Wajah Baru Warung Kopi Masa Kini di Surabaya

author Kurniawan

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Suasana salah satu warung kopi di Surabaya. (Sumber Foto: Atap)
Suasana salah satu warung kopi di Surabaya. (Sumber Foto: Atap)

i

TUJUHPAGI - Ngobrol di warung kopi, nyentil sana dan sini. Sekadar suara rakyat kecil, bukannya mau usil. Sambil minum kopi, ngobrol sana-sini. Sambil ngaduk-aduk kopi, jangan bawa ke hati.”

Lirik lagu Dono Kasino Indro itu seperti merekam wajah warung kopi pada satu masa. Warkop adalah tempat orang duduk santai, menyeruput kopi, lalu membicarakan apa saja. Dari harga kebutuhan pokok sampai politik. Dari urusan kantor sampai kisah tetangga.

Obrolannya bisa serius. Bisa juga sekenanya. Kadang menyentil. Kadang menyindir. Tetapi semuanya selesai di meja kopi. Tidak perlu dibawa pulang. Apalagi dibawa ke hati.

Kini, suasana warung kopi mulai berubah. Orang tetap datang untuk minum kopi, tetapi tidak selalu untuk mengobrol. Sebagian datang membawa ponsel, memasang earphone, lalu masuk ke arena permainan digital.

Mereka menyebutnya mabar—main bareng.

Di satu meja, beberapa anak muda duduk berdekatan. Namun mata mereka tertuju pada layar masing-masing. Jari-jari bergerak cepat. Sesekali terdengar suara pendek.

“Serang!”

“Tunggu!”

Percakapan di antara mereka memang tetap ada. Hanya saja, bahasanya bukan lagi soal kabar kampung atau politik kantor. Bahasa itu menjadi bahasa permainan: strategi, skor, lawan, dan kemenangan.

Adji, salah satu pelanggan yang biasa nongkrong di warung kopi, melihat perubahan itu sebagai sesuatu yang wajar.

“Dulu ke warkop memang lebih banyak ngobrol. Sekarang orang datang bisa untuk mabar, kerja, atau sekadar buka media sosial. Tapi intinya tetap sama mas, ingin berkumpul atau ketemu teman,” kata Adji.

Menurut Adji, mabar juga tidak selalu membuat orang benar-benar diam. Di sela permainan, obrolan tetap muncul. Bahkan, dari permainan itu sering lahir pertemanan baru.

Adji mengaku tidak ikutan mabar. Di usianya yang tidak lagi muda, warung kopi baginya masih 

 yang sama. Tempat bertemu teman dengan percakapan percakapan ringan setiap hari. 

Warkop yang Berubah, Kebiasaan yang Bergeser

Dulu, warung kopi menjadi ruang untuk bertukar cerita. Orang datang dengan persoalan masing-masing, lalu membaginya di meja yang sama.

Tidak ada layar yang memisahkan. Tidak ada koneksi internet yang harus dicari. Yang ada hanya kopi, rokok, kursi panjang, dan percakapan yang mengalir tanpa agenda.

Sekarang, warkop menjadi ruang yang lebih beragam. Ada yang datang untuk ngobrol. Ada yang bekerja dengan laptop. Ada yang rapat melalui panggilan video. Ada pula yang sengaja mencari tempat untuk mabar.

Warkop tidak lagi hanya menjual kopi. Ia menjual waktu dan suasana.

Karena itu, colokan listrik dan jaringan Wi-Fi mulai menjadi fasilitas yang sama pentingnya dengan gula dan sendok. Pelanggan bisa duduk berjam-jam dengan secangkir kopi di samping ponsel.

Pemilik warkop tentu menghitung perubahan ini. Pelanggan yang tinggal lama berarti ruang yang terpakai lebih panjang. Namun, mereka juga berpotensi memesan lebih banyak makanan dan minuman.

Di sinilah warkop beradaptasi. Ia harus menerima bahwa pelanggan datang dengan kebiasaan yang berbeda-beda.

Dari Obrolan ke Layar

Pergeseran dari ngobrol ke mabar bukan berarti budaya berkumpul telah hilang. Yang berubah adalah cara orang berinteraksi.

Generasi sebelumnya membangun kedekatan melalui percakapan langsung. Generasi sekarang bisa memulainya melalui permainan digital.

Dulu, seseorang mungkin dikenal karena sering duduk di meja yang sama. Kini, seseorang bisa dikenal lebih dulu melalui nama pengguna di dalam gim.

