Ludruk yang Tak Mau Tua: Dendam Tuyul Pesugihan

author Patrick L

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Seniman dari Ludrukan Nom-noman Tjap Arek Soeroboio (LUNTAS) mementaskan ludruk berlakon "Dendam Tuyul Pesugihan" di Perumahan Bhaskara Mulyosari, Surabaya. Foto: Patrik Cahyo Lumintu/Tujuh Pagi
Seniman dari Ludrukan Nom-noman Tjap Arek Soeroboio (LUNTAS) mementaskan ludruk berlakon "Dendam Tuyul Pesugihan" di Perumahan Bhaskara Mulyosari, Surabaya. Foto: Patrik Cahyo Lumintu/Tujuh Pagi

i

TUJUHPAGI -  Banyak orang berjarak dengan ludruk. Itu kenapa, ludruk keliling seakan menjadi jalan lain untuk mendekat pada masyarakat.  Malam itu, ludruk datang ke Bhaskara Mulyosari tanpa tiket dan tanpa gedung pertunjukan. Cukup panggung, gamelan, pemain, dan warga yang bersedia berhenti sejenak dari kesibukan malam. 

Gamelan ditabuh. Tari Remo membuka acara. Kidungan jula-juli mengalun. Setelah itu, cerita utama dimulai. Luntas datang dengan lakon Dendam Tuyul Pesugihan. Persiapan para pemeran ludruk sebelum pentas. Patrik Cahyo Lumintu/Tujuh PagiPersiapan para pemeran ludruk sebelum pentas. Patrik Cahyo Lumintu/Tujuh Pagi

Robet Bayoned, nama panggung dari Erland Setiawan, pendiri Luntas, menjelaskan bahwa cerita malam itu sengaja diangkat dari kehidupan masyarakat bawah. Ludruk, katanya, selalu punya ruang untuk membicarakan persoalan yang dekat dengan orang banyak. Salah satunya pesugihan.

“Ludruk itu kan selalu mengangkat cerita persoalan-persoalan masyarakat bawah. Salah satunya pesugihan. Itu tidak asing lagi, bahkan banyak dilakoni masyarakat sendiri. Makanya kita angkat sebagai pesan atau peringatan,” ujar Robet, Minggu 13 September 2026.

Lakon Dendam Tuyul Pesugihan bercerita tentang Hasan, seorang lelaki yang lelah menjadi orang melarat. Ia lalu mengambil jalan pintas: pesugihan tuyul. Dari yang tak punya, Hasan berubah jadi kaya. Uangnya banyak. Ia pun merasa tak lagi membutuhkan tuyul. Namun pesugihan menuntut tumbal. Selama ini, tumbalnya adalah darah perawan.

Pentas ludruk yang digelar gratis keliling kampung oleh LUNTAS merupakan titik ke 10 atau lokasi terakhir dalam rangkaian Ludruk Merdeka volume 5 itu bertujuan untuk melestarikan kesenian ludruk kepada generasi muda di tengah maraknya era digitalisasi. Patrik Cahyo Lumintu/Tujuh PagiPentas ludruk yang digelar gratis keliling kampung oleh LUNTAS merupakan titik ke 10 atau lokasi terakhir dalam rangkaian Ludruk Merdeka volume 5 itu bertujuan untuk melestarikan kesenian ludruk kepada generasi muda di tengah maraknya era digitalisasi. Patrik Cahyo Lumintu/Tujuh Pagi

Pada suatu ketika, Hasan mendapat calon tumbal seorang gadis. Karena kecantikan gadis itu, Hasan jatuh cinta. Niat semula menjadikannya tumbal pun batal. Hasan berpikir, ia sudah kaya dan tak butuh tuyul lagi. Tetapi risiko tak bisa ditawar. Dukun dan tuyulnya ngamuk. Anak Hasan akhirnya meninggal, diambil tuyul itu.

“Dari situ menjadi pelajaran bagi masyarakat. Kalau ingin kaya, ya bekerja. Jalan pintas itu selalu ada risiko-risiko,” kata Robet

Pesannya sederhana. Tetapi justru karena sederhana, ia mudah sampai. Ludruk memang tidak hanya menghadirkan tawa. Ia juga membawa persoalan sehari-hari ke panggung: kemiskinan, keserakahan, godaan kekayaan, dan harga yang harus dibayar ketika seseorang memilih jalan yang keliru.

Ludruk yang Berkeliling Kampung

Setiap tahun, Luntas mendatangi 10 kampung di Surabaya dan Sidoarjo. Sejak 2022 hingga 2026, sudah lima volume digelar. Artinya, 50 kampung pernah menjadi tuan rumah.

