TUJUH PAGI - Mereka hanya bertiga ketika menyerukan aksi di atas Jembatan Kali Dinding, Surabaya Rabu (24/6). Diantara deru kendaraan yang tak habis, bersama bising suara jalanan, para aktivis mencoba menembus lalu lintas yang padat. Mereka mengajak warga menoleh ke bawah—ke Kali Tebu yang tampak tenang, namun menyimpan perubahan yang tak sederhana.
Baca juga: Jeratan Plastik: Ancaman Nyata untuk Kesehatan Masyarakat
Dengan tubuh dibalut plastik bekas dan wajah bertopeng ikan. Aksi teatrikal itu menjadi isyarat tentang nasib biota sungai yang kian terdesak. Ikan-ikan yang dulu mudah ditemukan, kini menghilang perlahan, tersisih oleh pencemaran plastik.
Aksi bertajuk “Sampah Plastikmu Racuni Iwak Kali Tebu” digelar oleh Jaringan Gen Z Tolak Plastik Sekali Pakai (JEJAK), Aliansi Komunitas Penyelamat Sungai (AKAMSI), River Warriors, dan Ecoton. Mereka mengingatkan, kerusakan sungai bukan semata soal sampah yang tampak di permukaan, melainkan juga kehidupan yang perlahan lenyap di dalamnya.
Bagi warga yang tumbuh pada 1970-an hingga 1990-an, Kali Tebu pernah menjadi bagian dari keseharian. Sungai itu adalah ruang bermain, tempat menjala ikan, sekaligus sumber pangan.
“Dulu ikan wader, bader, sampai gabus mudah ditemukan. Anak-anak mandi dan menjala ikan di sini. Sekarang airnya keruh, yang terlihat justru sampah,” kata peneliti Ecoton, Alaika Rahmatullah, menirukan cerita warga.
Kini, kenangan itu kian jauh dari generasi sekarang. Nama-nama ikan lokal yang dulu akrab, perlahan menjadi asing.
Dari atas jembatan, anggota AKAMSI Jofanny Ahmad mengingatkan bahwa dampak pencemaran tak berhenti hari ini. Kebiasaan membuang sampah, kata dia, bisa memutus hubungan generasi mendatang dengan sungai.
Kekhawatiran itu berangkat dari fakta di lapangan. Sepanjang Mei hingga Juni 2026, lebih dari 27 ton sampah diangkat dari Kali Tebu. Sekitar 11,5 ton dibersihkan oleh Tim MOZAIK Ecoton, sementara sisanya diangkut melalui operasi gabungan bersama Dinas Lingkungan Hidup Surabaya dan petugas Kecamatan Kenjeran.
Angka itu menunjukkan tekanan yang terus-menerus diterima sungai. Namun persoalan tak berhenti pada sampah yang kasat mata. Ada ancaman lain yang lebih halus: mikroplastik, serpihan kecil yang menyusup ke air dan sedimen.
“Mikroplastik bisa masuk ke tubuh ikan lewat makanan. Dalam jangka panjang, ini mengganggu kesehatan organisme dan merusak ekosistem sungai,” ujar Alaika.
Padahal, Kali Tebu pernah dikenal kaya akan keanekaragaman hayati. Ikan gabus, wader, bader putih dan merah, keting, rengkik, hingga belida jawa pernah menghuni perairan ini. Kedekatannya dengan kawasan tambak dan pesisir juga membuat bandeng, mujair, dan belanak kerap ditemukan.
Kini, banyak sampah datang dari berbagai arah: urbanisasi, limbah rumah tangga, sedimentasi, hingga sampah plastik yang terus mengalir. Kerusakan itu berlangsung perlahan, menumpuk dari waktu ke waktu, hingga menggerus kualitas habitat.
Program Manager MOZAIK, Amiruddin Muttaqqin, menilai penanganan tak bisa berhenti pada pengangkatan sampah di permukaan. Ia menekankan perlunya langkah yang lebih menyeluruh—dari hulu ke hilir.
Menurutnya, sungai bukan sekadar aliran air. Ia adalah habitat, pengendali banjir, penyimpan keanekaragaman hayati, sekaligus bagian dari sejarah sosial warga.
“Kondisi sungai hari ini mencerminkan bagaimana manusia memperlakukannya. Kalau pencemaran dibiarkan, dampaknya akan terus menumpuk dalam jangka panjang,” ujarnya.
Di akhir aksi, para aktivis kembali menyerukan hal-hal mendasar: mengurangi plastik sekali pakai, memilah sampah dari rumah, dan menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai.
Pesan itu sederhana, namun konsekuensinya panjang. Setiap plastik yang hanyut membawa serta kemungkinan hilangnya kehidupan—ikan yang tak lagi kembali, dan ingatan tentang sungai yang perlahan memudar.
Jika keadaan ini terus berlanjut, ikan-ikan sungai mungkin hanya akan tinggal sebagai gambar di buku pelajaran—bukan lagi sesuatu yang bisa dilihat, apalagi ditangkap, oleh generasi yang akan datang. (Fan)
Editor : Ardhia Tap