TUJUHPAGI - Bayangkan. Seseorang duduk berlama lama dalam diam. Laptop menyala. Ponsel di tangan. Secangkir kopi di samping. Tenang. Tapi pikirannya tidak. Ia sedang berbelanja. Atau lebih tepatnya: sedang berunding dengan dirinya sendiri.
Ini zaman baru. Dulu, orang ke pasar membawa daftar belanja. Sekarang, daftar itu kalah oleh notifikasi.
“Flash sale 70%.”
“Terbatas hanya hari ini.”
“Stok tinggal 3.”
Yang dibeli sering kali bukan yang dibutuhkan. Tapi yang ditakuti akan hilang. Saya sering bertanya: ketika belanja online, mana yang sebenarnya lebih penting? Harga murah atau kebutuhan? Jawabannya tidak sederhana.
Diskon itu menggoda. Ia seperti teman lama yang datang tiba-tiba, membawa kabar baik—padahal belum tentu penting. Kita merasa beruntung. Padahal bisa jadi sedang dikalahkan. Kebutuhan itu diam. Tidak berisik. Tidak muncul dalam notifikasi. Tapi justru itulah yang sering dilupakan.
Di layar laptop, pilihan begitu banyak. Di layar ponsel, semuanya terasa lebih dekat. Terlalu dekat. Sampai-sampai batas antara “ingin” dan “butuh” menjadi kabur. Orang membeli dua. Padahal cukup satu. Orang membeli sekarang. Padahal tidak perlu hari ini. Belanja online telah mengubah cara kita mengambil keputusan. Dulu, kita berpikir dulu baru membeli. Sekarang, kita membeli dulu—baru berpikir.
Yang menarik, semua itu terjadi dalam suasana santai. Duduk. Minum kopi. Tidak ada tekanan. Padahal, justru di situlah tekanannya. Tekanan untuk tidak ketinggalan, untuk merasa hemat dan merasa “sayang kalau tidak dibeli”. Kegelisahan manusia jaman sekarang, tentang manusia modern yang tidak lagi bertarung dengan harga. Tapi dengan dirinya sendiri. Dan sering kali—kalah.
Editor : Redaksi