“Ludruk Merdeka memang momentum keliling kampung. Kami mulai sekitar 16 atau 17 Agustus untuk memperingati Hari Kemerdekaan. Karena itu namanya Ludruk Merdeka,” kata Robet.

Luntas berdiri pada 2016 di Kampung Seni THR. Tempat itu kini sudah tidak ada. Namun kegelisahan yang melahirkan Luntas masih ada: penonton ludruk semakin berkurang. Luntas lalu mencoba membuat ludruk dengan kemasan baru. Namanya diambil dari daun beluntas.

Pentas ludruk yang digelar gratis keliling kampung oleh LUNTAS merupakan titik ke 10 atau lokasi terakhir dalam rangkaian Ludruk Merdeka volume 5 itu bertujuan untuk melestarikan kesenian ludruk kepada generasi muda di tengah maraknya era digitalisasi. Patrik Cahyo Lumintu/Tujuh PagiPentas ludruk yang digelar gratis keliling kampung oleh LUNTAS merupakan titik ke 10 atau lokasi terakhir dalam rangkaian Ludruk Merdeka volume 5 itu bertujuan untuk melestarikan kesenian ludruk kepada generasi muda di tengah maraknya era digitalisasi. Patrik Cahyo Lumintu/Tujuh Pagi

“Daun beluntas itu tanaman semak yang manfaatnya banyak. Bisa menjadi obat, termasuk untuk mengurangi bau badan. Kami berharap Luntas menjadi obat kerinduan bagi penggemar ludruk,” ujar Robet.

Beluntas juga kerap ditanam sebagai pagar rumah. Dari situlah muncul harapan lain: Luntas bisa menjadi pagar bagi kesenian ludruk agar tidak hilang.

Daun beluntas dapat dimakan sebagai lalapan atau diolah menjadi botok. Bisa dikonsumsi siapa saja. Begitu pula Luntas. Mereka tidak ingin menjadi ludruk untuk orang tua saja. Anak-anak dan generasi muda juga harus bisa menikmatinya. Materi pertunjukannya dibuat lebih edukatif.

“Lawan kami bukan ludruk konvensional yang mengandalkan hal porno, jorok-jorokan, atau saling menyakiti. Kami memilih materi yang edukatif,” kata Robet.

Namun kemasan baru tidak berarti meninggalkan pakem lama. Gamelan tetap dimainkan. Tari Remo tetap menjadi pembuka. Kidungan jula-juli tetap hadir sebelum cerita utama. Yang berubah adalah cara menyampaikannya.

Ada komedi yang lebih segar. Ada black comedy. Ada efek suara. Ada pula berbagai sentuhan panggung yang lebih dekat dengan selera penonton hari ini.

“Tampilannya harus segar. Materi guyonannya juga harus segar. Kami menggunakan komedi modern, tetapi pakem tetap dipertahankan. Gamelan tetap menjadi pakem,” ujarnya.

Belajar dari Gen Z

Muhammad Dipanegara Surya Wijaya termasuk penonton yang baru pertama kali melihat ludruk di Perumahan Bhaskara. Ia datang sebagai bagian dari generasi Z. Pulang dengan pengalaman baru.

“Warga senang sekali. Banyak yang terhibur. Ini pertama kalinya Bhaskara menjadi tuan rumah teman-teman Luntas,” kata Dipanegara.

Menurut dia, ludruk mampu membawa persoalan masyarakat ke atas panggung tanpa terasa menggurui. Cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari disampaikan melalui tawa.

LUNTAS menggelar pertunjukan tersebut untuk merawat kesenian ludruk dan mengenalkannya kepada generasi muda di tengah derasnya era digitalisasi. Patrik Cahyo Lumintu/Tujuh PagiLUNTAS menggelar pertunjukan tersebut untuk merawat kesenian ludruk dan mengenalkannya kepada generasi muda di tengah derasnya era digitalisasi. Patrik Cahyo Lumintu/Tujuh Pagi

“Pesannya, kekayaan terbaik adalah ketika kita berusaha hingga sukses dengan mengandalkan Tuhan. Kalau melakukan hal yang dilarang Tuhan, seperti pesugihan, pasti ada akibatnya,” ujarnya.

Pesan lain, katanya, adalah agar manusia tidak berhenti berusaha, bekerja, dan berikhtiar. Di situlah ludruk menemukan kekuatannya. Ia bisa menyampaikan nasihat tanpa harus berdiri sebagai guru. Cukup melalui tokoh yang salah langkah. Cukup melalui cerita yang membuat penonton tertawa. Lalu, perlahan, penonton diajak berpikir.

