TUJUHPAGI - Bagi banyak wisatawan, kunjungan ke Kayutangan terasa belum lengkap tanpa berfoto dengan latar bangunan dan lampu jalan bergaya klasik, lalu singgah di kafe atau bistro di sepanjang koridor utamanya. Dari tepi jalan, kawasan ini menawarkan citra yang mudah dikenali: deretan bangunan lama yang mengingatkan pada kota Eropa, hadir di tengah Kota Malang.
Namun, Kayutangan tak hanya bisa dibaca dari fasadnya. Seperti kawasan bersejarah lainnya, ia menyimpan lapisan cerita yang tidak selalu tampak dari jalan utama. Menikmatinya hanya dari trotoar ibarat membaca buku sejarah dari sampulnya.
Dalam Malang Tempo Doeloe, Dukut Imam Widodo merekam berbagai kisah tentang kota ini. Kajian Handinoto mengenai arsitektur dan tata kota kolonial di Jawa juga dapat membantu membaca perubahan ruang di Malang. Untuk memahami Kayutangan secara lebih utuh, kisah-kisah tersebut perlu dilihat bersama kondisi kampung dan kehidupan warga yang berada di balik koridor utamanya.
Pada masa kolonial, tata ruang kota dibentuk oleh kepentingan dan hierarki sosial. Wijkenstelsel—kebijakan pengelompokan permukiman berdasarkan golongan penduduk—menjadi salah satu bagian dari sistem pengaturan tersebut. Namun, hubungan langsung antara kebijakan itu dan susunan ruang di Kayutangan perlu dibaca dengan merujuk pada sumber sejarah yang spesifik.
Di sepanjang jalan utama, bangunan-bangunan lama menjadi penanda penting wajah Kayutangan. Arsitektur kolonial, termasuk pengaruh gaya modern yang berkembang pada masa itu, membentuk tampilan koridor yang kini kerap menjadi daya tarik wisata. Sementara itu, di balik deretan bangunan tersebut, gang dan kampung menyimpan ruang hidup dengan suasana serta ritme yang berbeda.
Kontras antara jalan utama dan gang-gang di dalam kawasan itu mengingatkan pada pertanyaan yang masih relevan: siapa yang paling menikmati ramainya sebuah kawasan wisata, dan sejauh mana warga setempat ikut memperoleh manfaatnya?
Di koridor utama, pengunjung bisa menemukan kafe, restoran, dan berbagai usaha yang menyasar wisatawan. Masuk lebih jauh ke kawasan kampung, suasananya berubah. Teras rumah dapat menjadi tempat warga menerima tamu atau menjalankan usaha kecil. Di sejumlah sudut, bangku sederhana, kopi tubruk, jajanan tradisional, dan percakapan warga menghadirkan pengalaman yang berbeda dari kafe-kafe di jalan besar.
Perbedaan itu tidak serta-merta menunjukkan bahwa satu ruang lebih autentik daripada yang lain. Namun, ia memperlihatkan beragam cara orang menggunakan dan menghidupi Kayutangan: sebagai kawasan heritage dan tujuan wisata, sekaligus sebagai kampung tempat warga tinggal, bekerja, dan membangun usaha.
Cerita tentang Mbah Honggo atau Pangeran Honggo Koesoemo juga kerap dikaitkan dengan sejarah komunitas Muslim di bagian dalam kawasan tersebut. Kisah ini menarik untuk ditelusuri lebih jauh, tetapi perlu ditempatkan berdasarkan sumber sejarah yang dapat diperiksa—terutama ketika menghubungkannya dengan asal-usul permukiman, tokoh-tokoh pengikut Diponegoro, atau perkembangan Kayutangan pada masa berikutnya.
Karena itu, menyusuri Kayutangan sebaiknya tidak berhenti di jalan utama. Berjalan ke gang-gang kampung dapat membuka kesempatan untuk melihat sisi kawasan yang tidak tertangkap dalam foto fasad: rumah warga, usaha kecil, tempat-tempat bersejarah, dan kehidupan sehari-hari yang terus berlangsung di tengah perubahan kawasan.
Kayutangan bukan hanya panggung arsitektur masa lalu atau deretan tempat untuk menikmati kopi. Ia juga ruang hidup yang terus berubah, dengan kepentingan wisata, usaha, pelestarian, dan kehidupan warga yang saling berdekatan. Memahaminya berarti melihat bukan hanya bangunan yang tampak, tetapi juga orang-orang dan cerita yang membuat kawasan itu tetap hidup.
Editor : Redaksi