TUJUHPAGI - Bayangkan Anda melaju pelan di jalanan malam. Lampu jalan berkilau di kap mobil, sementara jarum penunjuk bahan bakar mendekati garis merah. Anda menepi di sebuah SPBU, membuka kaca, lalu mengucapkan kalimat yang akrab bagi banyak pengendara: “Bensin, Mas. Penuh.”
Kata itu terdengar sederhana. Kita mengucapkannya setiap hari tanpa banyak berpikir tentang asal-usulnya. Sebagian orang mungkin mengaitkannya dengan Karl Benz, tokoh otomotif asal Jerman. Namun, sejarah kata “bensin” menempuh jalur yang lebih panjang—dan salah satu pangkalnya berkaitan dengan nama getah kemenyan dari Asia.
Getah kemenyan, yang dikenal dalam perdagangan sebagai *benzoin*, telah lama menjadi komoditas bernilai. Salah satu dugaan asal nama *benzoin* menghubungkannya dengan ungkapan Arab *lubān jāwī*, yang berarti kemenyan atau dupa Jawa. Kata itu kemudian berubah bentuk ketika masuk ke berbagai bahasa Eropa. Hubungan ini tidak berarti bensin kendaraan dibuat dari kemenyan; yang berkelindan adalah sejarah nama, bukan bahan bakunya.
Pada abad ke-19, para ilmuwan mulai mengisolasi senyawa-senyawa baru dari berbagai bahan. Pada 1825, kimiawan Inggris Michael Faraday mengisolasi suatu hidrokarbon dari residu minyak gas untuk penerangan. Ia menamainya *bicarburet of hydrogen*. Senyawa yang kini dikenal sebagai benzena itu kemudian juga diperoleh secara berbeda oleh kimiawan Jerman Eilhard Mitscherlich, melalui distilasi asam benzoat pada 1833. Mitscherlich menamainya *Benzin*, mengambil nama tersebut dari *benzoic acid* dan keluarga istilah *benzoin*.
Benzena dan bensin bukan hal yang sama. Benzena adalah senyawa kimia tertentu, sedangkan bensin kendaraan merupakan campuran berbagai hidrokarbon. Meski demikian, sejarah istilah *Benzin* menjadi salah satu bagian dari perjalanan kata yang kemudian digunakan untuk menyebut bahan bakar.
Pada akhir abad ke-19, penyulingan minyak bumi menghasilkan berbagai produk, termasuk cairan ringan yang mudah menguap. Produk-produk semacam ini digunakan untuk beragam keperluan, antara lain sebagai pelarut dan pembersih. Nama yang dipakai saat itu berbeda-beda menurut produk dan tempat, sehingga tidak selalu sama dengan istilah “bensin” yang kita kenal sekarang.
Salah satu kisah terkenal dari masa itu terjadi pada Agustus 1888. Bertha Benz melakukan perjalanan jauh dengan mobil buatan suaminya, Karl Benz. Ketika bahan bakarnya habis, ia membeli *ligroin*—cairan berbasis minyak yang digunakan sebagai pelarut—di apotek Wiesloch. Peristiwa itu sering dikenang sebagai bagian penting dalam sejarah perjalanan mobil. Namun, *ligroin* pada masa itu tidak serta-merta identik dengan bensin modern.
Bagaimana istilah tersebut menjadi “bensin” dalam bahasa Indonesia? Kemungkinan besar, bentuknya berkaitan dengan istilah Eropa seperti Benzin atau Benzine, yang dikenal di wilayah Hindia Belanda pada masa perkembangan kendaraan bermotor dan perdagangan bahan bakar.
Bentuk “bensin” lalu menjadi kata yang lazim digunakan dalam bahasa Indonesia. Untuk memastikan jalur persis perubahan ejaannya, diperlukan bukti yang lebih khusus, misalnya iklan lama, arsip perusahaan minyak, atau catatan sejarah bahasa.
Kisah nama ini memperlihatkan perjalanan yang menarik: dari istilah yang dikaitkan dengan kemenyan, ke dunia kimia abad ke-19, lalu ke produk minyak bumi yang digunakan untuk menggerakkan kendaraan.
Hubungan itu bukan kisah tentang kemenyan yang berubah menjadi bahan bakar, melainkan tentang bagaimana sebuah nama berpindah lintas bahasa, ilmu pengetahuan, dan zaman—hingga akhirnya menjadi bagian dari percakapan sehari-hari di SPBU.
Editor : Ardhia Tap