Tidak Mau Ketinggalan Zaman

Robet memahami bahwa ludruk tidak bisa terus-menerus menunggu penonton datang. Ludruk harus mendatangi penonton. Ia juga tidak bisa hanya mengandalkan cara lama. Dunia sudah berubah. Anak-anak muda mengenal cerita melalui gawai, video pendek, dan berbagai platform digital.

Karena itu, ludruk perlu ikut bergerak.

“Kami hanya berupaya mengenalkan kembali ludruk kepada generasi Z yang sudah tertinggal pengetahuannya tentang seni budaya, khususnya ludruk,” ujar Robet.

Malam di Bhaskara Mulyosari akhirnya selesai. Gamelan berhenti. Lampu panggung meredup. Para pemain kembali membereskan perlengkapan. Namun cerita tentang Hasan, tuyul, pesugihan, dan jalan pintas belum benar-benar selesai. Ia pulang bersama penonton.

Ludruk tidak mati. Ia hanya perlu menemukan cara baru untuk bertemu dengan penontonnya. Di titik terakhir Ludruk Merdeka Volume 5, Luntas menunjukkan satu hal: tawa dan nasihat masih bisa duduk berdampingan di panggung yang sama.

Seperti sepenggal puisi berjudul bersiap menonton ludruk, karya Dadang Ari Murtono :

"bersiap menonton ludruk adalah bersiap bersedih sebab malam mempunyai bujukannya sendiri dalam kantuk, nyamuk, hantu perokok tanpa kepala, dan ancaman pencopet yang keras kepala dan hanya dia yang memiliki hati teguh akan bersungguh tetap duduk berkenun saung di depan panggung”

Bahkan mungkin, itulah cara ludruk tetap muda. (Pat)

 

Berita Terbaru

216 Tahun Gereja Kepanjen Surabaya, Pamerkan Benda Liturgi untuk Publik

216 Tahun Gereja Kepanjen Surabaya, Pamerkan Benda Liturgi untuk Publik

Sabtu, 12 Sep 2026 07:00 WIB

Sabtu, 12 Sep 2026 07:00 WIB

Pameran terbuka pertama Galeri Kelsapa menghadirkan batu bata 1899 hingga monstrans, mengajak umat dan publik mengenang perjalanan gereja tertua di Surabaya.…

Posyandu dan MBG: Ketika Kacang Hijau Mengajari Negara Mengurus Gizi

Posyandu dan MBG: Ketika Kacang Hijau Mengajari Negara Mengurus Gizi

Rabu, 09 Sep 2026 14:19 WIB

Rabu, 09 Sep 2026 14:19 WIB

TUJUHPAGI - Mari kita sepakati satu hal: kenangan masa kecil kita soal gizi dari negara tidak pernah jauh-jauh dari mangkuk plastik berisi bubur kacang hijau …

Wajah Baru Warung Kopi Masa Kini di Surabaya

Wajah Baru Warung Kopi Masa Kini di Surabaya

Senin, 07 Sep 2026 07:00 WIB

Senin, 07 Sep 2026 07:00 WIB

TUJUHPAGI - “Ngobrol di warung kopi, nyentil sana dan sini. Sekadar suara rakyat kecil, bukannya mau usil. Sambil minum kopi, ngobrol sana-sini. Sambil n…

Tari dan Dansa, Jejak Budaya Nusantara dan Eropa

Tari dan Dansa, Jejak Budaya Nusantara dan Eropa

Kamis, 03 Sep 2026 15:34 WIB

Kamis, 03 Sep 2026 15:34 WIB

TUJUHPAGI - Kita sering mencampuradukkan tari  dan dance. Tari modern disebut dance. Sanggar tari disebut dance studio. Tidak ada yang merasa sedang melakukan …

Dari Kalender Lokal ke Masehi: Sejarah Penyeragaman Waktu di Indonesia

Dari Kalender Lokal ke Masehi: Sejarah Penyeragaman Waktu di Indonesia

Senin, 31 Agu 2026 23:11 WIB

Senin, 31 Agu 2026 23:11 WIB

TUJUHPAGI -  Sebelum kalender Masehi digunakan secara luas, masyarakat Nusantara telah mengenal beragam sistem penanggalan, seperti kalender Saka, Jawa, Sunda, …

Parfum Bukan Sekadar Wangi: Seni dan Sains Menemukan Signature Scent yang Tepat

Parfum Bukan Sekadar Wangi: Seni dan Sains Menemukan Signature Scent yang Tepat

Senin, 31 Agu 2026 10:40 WIB

Senin, 31 Agu 2026 10:40 WIB

TUJUHPAGI -  Bagi banyak orang, menyemprotkan parfum adalah rutinitas pagi yang dilakukan secara berulang. Beberapa semprotan ke udara, atau semprotan cepat di …