TUJUHPAGI - Langkah-langkah perempuan memenuhi ruas jalan dari Basuki Rahmat menuju Gedung Grahadi, Surabaya. Poster-poster diangkat tinggi, berisi kritik, tuntutan, sekaligus harapan. Bagi mereka yang hadir, aksi peringatan International Women’s Day (IWD) bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang untuk menyuarakan pengalaman dan kegelisahan yang kerap tak terdengar.
Dalam peringatan IWD Surabaya 2026, puluhan organisasi dan individu berkumpul membawa tema “Ayo Rek! Saling Njogo, Saling Nguatno”. Tema itu mencerminkan semangat saling menjaga dan menguatkan di tengah berbagai persoalan yang masih dihadapi perempuan, mulai dari kekerasan berbasis gender hingga kebijakan yang dianggap belum berpihak pada kelompok rentan.
Baca juga: Mavo Khan Restaurant, Wajah Diplomasi Kuliner Pakistan di Surabaya
Aksi tersebut tidak hanya diisi orasi. Peserta juga menghadirkan mimbar bebas, teater, pembacaan puisi, musik, hingga monolog. Bentuk-bentuk ekspresi ini menjadi cara lain untuk menyampaikan pengalaman perempuan yang sering kali tidak mendapatkan ruang dalam percakapan publik arus utama.
Di Surabaya, aksi perempuan bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Setiap tahun, berbagai komunitas dan organisasi perempuan terus menghadirkan ruang kolektif untuk menyuarakan isu-isu yang mereka hadapi. Bagi sebagian aktivis, keberlanjutan aksi ini menunjukkan bahwa persoalan yang diperjuangkan belum sepenuhnya terselesaikan.
Isu yang diangkat juga semakin beragam. Dalam aksi tersebut, peserta menyuarakan sedikitnya 23 tuntutan, mulai dari perlindungan bagi pembela hak asasi manusia, penghentian kekerasan terhadap perempuan dan kelompok rentan, jaminan kebebasan akademik tanpa seksisme, hingga pengesahan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga.
Isu kesehatan perempuan, kekerasan berbasis gender, hingga perlindungan terhadap kelompok marginal juga menjadi perhatian. Di antara peserta aksi, Adin (20), mahasiswi di Surabaya, melihat aksi ini sebagai pengingat bahwa isu kekerasan terhadap perempuan masih membutuhkan perhatian serius.
“Menurut saya, tidak ada yang salah dengan menunjukkan empati kepada korban femisida. Kadang perhatian publik justru teralihkan oleh narasi hiburan, sehingga empati terhadap korban dianggap berlebihan,” ujarnya.
Bagi sebagian peserta lain, aksi tersebut juga menjadi kesempatan menyuarakan pengalaman personal. Alfi Kamila Azzahra (20), yang merupakan pejuang endometriosis, membawa poster untuk mengingatkan masyarakat bahwa nyeri menstruasi tidak selalu bisa dianggap sepele.
Baca juga: Benowo Mengeluh, Udara Tak Lagi Utuh
“Saya ingin masyarakat memahami bahwa nyeri menstruasi tidak selalu hal kecil. Pada kondisi seperti endometriosis, rasa sakitnya bisa sangat hebat sampai seseorang harus pergi ke rumah sakit setiap bulan,” katanya.
Hal serupa dirasakan Nurvia Tri Agustin (19), yang aktif mengangkat isu perempuan di lingkungan kampusnya. Ia menilai ruang seperti ini penting karena memberi kesempatan bagi perempuan untuk menyampaikan pengalaman mereka secara langsung.
“Ketika pengalaman itu disampaikan langsung oleh yang mengalaminya, orasi yang muncul terasa lebih kuat dan lebih nyata,” ujarnya.
Bagi banyak peserta, ruang publik seperti jalanan kota menjadi tempat penting untuk menyampaikan pengalaman yang selama ini kerap dianggap urusan pribadi. Ketika pengalaman tersebut dibawa ke ruang publik, persoalan yang dialami individu berubah menjadi isu sosial yang perlu mendapat perhatian bersama.
Di tengah berbagai tuntutan yang disuarakan, sebagian peserta percaya perubahan juga dapat dimulai dari hal-hal sederhana di lingkungan sekitar. Adin, misalnya, memilih memulai dari lingkaran pertemanan dengan tidak lagi menormalisasi candaan bernuansa patriarki.
“Saya mencoba memulai dari lingkungan terdekat, seperti di tongkrongan, dengan tidak ikut menyebarkan candaan yang merendahkan perempuan,” katanya.
Baca juga: Surabaya Semakin Mantap Jadi Kota Teknologi, iSTTS Sukses Gelar Workshop Deep Learning Bareng NVIDIA
Di Surabaya, peringatan Hari Perempuan Internasional akhirnya menjadi lebih dari sekadar peringatan tahunan. Ia menjelma ruang kolektif bagi perempuan untuk berbagi cerita, menyuarakan pengalaman, dan mengingatkan bahwa perjuangan kesetaraan masih terus berjalan—baik di ruang privat maupun di ruang publik kota. (MI)
Editor : Ardhia Tap