TUJUHPAGI - Hari Buruh tidak lahir sebagai perayaan. Ia tumbuh dari kelelahan yang menumpuk, dari tubuh-tubuh yang dipaksa bekerja melampaui batas manusia. Pada awal abad ke-19, ketika mesin-mesin mulai berdengung di Eropa dan Amerika, manusia justru seperti kehilangan dirinya sendiri. Waktu dirampas: 19 jam, bahkan 20 jam sehari, dihabiskan di ruang-ruang kerja yang pengap. Upah kecil, hidup sempit, dan masa depan terasa seperti lorong tanpa cahaya.
Namun tubuh yang lelah tidak selalu diam. Ia belajar melawan.
Baca juga: Hari Buruh Surabaya, Suara yang Tak Pernah Selesai Diperjuangkan
Di Amerika, para pekerja mulai berhenti bekerja—sebuah tindakan sederhana yang menjelma menjadi perlawanan. Tahun 1806 mencatat mogok pertama, bukan sekadar soal upah, tapi soal martabat. Dari sana, lahir satu tuntutan yang terdengar begitu manusiawi sekaligus radikal: delapan jam bekerja, delapan jam beristirahat, delapan jam menjadi manusia.
Nama-nama seperti Peter McGuire dan Matthew Maguire muncul bukan sebagai pahlawan tunggal, melainkan sebagai suara dari kegelisahan kolektif. Mereka mengorganisasi, mengganggu ketertiban yang sebenarnya tidak adil sejak awal. Mereka mengusulkan satu hari untuk para pekerja—hari di mana buruh tidak hanya bekerja, tapi diingat.
Lalu datang 1 Mei 1886 di Chicago. Jalanan dipenuhi manusia. Sekitar 400 ribu buruh turun, membawa tuntutan yang sama: waktu yang lebih adil untuk hidup. Tapi sejarah sering kali ditulis dengan darah. Tembakan dilepaskan. Tubuh-tubuh jatuh. Para pemimpin dihukum mati. Dan sejak itu, mereka tidak hanya dikenang sebagai korban, tetapi sebagai martir—penanda bahwa keadilan sering menuntut harga yang tidak kecil.
Dari tragedi itu, dunia belajar mengingat. Tahun 1889, 1 Mei ditetapkan sebagai Hari Buruh Internasional. Sejak 1890, ia dirayakan di berbagai penjuru dunia—kadang dengan gegap, kadang dengan tekanan, tapi selalu dengan ingatan bahwa hak tidak pernah datang tanpa perjuangan.
Di Indonesia, gema itu sampai pada 1920. Hari Buruh mulai diperingati, menjadi bagian dari kesadaran bahwa kerja bukan sekadar kewajiban, melainkan juga hak. Di tempat lain, seorang anak bernama Ibarruri Aidit menyaksikan perayaan Hari Buruh di negeri jauh, lalu mengulanginya saat dewasa di Tiananmen—seolah menunjukkan bahwa ingatan tentang buruh memang melampaui batas negara.
Namun sejarah tidak selalu berjalan lurus. Di masa Orde Baru, Hari Buruh menghilang dari ruang publik. Ia dicurigai, disempitkan maknanya, bahkan ditakuti. Kata “buruh” sendiri seperti kehilangan tempatnya, seolah ia membawa bayang-bayang yang tidak diinginkan. 1 Mei bukan lagi hari libur, bukan lagi hari ingatan.
Tapi ingatan, seperti luka, tidak benar-benar hilang.
Setelah 1998, ia kembali muncul. Awalnya pelan—di kampus, di ruang-ruang kecil, di antara mahasiswa dan segelintir suara yang belum lelah. Lalu perlahan membesar. Jalanan kembali dipenuhi. Spanduk dibentangkan. Suara diteriakkan. Buruh, mahasiswa, dan berbagai elemen masyarakat bertemu dalam satu ritme: menuntut.
Dari Jakarta hingga Makassar, dari Bandung hingga Medan, May Day berubah menjadi peta yang hidup. Long march, orasi, dan nyanyian perjuangan mengisi kota-kota. Kekhawatiran akan kekacauan tidak pernah benar-benar terbukti. Yang ada justru ketegangan lama—antara suara rakyat dan cara negara mendengarnya.
Namun waktu juga mengubah banyak hal. Aksi-aksi tetap berlangsung, tuntutan semakin terarah: jaminan sosial, kesejahteraan, keadilan kerja. Bahkan ada saat ketika aparat dan buruh saling mengakui—bahwa demonstrasi tidak selalu berarti kekacauan.
Dan akhirnya, pada 2013, negara seperti mengingat kembali sesuatu yang lama dilupakan. 1 Mei diputuskan menjadi hari libur nasional, mulai berlaku 2014. Sebuah pengakuan yang datang terlambat, tapi tetap berarti.
Hari Buruh, pada akhirnya, bukan sekadar tanggal. Ia adalah ingatan panjang tentang manusia yang menolak diperlakukan sebagai alat. Ia adalah cerita tentang waktu yang direbut kembali, tentang tubuh yang memilih berdiri, tentang suara yang, meski pernah dibungkam, selalu menemukan jalan untuk kembali terdengar. (Nik)
Editor : Ardhia Tap