TUJUH PAGI - Sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM Nusantara Jawa Timur mendatangi Markas Kodam V/Brawijaya di Surabaya. Mereka membawa satu isu utama: kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus. Kamis sore, 9 April. Suasana sempat memanas.
Tuntutannya tidak banyak, tapi tajam. Transparansi. Dan pengusutan sampai tuntas. Bukan hanya pelaku lapangan, tetapi juga siapa di belakangnya.
Mereka juga mempersoalkan jalur hukum yang ditempuh. Para pelaku diproses di peradilan militer. Padahal, menurut mereka, ada dasar hukum agar kasus seperti ini dibawa ke peradilan umum. Di situlah letak kegelisahan mereka: soal keadilan dan supremasi hukum.
Perjalanan menuju markas tidak sepenuhnya mulus. Koordinator BEM Nusantara Jawa Timur, Denny Oktaviano Pratama, menceritakan adanya upaya penghadangan di jalan. Jumlahnya tidak banyak, tapi cukup untuk memperlambat langkah.
“Dalam perjalanan, kami sempat dihadang oleh sekelompok orang yang awalnya berjumlah dua, lalu bertambah menjadi empat hingga enam orang, mereka tampak terorganisir untuk menghalangi aksi.”
Sejumlah mahasiswa menggelar aksi di depan Markas Kodam V/Brawijaya, Surabaya, Kamis (9/4), menuntut pengusutan tuntas kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus. (Foto: M. Iffan)
Alasan penghadangan: aturan internal kawasan militer. Massa diminta menunggu. Namun situasi telanjur tegang. Aksi tetap dilanjutkan.
“Kami menegaskan bahwa kebebasan berpendapat dijamin oleh undang-undang sebagai hasil perjuangan reformasi. Oleh karena itu, aksi tetap dilanjutkan sebagai bentuk perlawanan dan penyampaian aspirasi di depan Markas Kodam V Brawijaya.”
Di luar itu, ada cerita lain. Denny mengaku merasakan tekanan tidak langsung. Bukan ke dirinya, tapi lewat orang-orang terdekatnya. Kontak dilakukan menjelang Lebaran.
“Sejak H-1 Lebaran, pihak TNI berulang kali mencoba menghubungi keluarga saya termasuk kekasih dan orang tua, bahkan hingga sekitar pukul 21.00 malam, untuk menanyakan keberadaan, komunikasi terakhir, dan posisi saya saat itu.”
Bagi mereka, ini bukan sekadar aksi. Ini soal sikap. Soal ruang sipil. Soal hak untuk bersuara.
BEM Nusantara Jawa Timur akan terus mendesak instansi TNI, terutama Kodam V Brawijaya, untuk memberikan rekomendasi kepada Mabes TNI agar kasus ini segera diusut tuntas, tidak hanya berhenti pada pelaku di lapangan saja, tetapi sampai mengungkap dalang di balik peristiwa tersebut, serta pihak yang memerintahkannya agar diadili seadil – adilnya.
Bahkan, mereka membuka kemungkinan aksi lanjutan. Skalanya bisa lebih besar. Terutama jika ada indikasi intimidasi terhadap peserta aksi.
“Kami menegaskan, apabila dalam aksi ini terdapat kawan-kawan yang mengalami intimidasi, maka kami akan menggelorakan gerakan yang lebih besar di depan Markas Kodam.” Tegas Denny.
Di tengah panasnya situasi, satu hal tetap terlihat: mereka tidak ingin diam. Kasus Andrie Yunus menjadi alasan. Sekaligus pengikat. (MI)
Editor : Ardhia Tap