TUJUHPAGI - Kita sering mencampuradukkan tari dan dance. Tari modern disebut dance. Sanggar tari disebut dance studio. Tidak ada yang merasa sedang melakukan kesalahan. Bahasa memang selalu bergerak. Ia mengikuti zaman, seperti tubuh mengikuti irama.
Namun, ada satu hal yang menarik jika kita menengok ke masa kolonial Hindia Belanda: bangsa Eropa datang membawa banyak hal—bahasa, pakaian, tata ruang, gaya hidup, juga kebiasaan berdansa. Tetapi seni gerak tubuh Nusantara tidak ikut berganti nama.
Baca juga: Dari Kalender Lokal ke Masehi: Sejarah Penyeragaman Waktu di Indonesia
Ia tetap disebut tari, bukan dansa.
Di situlah sejarah kecil ini menjadi menarik. Sebab bertahannya kata tari bukan semata-mata urusan kosakata. Di baliknya ada jarak sosial, perbedaan pandangan tentang tubuh, serta kemampuan kebudayaan lokal untuk menerima pengaruh asing tanpa kehilangan namanya sendiri.
Dansa di Balik Pintu Societeit
Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, dansa hidup di ruang-ruang yang tidak terbuka untuk semua orang.
Di Batavia, ada Societeit de Harmonie. Di Surabaya, ada Societeit Simpang. Dalam Jurnal Laras Aulia Mukti dan Wisnu dari Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang berjudul Komunitas Elite Eropa Di Surabaya Tahun 1870-1942, Societeit (atau sering disebut soos) adalah perkumpulan sosial serta bangunan tempat berkumpulnya kalangan elite pada masa kolonial Belanda.
Gedung-gedung itu bukan sekadar tempat orang menari. Ia adalah ruang pergaulan kaum Eropa, tempat orang bertemu, berbincang, membangun jaringan, bahkan melakukan lobi politik.
Di bawah lampu kristal dan diiringi musik dari negeri jauh, dansa menjadi tanda kelas sosial.
Siapa yang boleh masuk ke dalamnya? Bukan sembarang orang. Kaum bumiputra umumnya berada di luar pagar. Hanya sebagian kecil elite priyayi yang memperoleh kesempatan untuk bergaul dalam lingkungan Eropa.
Kolonialisme memang menciptakan pertemuan. Tetapi pertemuan itu tidak selalu berarti percampuran.
Ada tembok yang membatasi. Ada aturan yang tidak tertulis. Ada ruang untuk penguasa dan ruang untuk yang dikuasai.
Akibatnya, dansa tumbuh sebagai kebudayaan kaum elite kolonial. Sementara itu, tari, joget, tandak, dan berbagai kesenian gerak Nusantara terus hidup di alun-alun, balai desa, pelataran keraton, dan ruang-ruang komunal milik masyarakat.
Dansa berada di balik pintu Societeit. Tari tetap berjalan di tengah rakyat.
Tubuh yang Berbeda Cara Berbicara
Perbedaannya bukan hanya pada tempat. Tari Nusantara dan dansa Eropa juga lahir dari cara pandang yang berbeda terhadap tubuh, ruang, dan hubungan manusia dengan alam.
Prof. R.M. Soedarsono menjelaskan bahwa tari tradisional Indonesia memiliki beragam fungsi: ritual keagamaan, hiburan masyarakat, dan pertunjukan estetis di lingkungan istana.
Dalam banyak tradisi Nusantara, tubuh tidak sekadar dipakai untuk menghasilkan gerakan yang indah. Tubuh menjadi bagian dari hubungan yang lebih besar—hubungan manusia dengan leluhur, alam, masyarakat, dan kekuatan yang dipercaya berada di luar dirinya.
Gerak menunduk dapat berarti penghormatan. Langkah yang perlahan dapat berarti pengendalian diri. Posisi tubuh yang merendah dapat menunjukkan bahwa manusia bukan pusat dari seluruh semesta.
Dalam kebudayaan Jawa, misalnya, kehalusan gerak bukan berarti kelemahan. Ia adalah disiplin. Ia adalah cara tubuh berbicara tanpa suara.
Dansa Eropa membawa tata pergaulan yang lain. Ia berkembang sebagai tari sosial: dilakukan berpasangan, mengikuti irama musik, dan dalam banyak bentuk melibatkan kedekatan fisik antara laki-laki dan perempuan.
Di ruang dansa, tubuh bergerak dalam hubungan yang lebih personal. Di banyak ruang tari Nusantara, tubuh bergerak sebagai bagian dari upacara, cerita, kelompok, atau tatanan simbolik.
