Tuntut Stabilkan Harga, Warga Surabaya Padati Taman Apsari

Reporter : M.Iffan Maulana

Tujuhpagi - Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu.
Penggalan puisi Sapardi djoko damono tersebut agaknya cocok menggambarkan kondisi Indonesia pada Juni 2026. Namun, puisi tak mampu mengganti kegelisahan warga. 

Senin (15/4/2026), di Taman Apsari, Surabaya, gema yang mirip itu muncul dari kerumunan warga: protes yang menuntut perubahan atas kenaikan harga BBM, melemahnya nilai rupiah, serta dampak kebijakan yang dinilai menekan kehidupan sehari-hari.

Aksi bertajuk Rakyat Suarabaya Menggugat diikuti berbagai lapisan masyarakat. Mereka berkumpul menghadap pagar berduri yang melingkari Gedung Grahadi, menyampaikan tuntutan kesejahteraan, mulai dari keberatan atas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai membuang anggaran hingga sorotan mengenai kasus-kasus kriminalisasi terhadap pihak-pihak yang dinilai bersikap kritis.

(Foto: M.iffan)


Doa di Tengah Beban: Mengaitkan Kini dan 1998

Di antara massa, Prana—mahasiswi dari perguruan tinggi negeri di Surabaya—berdiri di hadapan barisan untuk membacakan doa Bapa Kami. Dalam doa dan pernyataannya, Prana menghubungkan situasi yang terjadi saat ini dengan tahun 1998, ketika banyak masyarakat kecil disebut masih hidup dalam kesulitan.

“Situasi yang terjadi pada tahun 1998 tidak jauh berbeda dengan kondisi sekarang, di mana masih banyak masyarakat kecil yang hidup dalam kesulitan, sementara sebagian pihak yang berada di pemerintahan dapat hidup berkecukupan dan melakukan apa saja yang mereka inginkan.” Ujar Prana.

Prana mengatakan harga kebutuhan sehari-hari makin meroket, terutama bagi kantong mahasiswa perantauan. Ia menyebut makanan hingga biaya transportasi turut naik, termasuk biaya layanan seperti Gojek dan Grab, sehingga pengeluaran harian menjadi lebih mahal.

(Foto: M.iffan)

“Sebagai mahasiswa, saya paling merasakan dampak dari kenaikan harga kebutuhan sehari-hari. Mulai dari makanan hingga biaya transportasi seperti Gojek dan Grab ikut naik, sehingga hampir seluruh biaya hidup menjadi lebih mahal.” Ujar Prana.

Kopi Keliling dan Sembako: Ketika Harga Menentukan Tenaga

Di tengah deretan tuntutan, Ike Wijayanti yang berprofesi sebagai penjual kopi keliling menyampaikan keluhannya. Ia menilai kenaikan harga sembako membuatnya semakin sulit mencari rezeki, karena pendapatan tidak selalu seiring dengan lonjakan kebutuhan pokok.

“sembako sekarang harganya Rp15.000 itu buat saya susah.” Ujar Ike.

Ike menilai, pemerintah sebenarnya mendengar aspirasi masyarakat, tetapi tidak meresponsnya. Ia mengatakan banyak persoalan sudah menjadi berita dan viral di berbagai media, sehingga ia sulit membayangkan sikap seolah tidak mengetahui keadaan yang sedang berlangsung.

Dalam penutup pernyataannya, Ike menyampaikan harapan agar harga BBM dan kebutuhan pokok diturunkan. Ia menyatakan keluhan itu berasal dari suara rakyat kecil yang merasa semakin tertekan.

“Tolong Pak, kalau seandainya Bapak mendengarkan isi hatinya orang rakyat kecil, tolong. Turunkan harga sembako dan BBM dan lain-lainnya. Turunkan harganya. Jangan dinaikkan. Kasian orang-orang yang enggak punya apa-apa.” Tegas Ike.

(Foto: M.iffan)

Tuntutan Kehidupan Layak dan Kebijakan Berpihak pada Rakyat

Aksi berlangsung dengan teriakan tuntutan dan doa yang mengiringi perjalanan massa di Taman Apsari menuju Gedung Grahadi. Di balik berbagai slogan, pesan yang disampaikan sederhana: kehidupan yang lebih layak, serta kebijakan yang berpihak pada rakyat.

Warga berharap suara yang dibawa ke ruang publik tidak berhenti sebagai gema sesaat. Mereka menunggu langkah nyata dari pemerintah agar beban ekonomi yang kini dirasakan banyak kalangan bisa memperoleh solusi. (Fan)

Editor : Ardhia Tap

Liputan
Berita Populer
Berita Terbaru