216 Tahun Gereja Kepanjen Surabaya, Pamerkan Benda Liturgi untuk Publik

Reporter : Patrick L
Pameran terbuka pertama Galeri Kelsapa menghadirkan batu bata 1899 hingga monstrans, mengajak umat dan publik mengenang perjalanan gereja tertua di Surabaya. (Sumber Foto : Patrick L)

TUJUHPAGI  — Sore di kawasan Kepanjen tidak hanya menyisakan jejak sejarah pada dinding bangunan tua. Di salah satu sudut ruang, deretan benda liturgi tertata rapi di balik lembaran kaca.

Ada batu bata sisa pembangunan gereja tahun 1899–1900, guci liturgi, kasula, wadah minyak suci, monstrans, kempo, lenthera, perlengkapan meja altar, hingga tempat lilin altar.

Baca juga: Mengenal Paulus Jauhari Atmoko, Penggerak Transformasi Gereja Merawat Bumi

Semuanya bukan sekadar artefak. Benda-benda itu pernah hidup dalam doa, misa, dan perjalanan iman sebuah komunitas yang kini berusia 216 tahun.

Pameran terbuka pertama Galeri Kelsapa menghadirkan batu bata 1899 hingga monstrans, mengajak umat dan publik mengenang perjalanan gereja tertua di Surabaya. (Sumber Foto: Patrick L)

Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria Surabaya—yang dikenal sebagai Kelsapa atau Gereja Kepanjen—tengah merayakan ulang tahunnya.

Misa syukur telah digelar pada 8 September 2026, bertepatan dengan hari kelahiran Santa Perawan Maria. Perayaan itu menjadi momen syukur atas perjalanan panjang gereja yang disebut-sebut sebagai gereja paling tertua di Surabaya.

“Kita bersyukur bahwa gereja ini sudah berjalan, dari yang belum ada menjadi berproses menjadi ada, sehingga bisa berjalan dan bertahan usianya 216 tahun,” ujar Emanuel Kristjanto, Sekretaris Dewan Pastoral Paroki dan Badan Gereja Katolik Paroki Kelsapa.

Bukan hanya sejarah, pameran ini juga tentang rahmat yang diwariskan dari generasi ke generasi. (Sumber Foto: Patrick L)

Emanuel menuturkan, perjalanan gereja ini tidak lepas dari peran para pendahulu: para imam dan misionaris yang datang pada 1800-an dan 1900-an.

Dari tangan mereka, umat awal dibaptis dan komunitas iman tumbuh. Awalnya bukan dari pribumi, melainkan dari keluarga para imam dan utusan yang tinggal di Surabaya pada masa kolonial Belanda. Dari situ, jemaat berkembang hingga seperti sekarang.

Perayaan 216 tahun tidak berhenti pada misa syukur. Pada Sabtu, 12 September 2026, pukul 18.00, Gereja Kelsapa akan menggelar perayaan bersama umat dan perwakilan Kevikepan Surabaya Utara. Acara itu akan diisi talenta anak muda, tarian, hiburan, dan makan bersama.

Setiap koleksi punya cerita, ada yang selamat dari kebakaran, tapi tetap kembali menjadi bagian dari misa. (Sumber Foto: Patrick L)

Namun, salah satu yang paling menyita perhatian adalah pameran museum atau Galeri Kelsapa. Untuk pertama kalinya, benda-benda liturgi dan sarana prasarana yang dulu dipakai para misionaris dipamerkan secara terbuka.

Sebelumnya, koleksi itu tersimpan di museum dalam Balai Paroki. Kini, benda-benda tersebut “dikeluarkan” dari ruang terbatas agar bisa dilihat lebih banyak orang.

“Ini baru pertama kali dalam bentuk pameran terbuka seperti ini,” kata Emanuel.

Pameran bertema Gratia—yang berarti rahmat—berlangsung 8 hingga 20 September 2026. Emanuel menjelaskan, tujuan pameran bukan hanya untuk umat Katolik atau Kristen, tetapi terbuka untuk umum.

Baca juga: Napas Panjang Kisah Gereja Tertua di Surabaya

Publik diajak mengenal benda liturgi yang biasa dipakai dalam ibadat dan misa, sekaligus menghargai perjuangan para pendahulu.

“Karena kita harus menghargai, menghormati para pendahulu. Bagaimana mereka berproses, berdinamika, bertemu dengan sesama iman, bertemu dengan lintas agama. Itu sebuah perjuangan,” tuturnya.

Surabaya, Kepanjen : 8 hingga 20 September 2026, tempat benda tua bertemu doa yang baru.

Di ruang pamer, nuansa Jawa sengaja dihadirkan. Ada topi, simbol-simbol budaya, dan alunan musik yang menyertai. Pameran ini tidak dibangun seperti museum yang kaku, melainkan seperti ruang yang hangat: tempat benda-benda tua bercerita, dan tempat orang-orang muda menuliskan harapan.

Salah satu bagian pameran adalah pohon anggur. Cabang-cabangnya menjadi tempat umat menggantungkan untaian doa dan ekspektasi. Isinya bebas: harapan untuk gereja 10–15 tahun ke depan, doa untuk keluarga, kelancaran studi, hingga permohonan bagi orang tua.

“Kebaikan tidak kita miliki sendiri, syukur kita tidak miliki sendiri, tetapi bagaimana itu juga dirasakan dan dimiliki sesama kita yang lain,” ujar Emanuel.

Bagi Fransiska Sindi Num, pengunjung dari SMP Stella Maris Surabaya, pameran ini menyentuh karena memperlihatkan perjalanan panjang yang tidak sederhana.

Ia mengaku terkesan pada benda-benda liturgi yang usianya sudah puluhan tahun, bahkan ada yang pernah selamat dari kebakaran.

Baca juga: Doa Rosario di Surabaya: Mengenang Paus Fransiskus dengan Cinta

“Bagiku ini sangat berkesan karena ada perjalanannya. Ini sudah lama banget. Ada yang habis kebakaran juga masih ada di sini. Ini suatu hal yang harus kita kenang karena punya cerita tersendiri,” kata Fransiska.

Ia menyebut monstrans—benda yang biasa digunakan dalam adorasi, tirakatan, dan Kamis Putih—sebagai salah satu koleksi yang paling membekas. Ia berharap generasi muda tidak melupakan warisan gereja ini.

Gratia 216 tahun gereja Kepanjen Surabaya, benda liturgi yang dulu berdoa, kini bercerita melalui pameran terbuka, (Sumber Foto: Patrick L)

“Semoga kalian bisa memajukan, melestarikan Gereja Katolik ini yang sudah berdiri 216 tahun. Semoga bangga, karena aku juga dari kecil di sini,” ujarnya.

Gereja Kepanjen memang bukan hanya tempat ibadah. Ia telah menjadi cagar budaya dan salah satu ikon wisata Kota Surabaya. Banyak wisatawan lokal dan mancanegara datang mengunjunginya.

Lewat pameran Gratia, gereja tertua di Surabaya itu membuka pintu lebih lebar: bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi juga merawat harapan yang digantungkan di dahan-dahan pohon anggur.

Di usia 216 tahun, Kelsapa masih berdiri. Dan benda-benda liturgi yang dipamerkan itu seolah berkata: iman tidak hanya diwarisi, tetapi juga dirawat dari generasi ke generasi. (Pat)

Editor : Ardhia Tap

Liputan
Berita Populer
Berita Terbaru