Sambang Buyut di Tanggul Porong, Merawat Ingatan Menuntut Pemulihan

Sambang Buyut di Tanggul Porong, Merawat Ingatan Menuntut Pemulihan

Sabtu, 30 Mei 2026 19:00 WIB

Sabtu, 30 Mei 2026 19:00 WIB

TUJUHPAGI -  Sambang buyut, istilah yang kerap para warga sebut sebagai ritual mengunjungi leluhur mereka yang sudah ada dari turun terumurun.  Ratusan langkah …

Catatan 8 Tahun Bom Surabaya: Solidaritas Lintas Iman Menguat

Catatan 8 Tahun Bom Surabaya: Solidaritas Lintas Iman Menguat

Kamis, 14 Mei 2026 07:00 WIB

Kamis, 14 Mei 2026 07:00 WIB

TUJUHPAGI — Delapan tahun telah berlalu sejak ledakan mengguncang GKI Diponegoro, Surabaya. Waktu berjalan, tetapi ingatan tentang peristiwa itu tidak b…

Perempuan-Perempuan Tangguh di Lorong Pasar Pabean Surabaya

Perempuan-Perempuan Tangguh di Lorong Pasar Pabean Surabaya

Selasa, 12 Mei 2026 07:00 WIB

Selasa, 12 Mei 2026 07:00 WIB

TUJUH PAGI - Usia, bagi sebagian orang, mungkin penanda batas. Tapi di Pasar Pabean Surabaya, usia hanyalah angka yang pelan-pelan kehilangan maknanya. Di…

Pesta Babi: Film dan Keberanian Membicarakan Papua

Pesta Babi: Film dan Keberanian Membicarakan Papua

Senin, 11 Mei 2026 07:00 WIB

Senin, 11 Mei 2026 07:00 WIB

Tujuh Pagi — Auditorium Universitas Ciputra Surabaya siang itu dipenuhi penonton. Mahasiswa, aktivis, hingga masyarakat umum datang menyaksikan pemutaran film d…

Sound Therapy di Surabaya: Menyimak Diri Lewat Bunyi

Sound Therapy di Surabaya: Menyimak Diri Lewat Bunyi

Senin, 04 Mei 2026 07:00 WIB

Senin, 04 Mei 2026 07:00 WIB

TUJUHPAGI - Malam itu, keheningan merayap pelan di ruang Oasis, lantai empat Hotel JW Marriott Surabaya, Sabtu (2/5/2026). Udara dingin menggantung, nyaris tak…