TUJUHPAGI - Sore itu, Ampel ramai. Orang-orang berburu takjil. Di antara hiruk-pikuk itu, ada aroma daging bakar yang menembus udara. Asapnya naik, wanginya menggoda. Orang-orang menoleh. Itulah Mavo Khan Restaurant (MKR) — restoran khas Pakistan yang kini jadi buah bibir di Surabaya. Tempat orang berbuka, tempat orang penasaran.
Baca juga: Benowo Mengeluh, Udara Tak Lagi Utuh
Pemiliknya bernama Rafiullah (48). Lelaki asal Pakistan yang datang ke Indonesia tujuh tahun lalu. Awalnya bukan penjual makanan. Ia pedagang suku cadang truk, yang biasa ekspor ke Dubai dan Pakistan. Tapi ada yang mengganjal di hatinya.
“Banyak yang mengira saya orang Arab atau India. Padahal Pakistan negara besar dengan populasi Muslim yang tinggi,” ujar Rafi.
Ia ingin mengubah itu. Ia ingin Indonesia mengenal Pakistan. Bukan lewat politik namun lewat makanan.
“Kami ingin memperkenalkan Pakistan kepada masyarakat Indonesia dan mempererat hubungan kedua negara melalui makanan,” katanya.
Restoran itu berdiri tahun 2021. Masih menyewa tempat. Pegawainya kebanyakan warga Ampel. Hanya tiga orang dari Pakistan , mereka bertugas sebagia pemanggang, pembuat roti, dan juru nasi.
Nama Mavo Khan diambil dari anak keduanya, Muhammad Amir Mawia, panggilannya Mavo.
“Nama MKR berasal dari nama anak saya, Muhammad Amir Mawia, yang juga nama salah satu sahabat Rasulullah,” jelasnya.
Perjalanannya tidak selalu mulus. Pernah ada pegawai mencuri. Pernah rasa masakan dianggap terlalu asing. Pernah juga kesulitan mencari bumbu yang cocok. Tapi Rafi tidak menyerah.
“Alhamdulillah, masyarakat di sini sangat sopan dan ramah,” ujarnya.
Anak sulungnya, Muhammad Haashir (16), ikut membantu. Ia pelajar SMP Al-Irsyad Surabaya. Tapi di luar sekolah, ia jadi duta MKR di dunia maya.
“Kebanyakan pelanggan datang karena penasaran setelah melihat media sosial,” kata Haashir.
Baca juga: Surabaya Semakin Mantap Jadi Kota Teknologi, iSTTS Sukses Gelar Workshop Deep Learning Bareng NVIDIA
TikTok mereka punya 25 ribu pengikut. Hampir setiap hari ada video baru. Haashir bukan hanya promosi, tapi juga menularkan budaya.
“Kami ingin Pakistan dan Indonesia saling mengenal. Soal hasilnya, kami serahkan kepada Allah,” ujarnya.
Ramadan tahun ini jadi masa sibuk. Tapi juga masa ujian. Hujan sering turun saat berbuka. Pengunjung berkurang.
“Jika tidak hujan, penjualan lebih baik. Tapi Alhamdulillah, usaha kami tetap berjalan,” kata Rafi.
Salah satu pelanggan setia, Hari Dwiyono (44), datang jauh-jauh dari Pamekasan.
Baca juga: Jeratan Plastik: Ancaman Nyata untuk Kesehatan Masyarakat
“Saya rindu cita rasa makanan di Madinah setelah umrah. Di sini rasanya mirip,” ujarnya.
Hari sudah tiga kali datang. Katanya, rasa di MKR bisa mengobati rindu Madinah. mendengar itu, Rafi pun tersenyum. Ia tahu, misinya berjalan.
“Kami ingin membangun jembatan kedekatan antara Pakistan dan Indonesia lewat makanan,” tutupnya.
Di sudut Ampel itu, Rafi membuktikan: bisnis bukan sekadar soal untung rugi. Tapi tentang asal-usul, identitas, dan persahabatan — yang bisa disajikan di atas piring. (MI)
Editor : Ardhia Tap