Catatan Malam Ramadan Dari Pengeras Suara hingga Sunyi Doa

Reporter : M.Iffan Maulana
Kantuk ditahan, waktu dilipat, dan malam menjadi ruang bagi harapan yang tak selesai diucapkan. (Foto: M. Iffan)

Tujuhpagi - Adakah malam yang lebih dirindukan, selain malam-malam di bulan Ramadhan? Malam qiyamul lail. Dzikir. Salat. Dan ibadah yang menjelma sunyi.

Malam itu, orang-orang datang dari berbagai arah, seolah dipanggil oleh sesuatu yang tak terlihat. Masjid Al-Akbar menjadi tempat berlabuh bagi langkah-langkah yang letih, hati yang penuh harap, dan doa-doa yang belum sempat diucapkan. Mereka datang membawa bekal, bersama keluarga, teman, atau sendirian—meski pada akhirnya, semua berdiri dalam kesendirian masing-masing di hadapan Tuhannya.

Di dalamnya, waktu terasa melambat. Suara dunia meredup, digantikan lantunan ayat-ayat suci yang mengalir pelan, seperti napas yang dijaga agar tidak pecah. Tubuh-tubuh bergerak dalam salat, berulang, teratur, seakan menemukan ritme yang lebih purba dari sekadar kebiasaan.

Ayat-ayat mengalir pelan, seperti napas yang dijaga agar tidak pecah di antara doa-doa yang diam-diam tumbuh. (foto: M. Iffan)

Lampu-lampu dipadamkan ketika takbir dikumandangkan. Gelap tidak lagi menjadi kekosongan, melainkan ruang untuk pulang. Dalam redup itu, manusia meninggalkan hiruk-pikuknya, dan mencoba menjadi kecil—sedekat mungkin dengan Yang Maha Besar.

Di penghujung malam, doa-doa terangkat dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang lirih, ada yang tersendat, ada yang pecah menjadi tangis. Dari barisan perempuan di belakang, isak itu terdengar jujur—tanpa hiasan, tanpa jarak. Mereka meminta kesehatan, rezeki, dan waktu: agar dapat kembali dipertemukan dengan Ramadhan yang lain.

(Foto: M.Iffan)

Sebagian tetap terjaga, menautkan ayat demi ayat, atau tenggelam dalam dzikir yang tak terhitung. Sebagian lain menyerah sejenak pada lelah, bersandar, memejamkan mata, sebelum kembali bangkit menyambut sahur dengan sederhana.

Di antara mereka, ada seorang pemuda berusia delapan belas tahun. Rayyan. Ia datang dari Sidoarjo dengan sesuatu yang jarang dimiliki banyak orang: kesadaran untuk merencanakan malamnya sendiri.

Ayat-ayat mengalir pelan, seperti napas yang dijaga agar tidak pecah di antara doa-doa yang diam-diam tumbuh. (Foto: M. Iffan)

“Terkadang sendiri, terkadang bersama teman,” katanya.

Ia membagi waktu dengan rapi—Al-Qur’an, dzikir, salat—seolah setiap detik adalah sesuatu yang terlalu berharga untuk dibiarkan hilang. Namun di balik keteraturan itu, ada doa-doa yang sangat manusiawi: rezeki yang lapang, perjalanan suci bersama keluarga, dan harapan sederhana untuk menembus masa depan.

Malam menampung langkah-langkah yang tak ingin pulang—mereka datang membawa harap, pulang membawa sunyi yang lebih penuh. (Foto: M. Iffan)

Malam-malam ganjil itu menjadi ruang antara—tempat manusia berdiri di antara yang fana dan yang abadi. Mereka menahan kantuk, membasahi bibir dengan ayat-ayat, menggerakkan tubuh yang lemah—bukan karena mereka kuat, tetapi karena mereka percaya.

Dan mungkin, justru di situlah letak maknanya: pada usaha yang dilakukan dalam diam. Pada keyakinan bahwa ketika sebagian dunia terlelap, ada yang tetap terjaga—mengetuk pintu yang tak terlihat, berharap suatu saat akan dibukakan.

Di barisan yang rapat, setiap orang sendiri—namun tidak pernah benar-benar sendirian. (foto: M. Iffan)

Pagi pun datang. Cahaya perlahan kembali. Dan mereka pulang, membawa sesuatu yang tidak bisa dijelaskan—bukan jawaban, bukan pula kepastian, melainkan rasa: bahwa mereka telah sedikit lebih dekat. (MI)

 

 

Editor : Ardhia Tap

Liputan
Berita Populer
Berita Terbaru