Tentu saja, perbedaan itu tidak bisa dibuat terlalu sederhana. Tari Eropa juga memiliki tradisi ritual dan pertunjukan. Tari Nusantara pun memiliki bentuk hiburan dan pergaulan. Tetapi pada masa kolonial, dansa dan tari hadir dalam lingkungan sosial yang berbeda. Masing-masing membawa aturan tubuhnya sendiri.
Karena itu, masyarakat Nusantara tidak merasa perlu mengganti semua tari dengan istilah dansa. Namanya tetap tari karena dunia maknanya memang berbeda.
Ketika Bahasa Memilih, Bukan Sekadar Menerima
Bahasa Melayu, yang kelak berkembang menjadi bahasa Indonesia, tidak sepenuhnya menolak istilah asing.
Kata dansen masuk dan berubah bunyi menjadi dansa. Namun, maknanya tidak dibiarkan melebar ke mana-mana. Dalam bahasa Indonesia, dansa lebih sering merujuk pada tari pergaulan gaya Barat yang dilakukan berpasangan.
Sementara itu, tari tetap menjadi kata yang lebih luas. Ia mencakup tari tradisional, tari klasik, tari kreasi baru, tari modern, hingga berbagai bentuk seni gerak yang tumbuh dari pengalaman masyarakat Indonesia.
Di sini terlihat bahwa bahasa tidak bekerja seperti kain yang hanya menyerap semua warna dari luar. Bahasa juga bisa memilih. Ia menerima satu unsur, tetapi menempatkannya di rak yang berbeda.
Dansa diterima. Tetapi tidak diberi kuasa untuk menggantikan tari.
Nusantara Bukan Ruang Kosong
Kajian Edi Sedyawati tentang seni pertunjukan Nusantara menunjukkan bahwa masyarakat lokal bukanlah penonton pasif dalam sejarah kebudayaan.
Nusantara telah memiliki tradisi seni yang panjang sebelum kedatangan bangsa Eropa. Relief candi, naskah kuno, pertunjukan rakyat, tradisi keraton, dan upacara adat menunjukkan bahwa masyarakat kepulauan ini telah mengenal berbagai bentuk musik, gerak, drama, dan ritual.
Karena itu, ketika unsur asing datang, yang terjadi bukan selalu penaklukan.
Sering kali yang terjadi adalah penyaringan.
Ada yang diterima karena dianggap sesuai. Ada yang diubah agar dapat hidup di lingkungan baru. Ada pula yang dibiarkan tetap menjadi milik pendatang.
Itulah yang dalam kajian kebudayaan sering disebut sebagai local genius: kemampuan suatu masyarakat untuk mengolah pengaruh luar tanpa kehilangan pusat kepribadiannya.
Kata dansa adalah salah satu contoh kecilnya. Ia masuk ke dalam bahasa kita, tetapi tetap membawa alamat asalnya. Sedangkan tari tetap tinggal sebagai rumah besar bagi seni gerak Nusantara.
Kata yang Menyimpan Kedaulatan
Pada akhirnya, kisah tari dan dansa bukanlah cerita tentang kata mana yang lebih baik. Ini adalah cerita tentang bagaimana kebudayaan mempertahankan batasnya.
Kolonialisme dapat menguasai pemerintahan. Dapat mengatur perdagangan. Dapat membentuk sekolah, jalan, kantor, dan tata kota. Tetapi pengaruh budaya tidak selalu berjalan lurus dari penguasa kepada yang dikuasai.
Ada hal-hal yang diterima. Ada yang diubah. Ada pula yang tetap dipertahankan. Kata tari adalah salah satunya.
Ia bertahan bukan karena Nusantara menutup diri dari dunia luar. Justru karena Nusantara cukup percaya diri untuk berhubungan dengan dunia luar tanpa harus menanggalkan seluruh identitasnya.
Dansa boleh datang membawa musik dan tata pergaulan Eropa.
Tetapi tari Nusantara tetap berpijak pada tanahnya sendiri.
Sebab sebuah bangsa tidak selalu menunjukkan kedaulatannya melalui perlawanan besar. Kadang-kadang, kedaulatan itu bertahan dalam kata yang terus dipakai sehari-hari.
Satu kata. Tari.
Dan dari kata itulah, kita tahu: tidak semua yang datang bersama penjajahan berhasil mengambil alih cara sebuah bangsa menggerakkan tubuh, mengingat sejarah, dan menyebut dirinya sendiri. (Kur)
*Diolah dari berbagai sumber
Editor : Redaksi