Air Bersih, Tenda, dan Harapan bagi Warga Manggarai

Reporter : Ardhia Tap

TUJUHPAGI  — Gempa bukan hanya mengguncang rumah. Di Wae Bangka, ia juga merusak pipa dan mengotori sumber air dengan lumpur. Ketika air bersih ikut menghilang, kebutuhan yang biasanya terasa biasa mendadak menjadi perkara utama.

SPS Corporate menyalurkan pompa air dan sistem penyaringan untuk membantu memulihkan pasokan air bersih di desa itu. Bantuan tersebut menjadi bagian dari rangkaian aksi kemanusiaan selama hampir tujuh hari di sejumlah wilayah Manggarai.

“Desa Wae Bangka ini merupakan hulu dan pusat mata air yang mengaliri beberapa desa di sekitarnya. Saat gempa, jaringan pipa pecah dan sumber air tercemar lumpur. Kami sempat kebingungan memenuhi kebutuhan air bersih,” ujar Kepala Desa Wae Bangka, Tarsy Sejati.

Menurut Tarsy, pompa dan sistem penyaringan membantu mengalirkan kembali air bersih kepada warga. Bagi masyarakat yang kehilangan akses air, bantuan itu bukan sekadar perangkat teknis. Ia adalah jalan agar urusan sehari-hari bisa kembali berjalan.

Tim CSR SPS Corporate menyalurkan bantuan ke Elar, Lamba Leda, Wae Bangka, Lembor, Lengko Ajang, Ulu Wae, Ruteng, Rende Nao, Colol, Lelak, Wejang Mali, Wanggar Weli, dan Ngkiong Doro.

Bantuan yang disalurkan meliputi air bersih, bahan pangan, selimut, karpet alas tidur, perlengkapan sanitasi, serta tenda darurat. Tenda disediakan bagi warga yang rumahnya rusak dan dinilai belum aman untuk ditempati, terutama menjelang musim hujan.

Bagi Maria, 43 tahun, malam belum tentu membawa istirahat. Rumahnya mengalami kerusakan berat, sementara dinding yang miring membuat keluarganya cemas untuk tidur di dalam.

“Setiap malam kami cemas tidur di dalam rumah. Bantuan tenda, karpet, dan selimut ini sangat berarti bagi keluarga kami, terutama anak-anak,” ujar Maria.

Perwakilan SPS Corporate, Fernando Anggrek, mengatakan bantuan difokuskan pada kebutuhan dasar warga terdampak.

“Pemulihan pascabencana membutuhkan proses. Fokus utama kami adalah memastikan kebutuhan mendasar seperti air bersih, bahan pangan, serta tempat tinggal yang aman segera terpenuhi,” kata Fernando.

Gempa mungkin sudah berlalu, tetapi pemulihan tidak selesai dalam satu malam. Bagi warga Manggarai, air bersih, makanan, dan tempat berlindung adalah bekal untuk mulai menata kembali kehidupan—satu kebutuhan, satu hari, satu langkah pada satu waktu.

Editor : Redaksi

Liputan
Berita Populer
Berita Terbaru