Bank Indonesia menghadirkan Women of Light sebagai ruang kolaborasi budaya

Museum De Javasche Bank Surabaya Menyala oleh Kartini, Aksara Jawa, dan UMKM

Reporter : M.Iffan Maulana
Seorang pengunjung menyimak instalasi tentang pahlawan perempuan dalam rangkaian Women of Light di Museum De Javasche Bank Surabaya. (Foto: M. Iffan)

TUJUHPAGI -  Siang itu Museum De Javasche Bank Surabaya tidak seperti museum. Ia lebih mirip pasar gagasan. Ramai. Penuh. Hidup. Orang datang dari banyak arah. Pelajar. Pekerja. Warga. Turis asing. Semua bertemu di satu tempat yang dulu menjadi saksi lahirnya sejarah uang di kota ini. Minggu, 26 April 2026. Di sana Bank Indonesia menggelar Women of Light: Tracing Courage Across Time

Acara ini digelar untuk menyambut dua peringatan penting bulan April: Hari Kartini dan Hari Warisan Budaya Dunia. Dua momen yang sebenarnya saling berkelindan. Kartini bicara tentang keberanian perempuan. Warisan budaya bicara tentang keberanian merawat identitas. Keduanya sama-sama soal masa depan.

Baca juga: Mengapa Perempuan Surabaya Terus Turun ke Jalan?

Museum De Javasche Bank Surabaya ramai dikunjungi masyarakat dalam rangkaian Women of Light: Tracing Courage Across Time, Minggu (26/4/2026). Acara yang digelar Bank Indonesia ini mempertemukan sejarah, budaya, dan pemberdayaan ekonomi dalam satu ruang. (Foto: M. Iffan)

Hari pertama, Alisa Wahid bicara. Tentang perempuan. Tentang peran yang tak pernah selesai. Tentang Kartini yang ternyata masih sangat hidup dalam persoalan hari ini. Perempuan bukan hanya simbol. Ia adalah tenaga sosial. Ia adalah penggerak.

Memasuki hari berikutnya, pembahasan bergeser ke pelestarian budaya lokal. Bersama komunitas Puri Aksara Rajapatni, pengunjung diajak melihat kembali potensi aksara Jawa sebagai warisan penting yang memiliki nilai historis dan kebudayaan tinggi. Upaya mengenalkan aksara Jawa kepada generasi muda menjadi salah satu fokus utama agar warisan tersebut tidak hanya berhenti sebagai materi pembelajaran, melainkan tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari.

UMKM, Budaya, dan Edukasi dalam Satu Ruang

Kegiatan ini tidak hanya menampilkan unsur budaya dan sejarah, tetapi juga membuka ruang pembekalan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Bank Indonesia menempatkan UMKM sebagai bagian penting dari ekosistem pemberdayaan yang terhubung dengan budaya, pendidikan, dan pariwisata.

Di sudut-sudut museum, para pelaku UMKM mendapat pembekalan. Jadi budaya tidak berdiri sendiri. Ia disambungkan dengan ekonomi. Dengan pendidikan. Dengan pariwisata. Dengan kerja nyata.

Sebanyak tujuh museum ikut terlibat. Ada Museum Bank Indonesia Jakarta, Museum Nasional Indonesia, Museum Raden Ajeng Kartini di Rembang, Museum Kebangkitan Nasional, Museum 10 November, Museum Dr. Soetomo, dan Museum Pergerakan Wanita. Jumlah itu memang belum semua. Tapi sudah lebih banyak dari tahun lalu. Dan lebih penting lagi: ada kemauan untuk terus membuka pintu.

Pengunjung menikmati pameran budaya dan pemberdayaan UMKM dalam Women of Light. (Foto: M. Iffan)

 

Ruang Inklusif untuk Generasi Muda

Selain diskusi dan pelatihan, acara ini juga menghadirkan sejumlah lomba yang melibatkan generasi muda. Lomba baca puisi menjadi ruang ekspresi bagi peserta, sementara lomba fotografi memberi kesempatan untuk menangkap keindahan kawasan kota lama dan bangunan bersejarah di sekitar lokasi acara.

Seluruh rangkaian dibuat inklusif agar dapat diikuti oleh berbagai kalangan. 

Ada lomba baca puisi. Ada lomba fotografi. Mereka tidak sekadar hadir sebagai penonton. Mereka diajak ikut menafsirkan sejarah dengan caranya sendiri.

Baca juga: Mavo Khan Restaurant, Wajah Diplomasi Kuliner Pakistan di Surabaya

Kepala Bank Indonesia Jawa Timur, Ibrahim bilang sederhana tapi tegas. Tahun ini lebih banyak museum terlibat dibanding tahun sebelumnya. Dan Bank Indonesia terbuka untuk masukan. Kalau ada museum lain yang cocok, silakan. Asal tetap pas dengan tema.

Perwakilan Bank Indonesia menyampaikan sambutan dalam acara Women of Light: Tracing Courage Across Time di Museum De Javasche Bank Surabaya. Kegiatan ini mengangkat semangat Kartini, pelestarian budaya lokal, serta pemberdayaan UMKM. (Foto: M. Iffan)

“Tahun ini jumlahnya meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Ke depan, kami terbuka terhadap masukan dari rekan-rekan media terkait museum lain yang dapat dilibatkan, dengan tetap menyesuaikan tema yang diangkat.”

Ibrahim menegaskan, kegiatan ini dirancang sebagai ruang kolaborasi lintas sektor.

“Kegiatan ini tidak hanya berbicara tentang budaya, tetapi juga pemberdayaan ekonomi. Edukasi harus dilakukan secara lintas sektor, mulai dari peran perempuan, budaya, hingga pariwisata, agar mampu mendorong perekonomian masyarakat secara lebih luas,” ujar Ibrahim.

Ia juga menggarisbawahi satu hal yang sering kita lupakan: budaya tidak cukup dijaga dalam katalog. Ia harus masuk ke ruang-ruang hidup. Harus bertemu ekonomi. Harus bersentuhan dengan pariwisata. Harus punya daya gerak.

Baca juga: Benowo Mengeluh, Udara Tak Lagi Utuh

Maka Women of Light terasa seperti lampu kecil di tengah arus besar modernisasi. Tidak menyilaukan. Tapi cukup untuk mengingatkan kita bahwa masa depan tidak selalu datang dari hal baru. Kadang ia justru lahir dari keberanian menjaga yang lama agar tetap bernyawa. (Fan)

 

 

 

Editor : Ardhia Tap

Liputan
Berita Populer
Berita Terbaru