Namun, ada yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh layar: ekspresi wajah, tawa spontan, dan keheningan ketika seseorang sedang mendengarkan cerita orang lain.

Karena itu, warkop tetap memiliki pekerjaan rumah. Ia perlu menjadi tempat yang nyaman bagi pelanggan yang datang untuk mabar, tetapi tidak kehilangan fungsi sebagai ruang percakapan.

Adji berharap warkop tidak sepenuhnya berubah menjadi ruang digital.

“Kalau bisa, tetap ada tempat untuk ngobrol langsung. Mabar boleh, main HP boleh, tapi sesekali ya ngobrol juga. Bagaimanapun, kita datang ke warkop bukan cuma untuk kopinya,” katanya.

Warung kopi memang terus berubah. Dulu orang membawa koran. Kemudian membawa ponsel. Sekarang membawa gim dan koneksi internet.

Tetapi alasan orang datang sebenarnya masih sama: ingin bertemu, ingin ditemani, dan ingin merasa tidak sendirian.

Dono, Kasino, Indro menyanyikan lirik tentang warung kopi sebagai tempat untuk ngobrol dan menyampaikan suara rakyat kecil. Hari ini, suara itu mungkin bercampur dengan bunyi notifikasi dan seruan dari permainan.

Kopinya tetap diaduk. Obrolannya berganti bentuk. Dan seperti pesan dalam lagu itu, apa pun yang dibicarakan di warkop, jangan dibawa ke hati. (Kur)

Berita Terbaru

Tari dan Dansa, Jejak Budaya Nusantara dan Eropa

Tari dan Dansa, Jejak Budaya Nusantara dan Eropa

Kamis, 03 Sep 2026 15:34 WIB

Kamis, 03 Sep 2026 15:34 WIB

TUJUHPAGI - Kita sering mencampuradukkan tari  dan dance. Tari modern disebut dance. Sanggar tari disebut dance studio. Tidak ada yang merasa sedang melakukan …

Dari Kalender Lokal ke Masehi: Sejarah Penyeragaman Waktu di Indonesia

Dari Kalender Lokal ke Masehi: Sejarah Penyeragaman Waktu di Indonesia

Senin, 31 Agu 2026 23:11 WIB

Senin, 31 Agu 2026 23:11 WIB

TUJUHPAGI -  Sebelum kalender Masehi digunakan secara luas, masyarakat Nusantara telah mengenal beragam sistem penanggalan, seperti kalender Saka, Jawa, Sunda, …

Parfum Bukan Sekadar Wangi: Seni dan Sains Menemukan Signature Scent yang Tepat

Parfum Bukan Sekadar Wangi: Seni dan Sains Menemukan Signature Scent yang Tepat

Senin, 31 Agu 2026 10:40 WIB

Senin, 31 Agu 2026 10:40 WIB

TUJUHPAGI -  Bagi banyak orang, menyemprotkan parfum adalah rutinitas pagi yang dilakukan secara berulang. Beberapa semprotan ke udara, atau semprotan cepat di …

Isu KUR Jember, Ibrahim: Jangan Langsung Salahkan Bank BUMN Penyalur

Isu KUR Jember, Ibrahim: Jangan Langsung Salahkan Bank BUMN Penyalur

Selasa, 14 Jul 2026 13:24 WIB

Selasa, 14 Jul 2026 13:24 WIB

TUJUHPAGI - KUR itu niat baik. Ia lahir untuk rakyat kecil. Misalnya untuk petani, nelayan atau pedagang kecil yang butuh napas tambahan. Agar tidak jatuh ke…

Kali Tebu Terseret Sampah Plastik, Ikan Menghilang dan Tinggal Cerita bagi Generasi Mendatang

Kali Tebu Terseret Sampah Plastik, Ikan Menghilang dan Tinggal Cerita bagi Generasi Mendatang

Rabu, 24 Jun 2026 22:44 WIB

Rabu, 24 Jun 2026 22:44 WIB

TUJUH PAGI - Mereka hanya bertiga ketika menyerukan aksi di atas Jembatan Kali Dinding, Surabaya Rabu (24/6). Diantara deru kendaraan yang tak habis, bersama…

Tuntut Stabilkan Harga, Warga Surabaya Padati Taman Apsari

Tuntut Stabilkan Harga, Warga Surabaya Padati Taman Apsari

Selasa, 16 Jun 2026 07:00 WIB

Selasa, 16 Jun 2026 07:00 WIB

Tujuhpagi - Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan JuniDirahasiakannya rintik rindunyaKepada pohon berbunga itu. Penggalan puisi Sapardi djoko damono…