Hari Buruh dalam Kenangan yang Lain

Reporter : Ardhia Tap
Sebuah ingatan yang tertinggal cara bernapas tanpa Bapak. (Ilustrasi AI)

TUJUPAGI - Hari Buruh bukan sekadar tanggal merah. Ia tidak datang sebagai jeda, melainkan sebagai gema yang berulang di tubuhku. Setiap 1 Mei, dunia mungkin berhenti sejenak untuk beristirahat, tetapi aku justru kembali berjalan ke satu titik yang tak pernah benar-benar kutinggalkan.

Di sana, waktu tidak lurus. Ia berputar, seperti napas yang tercekat dan tak selesai dilepaskan. Pada 1 Mei 2003, laki-laki yang kesebut bapak meninggal dunia. Sejak itu, tanggal ini bukan lagi milik kalender bersama. Ia menjadi ruang sunyi yang hanya aku huni—tempat di mana ingatan berdiri tanpa suara, tetapi terasa begitu keras.

Baca juga: Sejarah Hari Buruh 1 Mei di Indonesia dan Perjuangannya

Ada hal-hal kecil yang tak ikut mati. Cara ia mengajariku menguasai napas, misalnya. Aku anak yang mudah terengah sejak SD, seperti paru-paruku terlalu sempit untuk dunia. Ia tidak memarahiku. Ia hanya berkata, pelan, bahwa napas bisa dilatih. Senam napas, katanya—seolah hidup adalah sesuatu yang bisa diatur ritmenya, tidak perlu tergesa, tidak perlu panik. Sampai sekarang, setiap kali dadaku sesak, aku seperti mendengar suaranya: tarik napas pelan, tahan 3 detik, lepaskan. Sederhana, tapi tak pernah benar-benar mudah.

Atau kaki yang mendadak kram di tengah malam, saat tidur paling lelap. Rasa sakit itu datang seperti ingatan yang tak diundang. Dulu, aku akan memanggilnya—bahkan pada pukul nol, ketika dunia lain sudah terlelap. Dan ia selalu datang. Tidak pernah menunda, tidak pernah mengeluh. Tangannya tahu cara meredakan nyeri, seperti ia mengerti bahasa tubuhku sebelum aku sempat menjelaskannya.

Baca juga: Hari Buruh Surabaya, Suara yang Tak Pernah Selesai Diperjuangkan

Kini, ketika kram itu datang lagi, aku terbangun dalam sunyi yang berbeda. Tidak ada langkah yang mendekat. Tidak ada tangan yang menenangkan. Hanya sisa ilmu mengatasi kaki yang kram, yang seolah aku ahli dan bisa kupamerkan pada anakku. haha.

Orang-orang merayakan atau sekadar melewati hari itu. Aku tidak. Aku mendengarkan kembali jejak yang ditinggalkan: langkah yang tak pulang, suara yang tak lagi memanggil, dan kehadiran yang berubah menjadi bayang paling setia.

Hari Buruh, bagiku, adalah hari kehilangan yang lebih besar dari tentang bekerja tanpa lelah. (*)

Editor : Ardhia Tap

Liputan
Berita Populer
Berita Terbaru